Press "Enter" to skip to content

Bilangan Fu: Kritik Bagi Pemuja Monoteisme

Cara Ayu Utami bertutur di Bilangan Fu boleh dikatakan asing. Memang tetap ada kisah cintanya. Namun, kisah cinta ini agak unik, kalau tidak kita sebut ‘aneh’, dan misteri.  Ini kisah tiga orang pemanjat tebing.

Yuda, sebelum bertemu Parang Jati, selalu melakukan “pemanjatan kotor” yang justru merusak alam. Ia hanya melihat pemanjatan sebagai penaklukan dan unjuk kekuatan semata. Marja, kekasih Yuda, yang dalam perjalanannya juga terikat kisah cinta dengan Parang Jati. Marja agak aleman tapi juga memiliki kekuatan yang tak dimiliki pria.

Sedangkan Parang Jati adalah seorang pemuda berjari tangan dua belas, yang sangat menghormati keragaman. Di novel ini, Parang Jati banyak mengutip khotbah Yesus di bukit. Ia mengerti benar bahwa agama-agama lokal justru memiliki nilai memelihara alam ketimbang klaim kaum monoteis yang dogmatik dan cenderung abai pada lingkungan hidup.

Parang Jati tidak membuat agama baru. Namun ia, bersama Yuda dan Marja, menggagas sebuah ide yang disebut sebagai laku kritik atau spiritualitas kritik. Ia menamainya sebagai Neo-Kejawen.

Parang Jati kemudian memperkenalkan Yuda pada praktik ‘pemanjatan bersih’, yang tidak merusak alam serta tidak merusak jalur bagi pemanjat lainnya.

Klimaks konflik di novel terlihat saat Parang Jati harus berseberang dengan adik kandungnya, Kupu. Kupu memuja monoteisme dengan begitu fanatik. Hingga akhirnya Parang Jati harus kehilangan nyawa, karena pandangannya tentang Tuhan yang satu tak sejalan dengan Kupu.

Kita dibuat tersenyum geli membayangkan Kupu beserta laskar para pengikutnya, berkostum persilangan antara harajuku Samurai X dengan Pangeran Diponegoro.



Novel ini mengajarkan pada kita bahwa kebenaran adalah future-tense, sedangkan kebaikan adalah saat ini. Tak satu manusia layak mengklaim kebenaran yang mutlak dan misteri itu. Sayangnya Tuhan yang kita kenal dalam angka satu ternyata telah kehilangan kemisteriusan-Nya, kemahaanNya, karena manusia telah membatasi-Nya di angka satu.

Baca juga:  Ichiyo: Perempuan Berprinsip Menari Bersama Nasib

Angka nol dalam novel ini justru diangkat sebagai angka yang lebih dekat dengan ketakberhinggaan Tuhan. Keinginan pemuja monoteisme memutlakkan kebenaran, dengan cara mempersetankan atau mempersesatkan pihak yang tak sejalan, justru adalah pemerkosaan spiritualitas. Birahi untuk berkuasa atas yang lain.

Novel ini tetap kontekstual dengan kondisi bangsa kita sekarang. Mengingat identitas keagamaan monoteis, disertai kemarahan terhadap yang lain, justru makin kental. Bilangan Fu mengajak kita bertanya:

“Apakah dengan percaya Tuhan Yang Satu itu, saya masih bisa menggunakan sikap kritis untuk menyangga kebenaran atau justru mengambil sikap taken for granted untuk menguasai, memperkosa dan memutlakkan kebenaran – yang misterius itu?”

Judul: Bilangan Fu
Penulis:  Ayu Utami Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia, 2008
Tebal: 536 halaman

Foto: Resensiriri