Perempuan yang Keluar dari Batas-batas Normatif

“For the most of history, Anonymous was a woman.” – Virginia Woolf

Saat ini, mungkin kita tidak terlalu sulit menemukan tokoh perempuan yang kutipannya dikenal luas. Cukup banyak perempuan yang berani menyatakan opini, bahkan mengkritik kebijakan dan kebiasaan yang berlaku di sekitar mereka.

Kebebasan untuk berpendapat bukan satu-satunya kenikmatan yang dirasakan kaum perempuan masa kini. Kebebasan untuk bermimpi dan sukses menggapai cita-cita juga sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sri Mulyani, Ayu Utami, Malala, Oprah Winfrey, Hilary Clinton hanya sedikit dari banyak nama perempuan yang menginspirasi lewat karya masing-masing.

Melihat perempuan-perempuan sukses di masa kini, mudah rasanya memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah. Kita kerap lupa, bagaimana sulitnya dulu perempuan menggapai apa yang mereka cita-citakan.

Perempuan biasanya dianggap tidak perlu bersekolah. Mereka yang mendapat kemewahan bersekolah pun biasanya tidak diharapkan untuk berkarir sendiri.

Lewat proses panjang, batas-batas yang dulu mengungkung perempuan telah terbuka. Tetapi apakah perempuan sudah benar-benar menyadari kemudahan yang tersedia bagi mereka? Apa yang seharusnya dilakukan para perempuan dengan fasilitas yang mereka miliki saat ini?

Bagaimana dengan perempuan yang masih terbentur dinding batas dalam perjalanan mereka keluar? Tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga dan keterbatasan-keterbatasan lainnya mungkin dialami oleh kaum perempuan secara pribadi di lingkungan masing-masing.

Keluar dari batas-batas yang mengungkung tidak harus diidentikkan dengan melakukan hal-hal besar dan menjadi orang yang mendunia. Esensi dari konsep ini adalah memaksimalkan diri dengan tujuan memenuhi panggilan hidup yang dimiliki.

Kesempatan bersekolah, akses terhadap media, terbukanya peluang bergaul dengan banyak orang, semua dapat dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas diri dan akhirnya mendekatkan diri pada pencapaian cita-cita.

Keluar dari ruang batas diawali dari menolak pikiran yang menyusun sekat-sekat pembatas. Seringkali kita tidak menyadari, bahwa batas-batas yang kita pikir ada hanya membutuhkan perubahan pola pikir untuk dirubuhkan. Kita sering terjebak dalam asumsi, menyerah pada keadaan, dan lalai mencari solusi kreatif yang memungkinkan kita melakukan lebih besar dari yang kita bayangkan.

Banyak contoh perempuan yang berhasil keluar. Mereka tak hanya merubuhkan batas yang dibuat oleh khalayak umum. Tak jarang batas yang dihadapi ada di dalam dirinya sendiri. Perjuangan yang mereka lakukan pun seringkali tidak konvensional, membutuhkan keberanian dan kreativitas yang besar.

Kisah-kisah mereka akan menginspirasi kita. Namun, kita tentu tidak ingin hanya berhenti pada tahap terinspirasi. Keputusan melangkah keluar bergantung pada diri kita masing-masing. **ERS

Ilustrasi: pixabay

 37 ,  7 

fokal

About fokal

Ini cerita kita.