October 07, 2015

Keluarga adalah Sebuah Permata

3 Flares Twitter 0 Facebook 3 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 3 Flares ×

“Sebusuk-busuknya kau, kau tetap saudaraku…!” 

Kalimat tersebut dilontarkan Togar (Borris Manulang) kepada Ronggur (Vino G. Bastian) dalam film berjudul Toba Dreams yang disutradarai Benni Setiawan. Togar kesal kepada abangnya karena Ronggur telah menjadi buruan polisi dan gangsternya sendiri, serta mempermalukan keluarga. Kalimat ini terlontar begitu saja, tetapi sebenarnya menggambarkan kekuatan persaudaraan orang Batak itu sendiri.

Batin saya agak tersentil ketika mendengar kalimat tersebut. Kesalahan dan dendam yang selama ini tersimpan dalam hati terngiang kembali. Saya sadar ada kesalahan besar yang telah saya lakukan, tetapi “nasi sudah menjadi bubur”.

Kekeluargaan yang terjalin di dalam budaya Batak memang tidak dipungkiri lagi. Layaknya pribahasa “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, orang Batak selalu mengingat marganya dan mengakui dia orang Batak dimanapun dia berada. Sekalipun dia pendatang, pasti akan mencari kawan (dongan dalam Bahasa Batak) yang semarga dengannya. Itulah contoh kekeluargaan dan persatuan dalam budaya Batak.

Membuat suatu perkumpulan marga di perantauan adalah hal yang lumrah dilakukan para perantau Batak, misalnya Toga Sitorus, Toga Silalahi, Toga Tampubolon. Perkumpulan marga inilah yang biasanya akan menjadi keluarga kita di perantauan.

Terkadang di perkumpulan marga ini pula kita bertemu sanak saudara kita yang sebelumnya tidak pernah bersua. Banyak cerita yang akan terjadi di toga ini. Senang, sedih, bahagia, dan duka adalah hal yang bisa kita ungkapkan disini. Tidak jarang disini pula kita mengalami pertengkaran, disini juga kita diberi bantuan.

Pertengkaran adalah hal lumrah dalam kehidupan kita. Namun alangkah lebih baik apabila kita tidak bertengkar dan berusaha memaafkan kesalahan teman atau saudara kita. Dalam adat Batak, keluarga adalah sebuah permata. Kita pasti akan menjaga tali kekeluargaan kita hingga kita mati. Saudara semarga kita adalah keluarga kita seutuhnya.

Di saat kita jauh dari orang tua dan mengalami keterpurukan, sakit, dan hal dukacita lainnya, saudara semarga kita di perantauan akan berusaha datang untuk membantu dan menghibur kita.

Adat Batak dan orang Batak itu unik. Persatuan dan kekeluargaan suku Batak sangatlah kuat. Di saat kita jatuh, saudara kita yang pertama tahu akan datang dan mengangkat kita untuk bangkit. Itu juga yang digambarkan dalam film yang diangkat dari novel karangan T.B. Silalahi, Founding Father Yayasan Soposurung SMAN 2 Balige.

Cerita khas, latar belakang unik, kesedihan, canda, kegembiraan, dan gelak tawa mewarnai film ini. Kualitas film tidak seperti film asal jadi yang sekarang ini sering kita lihat. Pesan moral dan alur cerita yang disuguhkan sungguh menggugah hati dan jiwa.

Saya sudah menonton film ini bersama dengan teman-teman dari berbagai penjuru Nusantara. Reaksi mereka beraneka ragam, ada yang bangga, senang, dan gembira. Ada pula yang sampai meneteskan air mata. Tidaklah rugi menonton film karya anak bangsa ini. Dijamin jiwa kamu akan terbang ke pinggiran Danau Toba yang elok.

Yuda Anrova

Yuda Anrova

Yuda Anrova, siswa SMAN 2 Balige.

More Posts