January 10, 2016

Teknologi Yang Berdampak

10 Flares Twitter 0 Facebook 10 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 10 Flares ×

Jumat (21/8), pukul 8 pagi.

“Jes, besok senin bisa kita bertemu di kampus? Saya mau minta bantuan kamu untuk riset tesis saya.”

“Jes, tolong bantu skripsi saya dong karena kebetulan skripsi saya sesuai bidang keahlian kamu. Kalau bisa kita sharing aja sambil chatting di fb.”

Pesan diatas merupakan pesan dari dosen dan kawan saya. Pesan pertama adalah pesan dari dosen saya sedangkan pesan kedua merupakan pesan dari kawan saya. Saya membalas pesan mereka dengan jawaban “mengiyakan” pesan mereka yang kala itu saya sedang online facebook menggunakan laptop di rumah saya.

Saya kagum hidup di jaman teknologi sosmed (sosial media) yang memudahkan berjejaring dengan orang-orang. Saya bisa berdiskusi melalui sosmed dengan instan dan tidak perlu bertatap muka tanpa butuh keluar biaya yang mahal. Jika ingin berdiskusi beberapa tahun kebelakang tanpa tatap muka, saya harus berdiskusi melalui telepon dengan pulsa yang mahal atau dengan sms dengan batasan karakter huruf dan biaya pengiriman yang mahal.

Awal menggunakan sosmed saya belum mengetahui dan merasakan kegunaan sosmed karena waktu itu hanya mengikuti tren. Ketika menjadi mahasiswa, saya baru merasakan dampak positif ketika menggunakan sosmed. Dosen-dosen pun sering menganjurkan saya berdiskusi melalui chatting sosmed ketimbang melakukan pertemuan (kecuali untuk kepentingan yang darurat). Menghabiskan berjam-jam bersosmed ria untuk berdiskusi mengerjakan tugas dengan kawan-kawan kampus menjadi kebiasaan yang rutin setiap hari.

Kegunaan sosmed lainnya yaitu menggunakan sosmed sebagai penyalur aspirasi dalam meng-update status sosmed. Saya sering menyalurkan aspirasi di sosmed karena saya tahu banyak orang yang melihat aspirasi saya. Saya juga senang melihat kawan-kawan saya yang tidak berani mengemukakan pendapat di luar, mereka bisa menyalurkan pendapatnya di status medsos mereka. Baik itu pendapat dibidang politik, teknologi, dan lain sebagainya.

Berbagai hal positif lainnya banyak ditemukan di sosmed yang tentunya bisa membuat dampak positif juga kepada saya seperti pada awal agustus kemarin. Melihat kawan-kawan saya mengunggah foto-foto wisuda mereka dengan kata-kata ucapan syukur yang membuat saya termotivasi untuk segera menyelesaikan studi secepatnya.

Dari sekian hal-hal positif yang didapat menggunakan sosmed, saya juga melihat celah negatif pada sosial media. Sering kali orang-orang memposting artikel atau status facebook yang berbau sara dari orang lain, kecaman terhadap pemerintah, bahkan hal-hal yang sangat pribadi pun seperti kebencian dia terhadap seseorang, hinaan terhadap kawannya, postingan yang mengajak permusuhan terhadap golongan tertentu, hingga yang sangat sering terjadi adalah cyber bullying. Begitu miris dan sangat memprihatinkan.

Saya masih ingat kasus Florence dengan pendapat negatifnya tentang Yogyakarta yang berisi pendapat-pendapat yang kurang pantas diungkapkan di media sosial. Florence mengungkapkan kekecewaan dia di PATH. Kejadian Florence berawal dari kekecewaan dia di pom bensin akan tetapi dia langsung mengutarakan kekecewaannya terhadap warga Yogyakarta di PATH. Karena kasus tersebut, Florence dikenakan 4 pasal UU ITE yaitu Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 1, dan Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang ITE.

Dampak negatif lainnya yang sangat sering terjadi adalah cyber bullying. Apa itu cyber bullying? Tak butuh waktu lama untuk mencari arti dari arti dari cyber bullying. Menurut infopsikologi.com “perlakuan kasar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, menggunakan bantuan alat elektronik yang dilakukan berulang dan terus menerus pada seorang target yang membela diri (Smith dkk,2008)8. Singkatnya, cyber bullying adalah bully yang dilakukan melalui bantuan internet atau telepon selular berikut piranti-pirantinya secara berulang-ulang dan terus menerus”.

Dari pengertian tersebut, saya seringkali melihat seseorang dibully di medsos hanya karena anak tersebut melakukan kesalahan kecil. Berita di new.detik.com memberitakan kasus di inggris pun setelah melakukan survei lebih dari 1.000 kepala sekolah di wilayah Inggris. The Key, organisasi pendukung manajemen sekolah, menemukan bahwa lebih dari dua pertiga (67 persen) responden mengatakan mereka khawatir tentang kesehatan mental murid mereka. Penyebab 3 kekhawatiran mereka adalah kekerasan dalam rumah tangga, dan cyber bullying.

Terakhir dampak negatif dari sekian banyak dampak negatif yang sedang marak adalah spam konten pornografi. Terakhir kawan saya meminta tolong kepada saya karena dia terjangkit spam virus konten pornografi karena dikhawatirkan banyak orang langsung berpandangan negatif terhadap kawan saya.

Dia selalu memposting konten pornografi berulang kali padahal kawan saya tidak pernah memposting konten tersebut. Hal itu terjadi karena kawan saya ingin mengkritik seseorang yang meng-upload konten tersebut namun kawan saya tidak sadar bahwa konten tersebut mengandung virus spam.

Sosial media banyak memberi manfaat kepada masyarakat namun saya juga menemukan banyak juga masyarakat yang menggunakan hal-hal negatif. Saya mengajak masyarakat agar cerdas menggunakan sosmed. Di Indonesia sudah jelas bagaimana menggunakan internet yang telar diatur UU ITE.

Menghapus kebiasaan berpendapat yang mengandung SARA, mengundang permusuhan ataupun mulai menghapus kebiasaan Cyber bullying di sosmed karena sosmed merupakan media yang dapat dilihat oleh banyak orang. Dari sosmed juga orang-orang bisa melihat karakter seseorang. Dan terakhir saya mengajak masyarakat bisa belajar dari kasus Florence juga agar berhati-hati dalam mengutarakan pendapat di sosmed sehingga tidak dipidanakan oleh pasal UU ITE.

Sumber :

http://regional.kompas.com/read/2014/11/11/16215841/Jalani.Sidang.Perdana.Florence.Dijerat.4.Pasal.UU.ITE

http://news.detik.com/berita-detikhealth/2972758/survei-67-kepala-sekolah-di-inggris-khawatirkan-kesehatan-mental-muridnya

http://infopsikologi.com/apa-pengertian-cyberbullying-dan-bagaimana-bentuknya

Jesaya Hasudungan

Jesaya Hasudungan

Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Komputer Indonesia

More Posts

Leave a Reply