August 20, 2015

Teknologi Berkelanjutan

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” – Pasal 33 ayat 3 UUD 1945

Kutipan ini membawa saya pada satu pertanyaan. Bagaimana cara menggunakan kekayaan alam tersebut untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat? Apakah dengan kebijakan yang mempermudah rakyat, misalnya subsidi BBM, bisa menjawab pertanyaan itu?

Untuk jangka pendek, mungkin jawabannya ‘ya’. Dengan subsidi BBM, kita bisa membeli bensin dengan harga murah, harga kebutuhan pokok menjadi murah juga. Hal yang serupa juga berlaku untuk subsidi sumber daya alam lainnya, semakin murah maka semakin mudah dibeli, kita semakin senang. Kelihatannya makmur.

Bagaimana untuk jangka panjang? Saya merasa bahwa hal ini akan berbahaya untuk jangka panjang. Sumber Daya Alam (SDA) di negara kita, walaupun kaya, memiliki batasan dan bisa saja habis.

Pada tahun 2012, Indonesia memiliki cadangan minyak bumi sekitar 7,41 miliar barrel (cadangan potensial ditambah cadangan terbukti). Menurut perkiraan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) yang dipublikasikan dalam buku Outlook Energi Indonesia 2014, berdasarkan tingkat produksi minyak bumi (329 juta barrel pada 2011 dan 315 juta barrel pada 2011) dan data cadangan minyak bumi tersebut, minyak di Indonesia dapat dimanfaatkan hanya sekitar 12 tahun lagi.

Mungkin data minyak yang saya dapatkan itu terlalu detail. Secara garis besar, untuk semua SDA, jika produk SDA di Indonesia semakin mudah dibeli (karena disubsidi), masyarakat Indonesia akan semakin senang mengonsumsi produk tersebut. Dampaknya bisa jadi ketergantungan terhadap produk yang menyangkut keberlangsungan SDA tersebut. Kalau sudah ketergantungan, konsumsinya semakin meningkat.

Masalahnya, sumber daya alam kita terbatas (diperkirakan tersisa hingga 12 tahun lagi). Bagaimana jadinya kalau kita sudah mengalami ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, tetapi cadangan minyak sudah habis? Jelas akan kacau dan justru tidak memenuhi kemakmuran rakyat yang saya bahas tadi.

Kajian itu cukup mencerahkan saya mengenai pencabutan subsidi BBM. Akan tetapi, kajian itu masih belum memuaskan pertanyaan dalam pikiran saya. Saya masih perlu mencari tahu lebih dalam mengenai kekayaan alam yang digunakan untuk kemakmuran rakyat.

Atas dasar kajian itu, kekayaan alam yang digunakan seharusnya tidak mudah habis (atau mudah diproduksi kembali) dan tidak menyebabkan ketergantungan terhadap sumber daya alam tersebut. Ternyata, saya baru menyadari bahwa jawabannya tidak jauh dari topik yang sering dibagikan melalui linimasa media sosial di internet.

Istilah “energi terbarukan”, “energi alternatif”, dan “teknologi ramah lingkungan” menjadi tren beberapa tahun terakhir. Istilah-istilah itu ramai diperbincangkan di televisi dan di internet. Produsen berlomba-lomba menciptakan produk yang bisa dilabeli dengan istilah-istilah tersebut. Kampanye-kampanye bertema demikian muncul melalui di internet melalui infografis dan karikatur.

Seminar dan lomba dengan tema tersebut juga diadakan, baik untuk pelajar, mahasiswa, dan berbagai kalangan. Semuanya dilakukan agar masyarakat semakin sadar dengan pentingnya memerdekakan alam melalui teknologi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Melalui buku Outlook Energi Indonesia 2014, saya mendapat tambahan mengenai potensi energi terbarukan. Indonesia memiliki potensi seperti panas bumi, surya, maupun biomasa. Bahkan, ada juga energi angin dan laut–sangat menarik bagi saya sebagai mahasiswa yang mempelajari mekanika fluida–yang tentunya sangat cocok diterapkan di Indonesia sebagai negara maritim.

Dari buku itu, saya juga membaca bahwa sumber energi bahan bakar minyak diprediksi masih memegang pangsa kebutuhan energi final tertinggi, melebihi kebutuhan sumber energi listrik, batubara, dan gas. Oleh karena itu, pionir-pionir teknologi perlu mempersiapkan produk yang tidak lagi mengandalkan bahan bakar fosil, dan memilih untuk memanfaatkan energi terbarukan.

Saya rasa penggunaan moda transportasi berdaya listrik patut dicoba. Mobil listrik menggantikan mobil bensin/diesel. Kereta listrik menggantikan kereta api.

Saya ambil contoh kereta di Jepang. Shinkansen–lebih dikenal dengan sebutan bullet train–adalah kereta tercepat di dunia. Kereta ini memanfaatkan energi listrik untuk bergerak. Japan Railway & Transport Review melaporkan bahwa volume karbon dioksida yang diproduksi Shinkansen untuk perjalanan dari Tokyo ke Osaka hanya 16 persen dari yang dikeluarkan mobil untuk perjalanan yang sama.

Bagaimana dengan Indonesia? Butuh riset mendalam dan dukungan pemerintah agar mobil maupun kereta listrik bisa diproduksi dari negeri sendiri. Masyarakat juga perlu beradaptasi agar siap dengan terobosan itu, mengingat jumlah kendaraan pribadi berbahan bakar minyak masih sangat mendominasi.

 

Hansel Joseph Tampubolon

Hansel Joseph Tampubolon

Mahasiswa Teknik Penerbangan, ITB.

More Posts