Animal Farm: Rakus Pada Akhirnya Menjijikkan

Animal Farm sudah sangat terkenal. Novela karya George Orwell ini telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan telah diadaptasi dalam bentuk film animasi, drama radio, pementasan teater hingga komik. Tentu sejumlah hal terkait buku ini sudah amat lazim diketahui.

Ya, buku ini adalah sebuah alegori tentang revolusi Rusia. Ya, ini adalah kritik George Orwell terhadap Stalin dan Stalinisme. Jika ingin tahu lebih lanjut tentang itu rasanya tinggal mengetik “George Orwel Animal Farm” di mesin pencari atau di wikipedia, langsung semua bahasan itu tersaji.

Saya lebih tertarik untuk mengulas tentang bentuk, simbolisasi dan kenapa, menurut saya, buku ini merupakan karya klasik. Animal Farm sangat jauh berbeda dengan novel 1984, yang juga karya Orwell.

Bila 1984 adalah novel yang dijadikan tugas resensi kepada, paling tidak, siswa SMA, maka buku ini lebih mirip dongeng yang dibacakan kepada anak sebelum tidur.

Animal Farm dapat dibaca dalam satu dua hari, terbilang ringan. Kenapa berbentuk fabel dan novelet adalah tetap misteri buat saya. Apakah Orwell bermaksud membuat buku ini semudah mungkin dicerna? Ataukah ia bermaksud memadukan antara seni bercerita dan sebuah alegori? Jika memang itu maksudnya, maka saya merasa dia sangat berhasil.

Tema sentral buku ini adalah hewan dan dinamika “politik” mereka. Sejak awal saya sudah bertanya-tanya kenapa Orwell membuat simbolisasi kelas pekerja sebagai hewan sedangkan para kapitalis sebagai manusia? Apakah hanya karena manusia mengeksploitasi hewan? Kenapa babi ia pilih sebagai simbol kelas pekerja yang intelek? Padahal kita tahu babi adalah hewan yang rakus.

Apakah Orwell bermaksud menyindir bahwa para intelek yang memandang dirinya bisa memimpin rakyat itu sama seperti babi: rakus dan pada akhirnya menjijikan?

Rasanya kita rakyat Indonesia ini cukup familiar dengan sifat-sifat ini dan pada siapa itu melekat bukan? Banyak sekali simbol-simbol lain di buku ini, kelinci yang berkepala kosong atau permainan kata, dalam versi inggris, seperti raven (gagak) yang mirip dengan reverend (pendeta).  Buat saya, menerka-menerka hewan apa sebagai simbol apa dalam kehidupan nyata adalah nilai tambah buku ini.

Dua alasan di atas saja sudah cukup bagi saya untuk memandang buku ini sebagai karya klasik, yang bisa disejajarkan dengan “Lelaki Tua dan Laut” karya Ernest Hemingway.

Namun jika menurut pembaca dua alasan tidak cukup, maka pertimbangkanlah bahwa dengan membaca buku ini kita bisa sedikit mengetahui sejarah revolusi Rusia dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Seperti kita dapat mengetahui sejarah pembentukan nasionalisme di indonesia dari tetralogi Pulau Buru-nya Pram. **BDL

Ilustrasi: Animal Farm

 

 26 ,  10 

fokal

About fokal

Ini cerita kita.