Robert Ramone untuk Alam dan Budaya Sumba

Berbekal kamera hadiah sepupunya, Pater Robert Ramone, CssR, belajar fotografi secara otodidak. Dalam berbagai kesempatan ia mengabadikan kegiatan adat Pulau Sumba.

Ia juga memotret keindahan alam Sumba, mulai dari pantai, air terjun, hingga padang sabana. Lambat laun, hasil jepretannya diketahui dan dinikmati banyak orang. Ia beberapa kali mengadakan pameran foto.

Foto karya Pater Robert sudah banyak dikoleksi dalam kartu pos, album kumpulan foto, dan brosur wisata. Bahkan salah satu hasil bidikannya, yakni dokumentasi kegiatan adat pemakaman khas budaya Sumba, ditampilkan oleh National Geographic.

Melampaui sekedar hobi foto, rohaniwan dari konggregasi Redemptoris ini ingin agar kehidupan masyarakat Sumba tetap selaras dengan alam dan budaya. Aktivitas ekonomi yang dilakukan manusia tidak harus mengorbankan alam dan budaya.

Manusia tetap dapat berkolaborasi dengan alam dan budaya saat menjalani pekerjaan dan hidup sehari-hari. Hal inilah yang ingin ditunjukkannya bagi masyarakat Sumba, Indonesia, dan dunia.

Karena berbagai upaya ia rintis, banyak orang dari baik dalam maupun luar negeri yang tertarik untuk datang dan menikmati langsung keindahan Pulau Sumba.

Banyak juga yang tergerak memberikan donasi, baik untuk pelestarian budaya, maupun aktivitas hidup masyarakat. Pater Robert membantu menyalurkan bantuan mereka ke berbagai sanggar maupun komunitas masyarakat adat di Pulau Sumba.

Walau sudah banyak melakukan pameran di dalam maupun luar negeri, Pater Robert tidak berpuas diri. Ia mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba yang bertujuan untuk menyimpan, melestarikan, dan mengembangkan budaya dan alam Pulau Sumba. Museum kembar yang dibangunnya berhadapan ini, menjadi tempat menyimpan berbagai peninggalan budaya Sumba.

Rumah budaya ini turut memamerkan berbagai hasil jepretan alam dan budaya Sumba. Disini juga dilakukan kegiatan sanggar dan pentas seni budaya. Terdapat beberapa relawan yang rutin melatih anak-anak Sumba mengembangkan bakat seni musik dan tarinya.

“Masyarakat Sumba harus kritis pada budayanya sendiri,” ucap Pater Robert.

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa Sumba dan berbagai daerah lainnya di Indonesia memiliki kekayaan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri. Tanggung jawab ini menjadi perjuangan kita bersama, bukan tugas orang ataupun masyarakat dari negara lain. **SMP

Ilustrasi: mediaindonesia

 

 12 ,  1 

fokal

About fokal

Ini cerita kita.