October 08, 2015

Taat Aturan Sejak di Keluarga

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986). Keluarga itu seperti negara dalam bentuk kecil, yang terdiri dari kepala dan anggota-anggotanya.

Keluarga juga merupakan cikal bakal pematangan individu dan kepribadian. Anak-anak biasanya selalu mengikuti kebiasaan dan perilaku orang tua, yang menjadikan keluarga elemen penting dalam pendidikan. Keluarga pun bagian yang sangat pokok dalam membentuk karakter, menciptakan jati diri yang baik dan membangun entitas-entitas seorang anak,

Perkembangan anak pun menjadi tanggung jawab yang besar bagi orangtua. Karena itu, keluarga berperan dalam menjaga kedamaian cinta kasih, ketenangan dalam rumah, menghilangkan kekerasan dan mengawasi perkembangan pendidikan anak.

Beberapa tahun terakhir, arti keluarga kian bergeser. Orangtua saat ini sibuk dan tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk anaknya. Orangtua lebih memilih sekolah formal dan non formal seperti bimbingan belajar (bimbel) untuk anaknya. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun bagi orangtua penting menjaga komunikasi (pengarahan) personal dan kasih sayang terhadap anak agar orang tua bisa menakar perkembangan anak.

Meski pilihan seperti itu sudah jamak terjadi di kota besar seperti Jakarta, masih ada sebagian orangtua yang memilih jalur yang berbeda. Kebetulan, salah satunya ayah dan ibu saya. Ayah berprofesi sopir taksi di Jakarta, sedangkan ibu sebagai ibu rumah tangga. Di tengah kesibukannya, ayah selalu meluangkan waktu untuk keluarga di rumah, dan mengontrol melalui ibu yang “siap siaga”.

Saat beliau sedang di rumah, kami pun bercengkrama bersama dengan ibu, kakak dan adik. Banyak topik yang menjadi pembahasan seperti terkait etika, sosial, budaya, nasionalisme dan banyak lainnya.

Tapi dalam beberapa hal, saya tidak suka ayah mendidik. Ada gaya mendidiknya yang mengadopsi gaya zaman dulu dan membuat kami cekcok. Tak jarang, cekcok ini membuat ketegangan di tengah keluarga, meski akhirnya ayah meminta maaf.

Permintaan maaf dari ayah justru membuat saya merasa paling bersalah. Saya termenung, seorang ayah saja tidak malu meminta maaf sekalipun dia tak bersalah. Keteladannya menjadi contoh dalam menghadapi kehidupan di luar sana.

Keteladan orang tua pun berlanjut. Saat saya berdiskusi dengan beliau, ada hal yang saya tidak mengerti kala itu. Ayah berkata “Nak, kamu jangan pernah menerima uang dari siapapun (termasuk yang dikenal) yaa..” Saya pun dengan heran menanyakan, “Lho, kenapa emang, pa?” Bapak saya hanya diam sambil menuju kamar, sehingga membuat saya penasaran.

Memasuki masa mahasiswa, pesan dari ayah itu akhirnya saya mengerti. Nasihatnya memiliki pesan bahwa jika saya memiliki jabatan, jangan pernah menjual integritas, idealis dan kepedulian dengan uang. Membuat hati saya bergetar setiap kali mengingat kembali pesan-pesan ayah dan ibu.

Displin dan taat aturan/hukum berawal dari lingkup keluarga. Ayah saya tidak pernah mengulurkan tangannya untuk mendapatkan (menggelapkan) uang yang tidak halal hanya untuk kepentingannya.

Perlu diketahui kesempatan itu selalu ada, tapi orangtua berpesan uang bukan segalanya, kejujuran dan taat aturan yang lebih bernilai. Ibu saya pernah berpesan, “Sekali kamu tidak taat dan berbohong, di luar sana tidak akan ada yang mau menerima.” Nasehat ini selalu menjadi pegangan saya dalam menjalankan kehidupan ini.

Keluarga merupakan lembaga pendidikan awal bagi anak. Pertama kali anak mengenal dunia berawal dari lingkungan keluarga. Sehingga pengalaman masa anak-anak itu sangat penting dan keteladanan orangtua. Keteladanan ayah-ibu tiap hari akan membentuk anak menjadi mahkluk sosial, religius, berjati diri yang baik dan berentitas.

Perkembangan cara pandang keluarga sudah berbeda-beda. Arti keluarga dalam kehidupan modern ini harus kita kembalikan kepada identitasnya. Keluarga adalah rumahku, dan tempat membentuk kepribadianku.

Dumanto Parsaulian

Dumanto Parsaulian

Dumanto Parsaulian lahir di Jakarta, 9 Mei 1992. Saat ini kuliah di Universitas Bhayangkara, Jakarta Raya. Hobbynya Futsal. Motto Hidupnya: Cara terbaik keluar dari suatu persoalan ialah memecahkannya.

More Posts