Press "Enter" to skip to content

Seputar Covid-19

Pembicaraan mengenai Covid-19 mendominasi pemberitaan dua minggu terakhir. Namun, tak jarang informasi yang jelas dan diperlukan terlewat. Beberapa istilah dan pembedaan konsep pun terkadang dipakai tanpa terlalu banyak ditelaah dan dipahami. Tak ada salahnya jika kita dapat memperjelas beberapa informasi terkait topik ini.

Penamaan
Coronavirus adalah nama untuk keluarga virus yang menulari mamalia dan unggas. Jadi bukan hanya mengacu pada satu jenis virus. Ada lebih dari 20 spesies virus ini, mulai dari yang sekedar menyebabkan flu ringan pada manusia, hingga kasus yang cukup mematikan seperti pada virus SARS (Severe acute respiratory syndrome) dan virus MERS (Middle East respiratory syndrome) yang sempat mewabah beberapa tahun lalu.

Yang terjadi di Wuhan, Tiongkok adalah muncul spesies baru, varian virus SARS. Awalnya virus ini hanya disebut sebagai virus corona baru 2019 (2019 novel coronavirus, 2019-nCoV). Baru setelah memastikan genusnya dari virus SARS, WHO memberi nama resmi SARS-Cov-2. Virus inilah yang menyebabkan wabah yang kini kita kenal sebagai Penyakit coronavirus 2019, Coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Jadi perlu diperhatikan jika kita mengacu pada penyakitnya, namanya adalah Covid-19. Sedangkan jika mengacu pada virusnya, namanya SARS-Cov-2. Sebutan virus Wuhan atau virus Cina (Chinese virus), seperti dibiasakan sebagian orang, tentu kurang tepat.

Status Pandemi
Covid-19 bukan lagi sekedar epidemi (Yunani epi: di atas atau pada; demos: orang banyak/rakyat), dalam pengertian wabah penyakit yang sangat pesat penularannya di satu wilayah. WHO telah menetapakan statusnya sebagai pandemi (pan : seluruh/semua), yaitu epidemi yang mengenai hampir seluruh wilayah dunia.

Contoh terbesar soal pandemi adalah Black Death yang membunuh 75-200 juta orang di abad ke-14, dan mencakup wilayah Eropa dan Asia. Tentu saja, tidak semua pandemi harus memakan korban sebesar itu. Kasus flu Spanyol tahun 1918 dan flu H1N1 tahun 2009 (flu burung) adalah juga pandemi.

Baca juga:  Ekonomi yang Tumbuh dan Turun Saat Pandemi Covid-19

Pembatasan Interaksi Fisik
Saat pandemi, penting sekali melakukan pembatasan interaksi fisik. Tingkat yang paling awal dilakukan pada individu. Mereka yang sakit diwajibkan ada dalam isolasi. Tujuannya agar tidak menyebarkan penyakit. Orang yang pernah berkontak namun masih terlihat sehat, perlu mengkarantina diri, untuk membatasi penyebaran selagi mereka belum dipastikan negatif statusnya terhadap virus.

Biasanya pembatasan interaksi secara personal diterapkan pada beberapa kelompok orang. Dalam kasus Covid-19 di Indonesia misalnya, pemerintah membaginya ke dalam empat grup:

  1. Orang dalam pemantauan (ODP) yaitu mereka yang memiliki riwayat bepergian ke wilayah yang terjangkit Covid-19 atau melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. ODP memang belum menunjukkan gejala terinfeksi virus. Mereka diharuskan mengkarantina diri selama 14 hari sejak pulang atau terakhir berkontak.
  2. Pasien dalam pemantauan (PDP) adalah orang yang menunjukkan gejala Covid-19 seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas. Pasien dengan kategori PDP perlu mendapatkan pengawasan dari tenaga medis serta menjalani isolasi.
  3. Jika PDP ini punya riwayat perjalanan ke wilayah terjangkit atau kontak dengan penderita, mereka disebut sebagai Suspect. Mereka harus menjalani isolasi dan sebaiknya segera melakukan tes Covid-19.
  4. Pasien yang didapati positif terjangkit Covid-19 akan segera ditangani secara khusus dalam ruang isolasi sampai sembuh. Jika pasien wafat, penanganan jenazahnya pun harus dilakukan secara hati-hati guna mencegah penularan. Mengingat sarana utama penularan Covid-19 adalah lewat cairan tubuh.

Saat penyebaran meningkat, perlu menerapkan social distancing. Bentuknya menjauhi kerumunan atau pertemuan yang besar dan menjaga jarak fisik antar orang. Ini akan mengurangi laju penularan serta melindungi mereka yang rentan terhadap penyakit. Kondisi inilah yang sekarang diterapkan di Indonesia.

Tingkat yang lebih serius adalah lockdown, yaitu menutup akses keluar-masuk wilayah yang terjangkit penyakit. Kondisi ini mencegah penyebaran yang lebih luas, serta memfokuskan sumber daya penanganan untuk satu wilayah. Untuk kasus Covid-19, saat ini Italia dan Malaysia telah menerapkan lockdown. **RS

Baca juga:  Kata Facebook: Netizen Indonesia Paling Demen Konten Terkait Selebriti

Foto: Pixabay

Bagikan