January 18, 2016

Resilient: Humor Meme Sampai Kemben Melorot

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Setahun yanglalu, saya iseng-iseng mengikuti kuliah filsafat selama kurang lebih empat bulan di Fakultas Filsafat Unpar Bandung dengan topik Filsafat Humor = I Think Therefore I Laugh. Ketika itu banyak teman mempertanyakan apa esensi mengikuti kuliah filsafat, soal humor pulak! Bagi saya humor itu menarik untuk diselami lebih dalam.

Humor itu membuat kita melihat peristiwa dari perspektif yang tepat dan menjaga kita tetap lebih besar daripada perbuatan kita sendiri dan atau peristiwa yang kita alami. Orang yang humoris itu konon tak mudah patah oleh rupa-rupa peristiwa.

Pendek kata, humor dalam kadar atau porsi yang tepat menolong orang untuk tidak mudah ‘jenggirat’ (Bahasa Jawa: terkaget-kaget). Sebab humor pada kadar yang tepat adalah tanda kenyamanan batin. Tetapi humor yang berlebihan akan menjadi penyakit. Sebab ia tak lagi dapat membedakan mana yang real dan mana yang fantasi. Aih, itu barangkali bedanya kita dengan orang gila.

Dari sekian banyak pemberitaan tentang peristiwa bom di Sarinah, Kamis (16/1) yang lalu, hanya dalam hitungan jam, sebagian besar penduduk Indonesia secara umum menunjukkan kemampuan humornya. Muncul meme-meme yang tak pelak bikin perut kaku ketawa ngakak. Belum lagi aneka berita lain di luar aksi kece polisi kita, soal polisi ganteng dengan tas dan sepatunya yang branded. Ah, bangsa ini memang paling bisa tertawa!

Mungkin bagi yang membuat meme-meme humor dari tragedi bom di Sarinah, selalu ada dialog antara tragedi dan komedi. Bahwa keduanya selalu hadir, tarik-menarik dalam kehidupan manusia. Namun dibutuhkan “jarak” untuk melihat segala sesuatu dalam hidup kita. Hidup itu menjadi tragedi jika melihatnya close up tetapi hidup itu komedi jika melihatnya longshoot.

Ada yang memandang meme-meme humor ini sebagai tanda “tidak takut.” Ah yang bener nih nggak takut? Atau karena “berjarak” maka tak takut? Mungkin tidak takut hanya “jenggirat” (kaget). Tetapi kemampuan menemukan celah untuk ditertawakan dari peristiwa sekaliber bom meledak plus adegan tembak-menembak bagi saya menunjukkan daya resilient yang dimiliki penduduk Indonesia.

Daya resilient yang tampil dalam langgam humor itu barangkali adalah salah satu cara bertahan dari guncangan skenario hidup. Salah satu cara meneriakkan ketidaktakutan. Takut itu sebenarnya sesuatu yang wajar. Tak perlu dihindari. Tak usah didustai. Tetapi di atas rasa takut ini humor adalah resilientnya orang orang Indonesia yang mengajarkan bahwa hidup harus terus jalan.

Daya resilient lain yang menjadi sorotan dan bahan humor meme adalah keberadaan penjual sate yang hanya beberapa meter dari ground zero. Apapun alasan beliau tetap asyik membakar sate seolah bom meledak itu tak lebih dari sekedar ban pecah, sosoknya bagi saya dengan tegas mengungkapkan bahwa bom boleh meledak tetapi hidup harus terus jalan.

Bahwa memang ada guncangan tetapi sate tetap harus dibakar, aneka penganan kecil harus terus dijajakan. Diam diam saya kagum dengan ‘resilient‘ para pedagang kecil ini. Saya takjub dengan cara mereka menertawakan tragedi!

Dulu para bapa gereja seperti Ambrosius, Hieronimus, dan Yohanea Christososmus menganggap humor adalah gejala jiwa yang tertata. Oleh sebab itu para bapa gereja  melarang keras para rahib untuk tertawa selama ibadah bahkan selama ada di biara.

Seperti potret yang disajikan Umberto Eco dalam novel In The Name of Rose. Sebab konon katanya humor itu mengundang apapun untuk ditertawakan. Tak ada rasa takut yang menguasai. Aih! Jangan-jangan Tuhan pun mereka tak takut, begitu kecurigaan bapa gereja.

Tetapi saya berkeyakinan lain bahwa humor meme dan sikap para pedagang kecil di ground zero! Mereka adalah orang orang yang paham betul apa artinya “urip mung mampir ngombe”( bahasa Jawa: hidup ini hanya sesaat seperti orang yang mampir untuk minum).

Daya resilient ini juga merasuk dalam diri seorang waria yang dijumpai kawan saya di pinggir jalan. Hebohlah dia bergoyang dan berdendang lagu ‘Sambalado’. Lalu saking asyiknya, kemben pun melorot. Tertawa terbahak-bahak ia sambil menaikkan kembali kemben, and well.., the show must go on! Justru disitu letak keanggunannya melakoni hidup yang keras ini.

Hidup ini sarat narasi yang tak terduga. Di sembarang waktu tragedi bisa datang menghampiri. Tak ada resep ‘cespleng’ untuk menghindari itu. Tetapi di dalam hati kita masing-masing ada daya resilient untuk tetap melanjutkan hidup. Daya resilient yang paling sederhana adalah dengan tertawa.

Humor itu membuat jiwa lentur sehingga ketika hidup bak sedang off road dengan bonus ban pecah…, orang yang memiliki daya resilient selalu menemukan cara untuk tertawa. Humor itu menolong kita untuk waras menyikapi aneka rupa peristiwa dan tekanan. Kata warkop DKI, “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.”

Yohana Defrita Rufikasari, S.Si-Theol

Yohana Defrita Rufikasari, S.Si-Theol

Lahir 16 Mei 1987. Suka bermain bersama anak-anak, membaca, menulis, melukis, nonton film, dan jalan-jalan. Saat ini menjadi guru Agama Kristen di TKK BPK Penabur Guntur dan SDK 5 BPK Penabur Guntur Bandung.

More Posts

Follow Me:
Facebook