Anak-anak Revolusi

Di era Orde Baru, jargon “atas nama pembangunan” sering menjadi legitimasi untuk menyingkirkan pihak-pihak yang berseberangan dengan Soeharto. Totaliterianisme seperti itu jelas membuat kalangan pro demokrasi gelisah. Kegelisahan itu terasa hingga jelang runtuhnya rezim ini.

Salah satu sosok yang gelisah adalah Budiman Sudjatmiko, individu yang pada akhir masa Orde Baru menjadi sinonim dengan instabilitas dan kekacauan. Puncaknya ia dicap sebagai PKI – sebuah legitimasi untuk mematikan hak politik kala itu.

Kegiatan pria yang akrab dipanggil Iko ini memang membuat gerah penguasa. Mengorganisasi petani berdemonstrasi, mengeluarkan wacana yang bertentangan dengan pemerintah, hingga mendirikan partai politik (Partai Rakyat Demokratik), hal yang haram di era Soeharto.

Kisah yang sebelumnya hanya didapatkan dari omongan mulut ke mulut ataupun dokumentasi mengenai kejatuhan Soeharto, akhirnya dibukukan oleh dirinya sendiri. Anak-anak Revolusi, menceritakan kisah hidupnya dari kecil hingga kehidupannya jelang era reformasi.

Seakan sedang membuat novel, Budiman berkisah mengenai awal hidupnya di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tempat di mana ia mulai mendapatkan kesadaran untuk lebih sensitif atas isu-isu politik, karena kemiskinan yang begitu mendera.

Ceritanya saat duduk di bangku kanak-kanak, hingga menjadi siswa SMA, memberikan sisi lain atas sosok mantan Ketua Umum PRD ini. Keterlibatannya di dunia aktivis juga disajikan dengan cara naratif.

loading…


Memang ada beberapa hal yang mungkin mengganjal ketika membaca Anak-anak Revolusi. Yang pertama adalah pemilihan penuturan cerita yang bolak-balik. Kisah menghadapi rezim Orde Baru diselipkan di tengah-tengah cerita Budiman menempuh studi sejak kecil.

Narasi yang diselipkan ini memang dicetak miring untuk memudahkan pembaca. Tetap saja ada kejanggalan ketika sedang menikmati keluguan bocah asal Majenang, tiba-tiba melompat ke kisahnya ditangkap oleh militer. Barangkali ini adalah pilihan menarik untuk menghindari kebosanan membaca otobiografi. Namun bagi sebagian orang, ini terasa mengganggu alur cerita.

Baca juga:  Bilangan Fu: Kritik Bagi Pemuja Monoteisme

Yang kedua adalah banyaknya kutipan-kutipan, catatan kaki, hingga penjelasan atas berbagai teori filsafat, politik, ekonomi, dan cara mengorganisasi demonstrasi.

Tentu keberatan ini subyektif, karena bisa saja sebagian pembaca justru menyukai tingkat keseriusan seperti ini. Namun limpahan informasi di luar kisah pribadi Budiman, seakan menjadi glorifikasi atas pengetahuan Budiman yang begitu luas. Kasarnya, Budiman ingin ‘menyombongkan’ pengetahuan.

Terlepas dari dua ganjalan itu, Anak-anak Revolusi layak menjadi referensi bagi mereka yang peduli atas kondisi bangsa. Walau belum sefenomenal “Catatan Seorang Demonstran”-nya Soe Hok Gie – kitab suci aktivis kampus – buku ini tetap mumpuni sebagai referensi bagi yang sedang atau telah memasuki dunia pergerakan mahasiswa.

Judul Buku: Anak-anak Revolusi
Penulis: Budiman Sudjatmiko
Jumlah Halaman: 494 Halaman

Ilustrasi: yakusaaa

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.