October 07, 2015

Keluarga, Cinta, dan Harta

443 Flares Twitter 0 Facebook 443 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 443 Flares ×

Saya memiliki seorang teman dengan latar belakang orangtua yang berbeda. Ibunya berasal dari keluarga tidak mampu dan menikah dengan seorang pria yang tidak pernah mengalami bagaimana rasanya hidup susah karena dilahirkan di keluarga berada.

Teman saya ini lahir, diasuh, dididik, dan tumbuh besar di keluarga dengan latar belakang seperti itu. Tak heran, ia memiliki memiliki sifat dan karakter layaknya orang kaya kebanyakan.

Ya, sombong, tamak, dan pelit. Itu tiga sifat yang saya tangkap dari teman saya ini. Sebagai temannya sejak SMA, saya sangat bisa merasakan sifatnya dari tingkah lakunya, bahasa yang digunakan, bahan obrolan, dan semua pandangan dia soal menjalani kehidupan.

Rasa tidak suka ini terus saya rasakan, bahkan bisa dibilang benci. Kebetulan, kami masuk ke jurusan yang sama di sebuah universitas swasta di Bandung. Awalnya saya malas untuk dekat-dekat dengan dia. Karena waktu SMA pun, kami bukan teman main. Tapi karena jurusan yang kami ambil ini jumlah mahasiswanya sedikit dan minim populasi wanita, mau tak mau kami sering ngumpul bareng, diskusi, dan bahkan berada dalam satu kelompok.

Lama kelamaan, saya mulai menyadari bahwa ternyata teman saya ini bisa menjadi seperti ini, baik tingkah laku dan pola pikirnya, itu semua karena didikan dari keluarganya. Keluarga kaya raya yang selalu mengejar harta duniawi tanpa mengenal Tuhan dan pada akhirnya tidak ada rasa kekeluargaan dan saling memiliki antar anggota keluarganya.

Selektif dalam memilih teman apalagi pasangan adalah satu cara yang diterapkan oleh keluarganya untuk mempertahankan nama baik, harga diri, dan derajat.

Kebetulan, teman saya ini punya pasangan seorang yang berada juga, pemilik usaha garment yang cukup besar di Bandung. Restu orangtua pun diberikan. Hubungan mereka terjalin cukup lama, bahkan sudah ada pembicaraan dari kedua keluarga untuk meneruskan hubungan itu ke jenjang yang lebih serius, pernikahan.

Suatu hari, pasangan teman saya ini mengalami musibah pada usahanya. Bangkrut dan akhirnya jatuh miskin. Hal ini tadinya sudah ditutup-tutupi oleh teman saya pada orangtuanya, karena dia yakin kalau sampai ayah dan ibunya tahu kejadian itu maka selesailah sudah hubungan mereka.

Tapi sayangnya, kabar itu akhirnya sampai juga ditelinga orangtua teman saya. Mulai saat itu, teman saya dilarang untuk bertemu bahkan berkomunikasi dengan pasangannya. Suatu kali, saat pasangannya ini datang untuk menemui teman saya, dia diusir dan diperlakukan secara kasar layaknya perbuatan orang yang tidak berpendidikan oleh ayah dan adik-adik dari teman saya ini. Disitu, hancurlah hati teman saya ini.

Bahkan karena kejadian tersebut, teman saya ini pernah kabur dari rumahnya karena sudah muak dan tidak kuat lagi untuk menahan rasa sebalnya dengan orangtua dan adik-adiknya itu.

Apabila masih memiliki keluarga yang utuh, apalagi yang masih saling mengasihi satu sama lain walaupun mungkin hanya hidup cukup dan tidak bergelimang harta, renungkanlah dan bersyukurlah pada Tuhan, karena itu berarti kita masih diberi kebahagiaan yang belum tentu dirasakan orang lain.

Jujur, buat saya, uang adalah salah satu jalan untuk mendapat kebahagiaan. Saya bisa beli barang yang saya mau pakai uang. Dengan uang juga, saya bisa berlibur ke tempat yang saya impi-impikan. Walaupun begitu, kehangatan dalam hubungan keluarga, rasa aman dan nyaman berada di tengah-tengah keluarga, dan kepercayaan dari orang tua itu ternyata jauh lebih berharga dan tidak dapat dibeli dengan uang.

Dan kebahagiaan itu buat saya, dapat dirasakan maksimal ketika kita tidak lagi melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri.

Regina Christiany

Regina Christiany

Regina Christiany, lahir di Bandung, 2 Maret 1991 yang lalu. Setelah menyelesaikan studinya jurusan Sistem Informasi di Univ. Maranatha, ia bekerja di salah satu perusahaan IT di Kota Bandung.

More Posts