January 10, 2016

Berjejaring Lintas Batas di Dunia Maya

9 Flares Twitter 0 Facebook 9 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 9 Flares ×

Wearesocial.org, sebuah agensi media sosial, dalam data bulan Agustus 2015 menyatakan bahwa dari 7,357 milyar penduduk bumi, 3,175 milyarnya adalah pengguna internet. Artinya, setengah penduduk bumi ini terhubung dengan jaringan internet. Data terdahulu dari emarketer.com, perusahaan riset pasar yang berhubungan dengan pemasaran dan komunikasi digital, menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat 3 pengguna Facebook di dunia, setelah Amerika Serikat dan India.

Lebih jauh lagi, 92,4% pengguna Facebook di Indonesia mengakses media sosial tersebut melalui telepon pintar.  Dari seluruh negara di dunia, persentase tersebut menduduki peringkat 1 pengguna Facebook pada telepon pintar. Walaupun koneksi internet di Indonesia sering didaulat lambat, nyatanya hal tersebut tidak menghalangi netizen bersosialisasi di dunia maya.

Tingginya angka pengguna Facebook tersebut menggambarkan betapa masyarakat satu sama lain terhubungkan begitu erat oleh internet.  Membagikan pendapat, foto, media lain, semudah menekan tombol di telepon pintar. Ada kejadian di depan mata, dapat langsung dibagikan dengan mudah. Teman lama yang terpisah beribu kilometer dapat tetap terhubung di mana saja kita berada, hanya tinggal mengambil telepon pintar di tas atau saku.  Apa yang sedang sepupu kita lakukan di liburannya, bisa langsung kita lihat saat ini juga di layar.

Selain Facebook, media sosial lain juga tidak lupa harus diunduh dengan lengkap. Path, twitter, instagram, dan media sosial baru yang terus bermunculan agaknya wajib diunduh di telepon genggam masing- masing. Belum lagi dengan menjamurnya aplikasi pesan singkat seperti Whatsapp dan Line. Broadcast message makin gencar, syukur jika yang dibagikan adalah hal yang berguna, tak jarang isu yang tidak membangun pun dibagikan juga.

Melimpahnya media sosial dan akses internet dimana- mana membuat kita makin leluasa mengembangkan jaringan. Ingin melakukan aksi sosial, ada crowdfunding, sistem penggalangan dana untuk suatu kegiatan/inisiatif.  Dari isu nasional dan kesehatan, hingga isu sehari- hari seperti memberikan THR di hari raya untuk bapak penjual bakso keliling. Ingin berkomunitas, tinggal membuka laman Facebook atau Twitter komunitas bersangkutan dan menghubungi mereka.

Masih banyak lagi contoh betapa internet sudah membuka banyak jalan untuk melebarkan sayap dan belajar bersama- sama. Seperti salah satu rekanan bisnis dari perusahaan tempat penulis bekerja. Hubungan bisnis tersebut dimulai dari tidak sengaja berselancar di laman Facebook, padahal sebelumnya tidak pernah bertemu dan kenal. Dari laman tersebut ternyata  kedua perusahaan punya visi misi yang cukup serupa dan jadilah rekanan bisnis hingga saat ini.

Cerita tersebut adalah salah satu kisah yang cukup menguntungkan dari adanya jejaring yang membuka kesempatan. Meluasnya kesempatan, tidak jarang juga diikuti dengan menyebarnya ancaman. Oleh karena itu, perlu berhati- hati ketika berjejaring di dunia maya. Sering kita temui beberapa pendapat pribadi yang menyebar luas di media sosial. Tentunya beberapa dari hal itu bagus, namun tak jarang yang menyebar secara viral adalah artikel dan pendapat yang kurang sopan dan kurang membangun.

Dalam berjejaring, perlu diingat untuk menjaga kepala tetap dingin dan membiasakan diri berkomunikasi dengan santun. Komunikasi sebagai pilar utama dari hubungan manusia perlu selalu dijaga. Jika ada kesalahan atau ketidaksepakatan, dengan komunikasi yang santun bisa ditangani dengan baik. Juga tetap gunakan logika dalam berjejaring,  tidak jarang lawan bicara kita bukanlah orang yang bermaksud baik, oleh karena itu walaupun komunikasi yang kita lakukan santun, logika tetap harus dijaga.

Peluang yang sangat besar dalam berjejaring di dunia maya harusnya kita manfaatkan dan maksimalkan untuk meningkatkan kemampuan diri kita dan membagikannya kepada orang lain. Dengan pembawaan diri yang baik, harapannya jejaring di dunia maya bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan bersama yang lebih baik untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan satu atau dua orang saja.

Lydia Utami

Lydia Utami

Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”

More Posts

Leave a Reply