October 07, 2015

No Communication, No Relationship

175 Flares Twitter 0 Facebook 175 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 175 Flares ×

Ia perempuan muda yang tekun di dalam mengembangkan sekaligus menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang psikolog anak dan keluarga. Ia tak segan-segan menceritakan ‘dapur’ keluarganya. Bahkan, lebih jauh, ia lugas memberikan ‘koncian’ kepada orang-orang muda khususnya, juga orangtua, bagaimana cara terbaik membangun dan memelihara kehangatan dalam keluarga. Penasaran? Kita simak yuk wawancara FOKAL dengan wanita pemilik nama Astrid W.E.N itu berikut ini.

astrid wenFOKAL :Menurut kakak, bagaimana sebenarnya hubungan keluarga yang ideal?

Kak Astrid: Keluarga yang saling mengasihi satu sama lain. Ada respect, cinta, juga ada keinginan saling belajar karena pembelajaran dalam keluarga berlangsung seumur hidup, karena ada perbedaan waktu, situasi, dan umur. Yang tadinya anak bayi kemudian menjadi remaja, pasti masalahnya beda. Begitu juga suami-istri awalnya menikah, lalu mulai punya anak, sampai anaknya kuliah dan menikah. Setiap siklus kehidupan manusia dan keluarganya pasti berbeda-beda.

Makanya tidak bisa dibilang pembelajaran dalam keluarga itu cuma sekali saja, melainkan seumur hidup. Menjaga keluarga itu butuh kerja keras, bukan lantas menikah, punya anak, terus bahagia selamanya. Butuh semua pihak, kalau keluarganya belum punya anak, peran suami-istri. Kalau sudah punya anak, butuh peran anak, ayah, dan ibu.

Kalau ditanya bagaimana keluarga yang ideal, keluarga ideal itu adalah keluarga yang saling mengasihi, walaupun keluarga itu tidak sempurna, karena kita manusia yang tidak sempurna. Kita punya kelemahan dan kelebihan kita, setiap orang punya ciri khas masing-masing. Kita tidak bisa bilang keluarga ini sempurna atau pasangan ini sempurna, atau diri pribadi saya dan pasangan saya sempurna. Karena sesuatu sempurna itu tidak ada di dunia, yang ada itu karakter yang terbaik. Pribadi yang terbaik yang kita punya.

Keluarga ideal itu tidak mengejar kesempurnaan tapi mengejar yang terbaik bagi keluarganya. Patokannya adalah keluarganya, apakah nilai-nilai yang dianut di dalam keluarga itu. Bagaimana cara mereka mengaplikasikan nilai-nilai itu di dalam kehidupan sehari-hari.

FOKAL :Bagaimana pengalaman kakak dalam keluarga kakak?

Kak Astrid: Keluarga saya tidak sempurna. Ayah saya bekerja keras sehingga waktu dengan ayah sedikit. Tuntutan tinggi untuk belajar. Jadi saya tumbuh menjadi anak yang ingin membahagiakan orang lain. Berusaha berprestasi tapi sepertinya tidak pernah cukup walau dapat pujian dari orang lain, teman, dan lain-lain, karena belum dapat pujian dari orangtua. Selalu kurang, kayaknya tidak pernah cukup baik di hadapan orangtua.

Untungnya saya tumbuh di dalam lingkungan yang mengasihi saya apa adanya. Saya mendapat mentor-mentor di kampus yang benar-benar buang waktu untuk saya. Saya punya teman-teman yang baik dan memang banyak memberikan penghargaan yang tulus kepada saya. Ada lingkungan seperti gereja, dan sepupu-sepupu yang menguatkan dan memberi kasih sayang.

“Kamu ini punya banyak talenta, bakat yang bisa dikembangin. Kamu sadar nggak sih kalau kamu sudah diberikan kesempatan-kesempatan untuk dapat mengembangkan diri.”

Selama ini saya berusaha mencari approval dari orangtua. Akhirnya saya mulai memakai penghargaan dari orang lain itu untuk memupuk rasa aman. Dari Tuhan juga.

“Oh, ternyata saya ini berharga di mata Tuhan, orang lain, dan masyarakat.”

Setelah saya sudah percaya diri dan mendapat pengertian, saya memahami, ternyata keluarga saya berada dalam kondisi tidak sempurna untuk mencintai saya. Misalnya mama saya punya kondisi gejala-gejala depresi yang membuat ia susah untuk mencurahkan perhatian seratus persen kepada anak-anaknya karena ada masa ia harus berjuang untuk dirinya sendiri.

Ketika akhirnya ada orang-orang lain yang menguatkan, maka mata saya menjadi terbuka. Keluarga yang saya miliki memang tidak sempurna, tapi sebenarnya mereka sudah memberikan yang terbaik sebisa mereka. Mereka keluarga yang tidak sempurna, tapi sebenarnya mereka yang paling sempurna (baca:terbaik/ideal) buat saya.

Mereka keluarga yang sebenarnya menjadikan saya seperti sekarang. Membutuhkan waktu bagi seseorang untuk belajar, bertumbuh, menjadi dewasa, dan melihat bahwa keluarga yang dimilikinya itu adalah keluarga yang memiliki kekuatan dan kekurangan, dan bisa menerima keluarga sebagai identitas diri.

Mau seberapa baik dan buruk keluarga kita, sebenarnya yang menentukan nilai keluarga itu adalah kita sendiri.

FOKAL :Apakah aktivitas pekerjaan kakak yang berhubungan dengan keluarga? Bisa diceritakan, kak?

Kak Astrid: Saya dan rekan bisnis membuka layanan edukasi informasi mengenai tumbuh kembang anak dan keluarga. Kami juga menyediakan layanan psikologi kepada keluarga. Namanya Tiga Generasi. Kenapa namanya Tiga Generasi? Karena kekuatan keluarga Indonesia itu dari tiga generasi. Kakek-nenek, ayah-ibu, sampai anak. Bahkan kalau acara besar, om tante juga ikut gabung.

Bicara tentang nilai-nilai dan kekuatan karakter, itu turunnya dari keluarga. Kita tidak bisa berharap itu semua didapat di sekolah, harus juga turun dari keluarga. Mau nilai baik dan buruk itu turun dari keluarga. Kayak keluarga saya kerja terus, itu mengajarkan saya untuk fokus kepada tujuan. Apa yang dikerjakan harus selesai. Itu nilai yang diturunkan keluarga saya.

FOKAL :Keluarga adalah sekolah karakter bagi anak-anak. Bagaimana pendapat kakak tentang pernyataan ini?

Kak Astrid: Iya sih, bisa dibilang keluarga itu sekolah karakter bagi anak-anak karena keluarga itu lingkungan pertama yang dikenal anak sejak dia lahir. Jadi keluarga itu lembaga terkecil dalam masyarakat. Setelah kita besar baru tumbuh dalam lingkungan yang lebih luas, SD, SMP, SMA, kuliah ke kota lain, kerja, makin lama lingkungan makin luas. Namun, awal-awal hidup kita itu dalam lingkungan keluarga. Berbicara karakter dan kepribadian paling penting usia-usia awal anak. Justru saat muda dibentuk, jangan pas sudah tua.

IMG-20151007-WA0001FOKAL :Apakah permasalahan di kalangan anak dan pemuda saat ini kebanyakan terjadi karena hubungan yang tidak harmonis di dalam keluarga?

Kak Astrid: Jadi ada dua, bisa dari dalam diri atau luar anak. Tidak mungkin hanya dari satu sumber. Tidak bisa digeneralisir, harus lihat per kasus. Ada keluarga yang baik, tapi kok anaknya terjerumus ke narkoba, dan lain-lain. Ada banyak faktor.

Kita bilang kalau sering jalan bareng dengan keluarga. Tapi jalan bareng keluarga itu belum tentu ada kebersamaan dan saling memperhatikan satu sama lain. Hidup dalam rumah yang sama tapi ayah-ibu sibuk sendiri, anak sibuk sendiri. Ada yang bebaskan anaknya dengan fasilitas lengkap dan tanpa aturan.

Melakukan aktivitas bersama itu belum tentu memperhatikan kebutuhan satu sama lain. Bisa aja jalan ke mall bareng, atau nonton bioskop bareng, atau lagi di mobil. Tapi tidak saling menanya, “Kamu lagi apa sih? Masalah kamu apa?” Biasa yang dibicarakan ekspektasi-ekspektasi, “Gimana hasil kuliah? Papa-mama pinginnya kamu gini-gini. Eh kamu kok nakal sih? Mama dapat laporan,” atau lainnya. Tidak pernah dilihat kepribadian anak ini seperti apa, apa potensinya, apa mimpinya.

Dalam diri anak pasti pikirannya ingin coba-coba. Nilai-nilai yang diajarkan keluarga waktu kecil, saat remaja, itu pasti akan dicoba, benar nggak ya. Terkadang kelewat batas. Karena adrenalin lagi tinggi, hormonan secara mood juga fluktuatif, mempertimbangkan secara matang untuk rencana ke depan bisa, tapi kontrol pengambilan keputusannya masih dipengaruhi emosi. Kayak pacaran kebablasan, dan lain sebagainya.

Sekarang semua bisa dilihat dan didapat di internet, sosial media. Kita berusaha mencari dan menentukan harga diri berdasarkan apa yang dianggap hits di sosmed. Kalau sudah seperti itu, orangtua menariknya sudah harus ekstra energi. Karena memang semakin kita remaja dan besar ikut campur orangtua semakin sedikit. Ikut campur paling besar itu pas kecil.

Jadi, yang paling membantu itu pas anak masih kecil, orangtua mengajarkan regulasi diri kepada anak. Sehingga anak bisa meregulasi dirinya. Pas kita sudah gede, pas bergaul dalam lingkungan, nakal atau terjerumus, ketika kita punya regulasi diri yang baik, kita bisa kembali ke jalur yang benar.

Jadi regulasi diri itu seperti ini, kalau orangtua mengajar disiplin pas kecil, diajar makan teratur, bantu bersihin rumah, jaga adik, diberi tanggung jawab sesuai porsinya. Kemudian orangtua membantu anak mengenal dirinya, mengetahui tujuan hidupnya, kenapa sih dia ada di dunia ini.

Apa yang diajarkan orangtua pas kecil, ketika sudah besar akan diadu dengan realita lingkungan. Saat itu anak akan menyadari tentang manfaat dari didikan orangtua dalam keluarga. Misalnya ketika kita merantau kuliah, kita akan sadar manfaat orangtua mengajar kita untuk menyapu rumah dan mencuci baju. Begitu juga jika saat kecil kita dilatih untuk mengatur waktu belajar, bermain, dan lain-lain. Saat besar, kita akan sadar manfaatnya dan terbiasa mengatur waktu sendiri.

FOKAL :Waktu kecil kita sering dituntut orangtua untuk ranking 1 di kelas, atau juara sekolah. Ketika tidak mendapat ranking kita tidak diapresiasi, bahkan dibanding dengan saudara atau teman kita yang lain. Namun ketika kita punya bakat yang baik, belum tentu didukung. Akhirnya kita minder dan malu ketemu orang. Bagaimana pendapat kakak?

Kak Astrid: Sebaiknya, selain mendorong anak berprestasi dalam akademik, orangtua juga perlu mendorong agar anak dapat mengembangkan bakat dan minatnya. Sebagai saudara yang lebih tua seharusnya dapat menguatkan potensi adik yang lebih muda agar adik semangat mengembangkan potensi dirinya.

Jangan sampai tuntutan dari orangtua merusak konsep diri atau kepercayaan diri anak. Kita bisa bantu sampaikan ke orangtua, “Tadi adik bisa gini loh, padahal orang lain susah, tapi adik bisa.” Jadi kita bantu tonjolkan potensi dan bakat saudara kita.

Kita bilang ke saudara kita kalau dia berharga dan sampaikan ke orangtua kalau saudara kita ini sudah berusaha melakukan hal yang terbaik. Kita bisa ngobrol dalam keluarga, nilai-nilai apa saja yang penting selain menjadi nomor satu dalam akademik. Dorong keluarga kita untuk mengembangkan yang terbaik dari potensinya.

Utamakan usaha yang baik. ketika anak mendapat apresiasi, dia akan merasa dirinya berarti dan good enough dari yang sebelumnya mungkin minder, tidak percaya. Dia sadar dirinya ternyata berarti di keluarga dan dunia ini.

FOKAL :Bagaimana saran dan pengalaman kakak agar kita dapat menjalin hubungan yang harmonis di dalam keluarga kita?

Kak Astrid: Perbanyak komunikasi. Kalau keluarga kita kaku, dan kita mau coba lakukan perubahan, bisa mulai lakukan sms, atau telpon. Targetin aja, maunya berapa, sehari sekali, dua hari sekali, sekali seminggu, setiap Senin-Rabu, dll.

Harus dimulai dari komunikasi. No communication, no relationship. Kalau orangtua nggak gaptek bisa whatsapp, atau video call, skype, line, dan semacamnya. Jadi komunikasi diperbanyak. Targetin juga pulang ke rumah secara berkala kalau kita lagi merantau.

Waktu telpon kalau bingung mau ngomong apa, catat dulu apa yang mau diomongin. Atau tanya ke teman yang sering ngobrol dengan orangtua, tanya aja apa yang bisa diobrolin. Boleh latihan dulu, tulis dulu, kalau memang ada niat untuk mendekatkan diri dengan orangtua. Mau orangtua aneh, bingung, jalani aja, yang penting dicoba dulu. Kalau ketemu itu, ada sentuhan, ada pelukan, ada cium pipi, dahi, atau tangan.

Kalau keluarga yang sudah baik komunikasinya, tetap maintenance, atur pertemuan rutin, update kabar. Ngobrol nggak perlu yang penting, santai aja. Tanya mama masak apa, papa ngerjain apa aja. Atau cerita pengalaman, bahkan kalau berani bilang aku sayang kamu ke keluarga.

Biodata:

astrid wen1Astrid W. E. N., M. Psi adalah psikolog anak dan keluarga; dengan latar belakang S1 Psikologi Universitas Padjadjaran dan mengambil kekhususan magister Klinis anak di Universitas Indonesia. Astrid juga praktisi Theraplay pertama di Indonesia yang berlisensi dari The Theraplay Institute, Chicago. Theraplay adalah intervensi psikologi untuk memperbaiki/memulihkan/meningkatkan hubungan antara orangtua – anak dengan cara bermain yang sehat dan menyenangkan. Untuk mengedukasi keluarga Indonesia, bersama dengan partnernya, Astrid mendirikan tigagenerasi.com; layanan edukasi psikologi untuk anak & keluarga.