January 10, 2016

Alasan Saya Berbisnis Lewat Sosial Media

5 Flares Twitter 0 Facebook 5 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 5 Flares ×

Banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk memulai sebuah usaha dengan skala kecil. Cara yang saya pilih adalah dengan menggunakan media sosial. Menurut saya, berbisnis menggunakan media sosial merupakan cara yang paling praktis yang dapat saya lakukan saat ini, mengingat profesi saya sebagai pegawai kantoran yang terikat waktu sehingga sulit untuk bertemu dengan calon pembeli secara langsung (tatap muka).

Alasan lainnya, saya tidak diharuskan untuk bisa berbasa-basi secara lisan dengan calon pembeli tersebut karena komunikasi yang dilakukan menggunakan cara chatting (BBM/WhatsApp/LINE/dll).

Saya memilih untuk berjualan di Instagram yang terkoneksi dengan Twitter. Setiap foto yang saya unggah di Instagram secara otomatis akan dipost juga di Twitter. Cara ini saya lakukan dengan harapan dapat dilihat oleh lebih banyak calon pembeli. Dan itu terbukti berhasil (saya asumsikan berhasil karena jumlah followers dan jumlah like foto bertambah baik di Instagram maupun di Twitter).

Kurang lebih satu tahun saya berjualan di Instagram. Awalnya, saya hanya berjualan tas dan sepatu wanita. Disini saya hanya menjadi seorang reseller saja, barang saya dapatkan dari teman mama saya. Setelah beberapa waktu berselang, ada teman saya, dia seorang reseller casing hp yang mengetahui bahwa saya punya toko online dan dia tertarik untuk menitipkan barang jualannya juga. Diluar dugaan saya, pendapatan dari 3 jenis barang ini cukup lumayan tiap bulannya.

Kekurangan dari berjualan di Instagram adalah sebagai penjual, kita harus pandai menaruh keterangan (caption & hashtag ‘#’) yang tepat pada setiap foto. Misalnya saja saya menjual sepatu, keterangan yang diperlukan dan yang akan menarik perhatian adalah #jualSepatuMurah atau #sepatuMurahBandung. Jika hashtag yang kita taruh tidak menarik, pembeli akan sulit untuk menemukan kita sebagai penjual, karena menurut saya, di Instagram menuntut keaktifan pembeli dalam mencari toko/barang yang tepat.

Dengan kekurangan semacam ini, ternyata banyak pihak melihat peluang dan menawarkan solusinya.

Promo berbayar ditawarkan oleh akun-akun yang sudah terkenal dan memiliki jumlah followers yang banyak. Mekanisme tepatnya saya kurang tahu. Akan tetapi, yang pasti jika kita setuju membayar sejumlah uang, maka toko online kita akan diiklankan pada akun tersebut.

Selain itu, yang lebih ekstrim ada pihak tertentu yang menawarkan jasa untuk menambah jumlah followers dan jumlah komentar pada tiap foto. Baik menggunakan akun-akun palsu maupun akun asli. Harganya tergantung dari paket-paket yang sudah mereka sediakan. Sejauh yang saya tahu, sudah terjadi di media sosial sekelas Facebook, Twitter, dan Instagram.

Mengapa jalan pintas seperti ini menjadi pilihan bagi para pemilik toko online? Salah satu hal yang bisa dijadikan ukuran apakah online shop tersebut terpercaya atau tidak adalah dengan jumlah followers dan jumlah komentar dalam tiap foto (Instagram/Twitter) atau jumlah like (Facebook).

Dengan maraknya bisnis di media sosial seperti sekarang ini, kita, baik sebagai penjual maupun sebagai pembeli harus berhati-hati dan waspada. Sebagai penjual, seperti yang sudah saya rasakan sendiri, kuncinya adalah komitmen dalam memberikan layanan yang terbaik sehingga bisa mendapat kepercayaan dari pembeli.

Selain itu, kita harus bisa mempromosikan toko online dengan bijak, juga harus bisa memposisikan diri bagaimana rasanya jadi pembeli jika menerima layanan yang kita berikan.

Dan sebagai pembeli, sudah pasti kita harus cerdas dan jeli dalam memilih toko online mana yang bisa dipercaya dan tidak. Kita harus cek informasi yang ditawarkan oleh akun tersebut jelas atau tidak. Jumlah followers dan lainnya penting, tapi saya tidak akan membeli barang di tempat yang saya tidak yakin. Kadang perasaan juga berperan dalam menentukan toko mana yang layak dipercaya dan tidak.

Syukurnya, selama saya berjualan dan membeli barang secara online, saya belum pernah menipu pembeli ataupun ditipu penjual. Tapi kalau urusan dijutekin penjual yang “sok nggak butuh pembeli” dan dicerewetin pembeli yang “meyakinkan padahal php” sih sudah biasa. 😀

Yang pasti jangan ragu kalau ingin memulai bisnis melalui media sosial. Kesempatan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi sangat terbuka lebar disana. Dengan tidak membutuhkan modal besar bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Asalkan selalu konsisten, punya target, dan tentunya harus dilakukan dengan sepenuh hati.

Regina Christiany

Regina Christiany

Regina Christiany, lahir di Bandung, 2 Maret 1991 yang lalu. Setelah menyelesaikan studinya jurusan Sistem Informasi di Univ. Maranatha, ia bekerja di salah satu perusahaan IT di Kota Bandung.

More Posts

Leave a Reply