October 08, 2015

Keluarga Sejahtera, Bangsa Sejahtera

6 Flares Twitter 0 Facebook 6 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 6 Flares ×

Manusia tumbuh dan berkembang di dalam keluarga dan masyarakat dari seorang anak, remaja, dewasa hingga orangtua. Keluarga merupakan kelompok sosial yang menjadi wahana pertama dan utama anggota keluarga dibentuk, dibina, dididik.

Pembinaan dan didikan tersebut merupakan tugas orangtua atau orang yang paling dewasa di keluarga. Bilamana dilihat pembentukan karakter seorang anak, pengaruh lingkungan tidak sebegitu berdampak jika didikan dalam keluarga sudah kuat.

Keluarga pada umumnya berfungsi sebagai wahana utama dan pertama untuk mengembangkan potensi keluarga, aspek sosial dan ekonomi keluarga, serta penyemaian cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga.

Namun tidak dapat dipungkiri di dalam keluarga rawan dengan permasalahan yang mengakibatkan keluarga mengalami ketidakberfungsian sosial. Meliputi ketidakmampuan; memenuhi kebutuhan, memecahkan masalah dalam keluarga, serta tidak mampu menjalankan kewajiban sosial baik sebagai orangtua ataupun anak.

Tanpa disadari ketidakberfungsian keluarga tidak hanya berdampak terhadap anggota keluarga namun terhadap lingkungan dan masyarakat. Malah masalah sederhana yang terjadi di dalam keluarga menjadi berdampak besar jika tidak segera diatasi. Salah satu permasalahan dalam keluarga pada sering kedengaran yaitu persoalan ekonomi.

Persoalan ekonomi menjadi akar permasalahan keluarga yang lain. Misalnya saja seorang suami tidak mampu menafkahi keluarga ataupun karena pengangguran, maka kebutuhaan keluarga menjadi terbengkalai dan kesulitan menyekolahkan anak. Keadaan tersebut menuntut anggota keluarga turut mencari nafkah baik secara haram ataupun halal, misalnya; melakukan perilaku mencuri, judi, dan tindak kejahatan lainnya.

Sekarang ini di kota-kota besar di Indonesia banyak anak berkeliaran sebagai pengamen, pemulung, gelandangan dan terlibat prostitusi demi mencari uang. Pada usia tersebut harusnya mereka mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orangtua, belajar, dan bermain dengan teman sebaya.

Kurangnya perhatian orangtua terhadap anak menyebabkan anak bebas bergaul dan mudah terpengaruh dengan dunia luar. Pergaulan tersebut bisa berdampak baik terhadap pembentukan karakter anak, sebaliknya menimbulkan masalah baru seperti anak hamil di luar nikah, terlibat dalam kasus tawuran, geng motor, perjudian, napza (narkoba, psikotropika, dan zat adiktif), contoh kecilnya menjadi perokok.

Permasalahan lain adanya masalah antara suami dengan istri. Kebiasaan gaya hidup yang berlebihan, ego tinggi, dan hanya peduli pada dirinya membuat sang istri lebih memilih cerai daripada bertahan dengan kebutuhan yang tidak berkecukupan. Perceraian tersebut menjadi masalah baru lagi terhadap keluarga dan mempengaruhi psikologi suami (ayah) termasuk anak.

Banyak permasalahan sosial di Indonesia sekarang ini sesungguhnya berawal dari keluarga yang kurang harmonis dan tidak mampu berfungsi sosial. Bilamana keluarga kurang berfungsi sosialnya maka berpengaruh juga terhadap bangsa. Sebaliknya keluarga sejahtera karena mampu menjalankan fungsi sosialnya, bangsa juga akan sejahtera.

Untuk mensejahterahkan bangsa ini maka lebih dahulu mensejahterahkan keluarga. Bukan hanya tugas keluarga, namun juga pemerintah.

Hal ini harusnya dimulai dari pembentukan keluarga baru. Pemerintah dan masyarakat melarang adanya pernikahan dini. Pasangan harusnya mempunyai persiapan yang matang seperti pekerjaan, setidaknya suami memiliki penghasilan yang cukup dan juga hubungan yang baik antara suami dan isteri.

Memang pemerintah belum lepas tangan dalam mengurangi dan menangani masalah demi terwujudnya keluarga sejahtera seperti program Keluarga Berencana (KB), Program Keluarga Harapan (PKH) dan sasaran terhadap anak sekolah misalnya beasiswa ataupun sekolah gratis. Lantas kenapa masih belum kelihatan sekali dampaknya? Apakah program tersebut dilaksanakan dengan modus peluang korupsi dari anggaran biaya program tersebut?

Menjadi evaluasi bagi pemerintah, seharusnya ada monitoring ataupun follow-up terhadap sasaran program. Misalnya saja, menelusuri apakah uang yang ditunjukkan terhadap keluarga PKH sesuai dengan yang direncanakan.

Selain penanganan di atas, pemerintah juga diharapkan memberikan edukasi keluarga melalui sosialisasi, pelatihan atau seminar dengan tujuan meningkatkan kapasitas keluarga. Hal tersebut akan sangat membantu keluarga khususnya orangtua untuk mampu mengarahkan dan menciptakan hubungan kuat juga semakin harmonis antar anggota keluarga serta mampu mencegah atau mengatasi masalah yang ada di dalam keluarga.

Mewujudkan keluarga yang sejahtera bukan hal yang mudah, namun solusi dan penanganan yang dilakukan mudah-mudahan menjadikan keluarga mampu berfungsi sosial di tengah masyarakat, sehingga menjadi keluarga sejahtera. Dengan demikian, permasalahan sosial yang terjadi di negara ini secara perlahan terminimalisir dan bangsa pun sejahtera.

Sri Syarat Utama Telaumbanua

Sri Syarat Utama Telaumbanua

Sri Syarat Utama Telaumbanua lahir di Gunungsitoli, 15 Agustus 1995. Saat ini menempuh perkuliahan di STKS Bandung. Di tengah kesibukannya studi, ia selalu menyediakan waktunya untuk ikut serta berkarya lewat UKM dan aktivitas pengajaran anak-anak. Hobbynya browsing, futsal, main catur, dan travelling. Motto hidupnya, “Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”

More Posts