Satu Malam Musim Panas di Nara (1)

0
10

Nara adalah salah satu destinasi populer di Jepang. Namun, masih banyak agen perjalanan Indonesia yang tidak memasukkannya dalam itinerary wisata-Jepang. Kebanyakan kita hanya kenal Tokyo, Kyoto atau Osaka.

Padahal, bicara soal budaya dan sejarah Jepang, tidak mungkin melewatkan Nara. Kota ini sempat lama menjadi ibukota kekaisaran. Ada banyak peninggalan sejarah disini.

Tak hanya itu, di jalan-jalan Nara kita bisa menjumpai rusa Jepang yang lucu dan ramah. Terutama di sekitar Taman Nara, serta Kuil Todaiji dan Kasuga Taisha. Nara juga dekat dengan Kyoto, jadi tidak rugi bila sekalian dikunjungi.

Itu adalah tiga alasan saya mengunjungi Nara pada musim panas 2018. Berpergian mandiri bersama sepupu yang sama-sama masih muda, saya mantap memasukkan Nara ke dalam itinerary. Walau hanya semalam dari delapan hari liburan kami di Jepang.

Dan… semalam di Nara itu benar-benar jadi highlight.

Kami berangkat dari Tokyo ke Nara menggunakan kereta cepat shinkansen. Kurang lebih dua jam kami sampai stasiun Kyoto, kemudian menggunakan jalur Kintetsu untuk perjalanan ke Nara selama hampir satu jam.

Begitu tiba, kami langsung menuju guesthouse yang sudah dipesan sebelumnya. Letaknya cukup dekat dari stasiun. Sepanjang jalan ke penginapan, kami melewati gang-gang kecil nan bersih. Ada banyak tempat makan, minimarket dan toko kecil yang rapi. Saya hampir tergoda untuk langsung mampir.

Guesthouse kami menginap bernama Haruya Naramachi. Umurnya lebih dari 100 tahun dengan penampakan sederhana namun cantik. Seperti rumah-rumah kuno Jepang, kebanyakan interiornya terbuat dari kayu.

Halamannya ada taman khas zen Jepang. Sebatang pohon sakura tegak berdiri dan pasti cantik sekali bila musim semi. Di depannya berjejer sepeda yang boleh dipakai gratis oleh tamu penginapan.

Baca juga:  Membaca Marie Kondo dan Membuang Bukunya

Kami disambut pengurusnya, perempuan muda yang super ramah. Bahasa Inggrisnya terbatas, tapi kami cukup mengerti apa yang dimaksud. Ia juga menyuguhi welcome drinks, berupa teh dan kue manis khas Jepang.

Begitu masuk, kesannya ‘Jepang banget’. Rumah kecil, cenderung sempit, tapi langit-langitnya tinggi. Jadi hawanya tidak sumpek. Ruangan tetap sejuk meski musim panas sangatlah terik.

Di tengah ruangan ada sumur tua. Airnya bisa diminum. Karena ini rumah klasik, lantainya semua dari kayu dan kamar menggunakan tikar tidur (tatami). Mirip kamarnya Nobita di manga Doraemon.

Pengurus penginapan membekali kami peta buatan tangan. Isinya area sekitar guesthouse, dilengkapi info objek wisata serta toko dan restoran. Kami meminjam sepeda untuk berkeliling Nara. Keputusan ini, walaupun seru, ternyata sangat melelahkan karena kontur kota agak berbukit… **HW