October 07, 2015

Keluarga, Masih Hangatkah?

15 Flares Twitter 0 Facebook 15 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 15 Flares ×

Kora Sindonews bulan Januari 2015 pernah merilis data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), yang menyatakan bahwa pada tahun 2014 sebanyak 89 anak (umur 5-15 tahun) melakukan bunuh diri. Permasalahan bunuh diri ini juga menjadi sebuah problem di Amerika Serikat, yang pernah melansir bahwa bunuh diri merupakan penyebab kedua terbesar kematian anak muda usia 15-24 tahun, sebagaimana data dari Centre of Disease Control and Prevention.

Dalam rentang usia remaja yang rentan ini, tak dapat dipungkiri bahwa keluarga menjadi faktor seperti dua sisi mata uang. Berperan besar mencegah bunuh diri, atau malah memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.

Keluarga merupakan organisasi sosial terkecil yang pasti dimiliki oleh semua orang.  Karena sifatnya yang tak bisa dipilih—keluarga, tempat tinggal, saudara—penting sekali bagi keluarga untuk berfungsi dengan seharusnya, salah satunya dalam hal komunikasi.

Komunikasi yang tidak baik dapat mengakibatkan hubungan yang tidak harmonis, bahkan sampai tingkat yang cukup parah seperti yang sudah dijabarkan di awal tulisan ini.  Padahal, ikatan darah yang ada harusnya menjadi salah satu ikatan yang tidak akan bisa terpisah.

Komunikasi merupakan hal penting yang sering dilupakan ataupun diabaikan.  Banyak orang tua yang ingin anaknya menjadi orang yang sukses, namun tidak terampil mengomunikasikan maksudnya dengan baik, akibatnya anak tidak bisa mengerti dan menganggap bahwa orang tua tidak mengerti mereka.

Sebaliknya, anak-anak terkadang tidak bisa mengomunikasikan keinginan dan mimpi- mimpi mereka dengan baik dan diplomatis, sehingga orang tua akan menganggap bahwa anak tersebut terlalu sembrono dan ceroboh.

Hal–hal seperti ini yang membuat berada di rumah atau keluarga tidak hangat.  Perasaan tidak diterima dan tidak dimengerti membuat satu sama lain tidak bisa saling percaya.

Menurut Epstein, et.al, 1993, komunikasi keluarga adalah bagaimana cara informasi verbal dan non-verbal dapat dipertukarkan di dalam keluarga. Komunikasi meliputi kemampuan untuk memperhatikan apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Dengan kata lain, bagian penting dari komunikasi adalah bukan hanya berbicara tapi juga mendengarkan.

Selain itu, komunikasi yang baik juga sesederhana membuat maksud dan tujuan dari apa yang disampaikan, dipastikan diterima oleh pendengar tanpa ada salah paham, bukan membiarkan pesan yang disampaikan tidak jelas, disalahpahami, dan tidak dikonfirmasi ulang.  Kadangkala, semua anggota keluarga seakan-akan hanya terfokus pada tujuan akhir dan perannya masing-masing saja daripada memberikan waktu untuk berkomunikasi dengan baik.

Komunikasi dalam keluarga sangat penting, karena keluargalah tempat setiap orang pulang dari kesibukan dan rutinitas harian mereka, tempat setiap orang harusnya merasakan dan memberikan kehangatan serta perhatian satu sama lain. Tempat dimana manusia bisa “diisi ulang” dari tuntutan pekerjaan yang cukup tinggi. Tempat setiap orang bisa saling mengerti dan dimengerti.

Sangat disayangkan jika ketidakmampuan atau kekhilafan untuk berkomunikasi dengan baik menjadikan keluarga sebagai struktur yang kaku, dingin, dan menghambat perkembangan masing- masing orang. Hal sesederhana menyapa dan berusaha mengerti perasaan satu sama lain bisa kembali menyalakan api kehangatan di dalam keluarga.

Lydia Utami

Lydia Utami

Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”

More Posts