August 17, 2015

Tatanan Hidup Suku Kei

44 Flares Twitter 0 Facebook 44 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 44 Flares ×

Bagaimana rasanya jika kita lahir dan tumbuh di tanah yang tidak pernah mengalami banjir, kemarau panjang maupun sejenis badai lainnya yang mengancam kehidupan umat manusia?

Tentunya ada rasa syukur dan nyaman. Begitu pula yang kami alami di tempat ini. Sebenarnya bencana yang disebutkan tadi bukan tidak pernah terjadi namun sangat jarang dijumpai seperti yang layaknya terjadi pada sebagian kota di Indonesia yang kerap kali harus berhadap-hadapan dengan kekejaman alam.

Kepulauan Kei, pasti banyak  yang asing mendengar tempat ini. Atau ketika mendengar Kei maka yang terekam dalam memori adalah sosok Jhon Kei dan sederetan nama preman lainnya yang mengisyaratkan kekerasan dan kesangaran.

Kei adalah pulau kecil nan eksotis yang terletak tepat di bagian tenggara Provinsi Maluku, dimana terdapat dua wilayah administratif pemerintahan yaitu Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.

Totalitas hidup dari masyarakat suku kei adalah ketika hukum adat yaitu Hukum Larvul Ngabal mampu diimplementasikan di setiap sendi–sendi kehidupan. Hukum Adat ini lahir atas gumulan panjang leluhur mengenai kebaikan dan kelangsungan peradaban masyarakat kei kedepannya.

Secara etimologi, hukum adat Larvul Ngabal berasal dari dua suku kata, yakni Larvul yang berarti darah merah dan Ngabal yang berarti tombak Bali. Menurut tradisi lisan, darah yang dimaksud adalah darah kerbau dan tombak merupakan simbolisasi dari hukum adat.

Hukum Larvul Ngabal merupakan simbolisasi yang terdapat dalam diri manusia, yang menyatakan penolakan terhadap kekacauan sosial dan kesewenang–wenangan kekuasaan. Hukum ini mempunyai kewibawaan yang tinggi dan dipakai untuk menuntut setiap orang yang melanggarnya. Pemangku adat yang diberikan kepercayaan untuk melaksanakan peradilan terhadap pelanggaran hukum ini adalah raja–raja yang berdiam di kepulauan Kei.

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri acara pemakaman nenek teman saya, dan dalam misa requem tersebut pastor berkhotbah tentang Yesus sebagai sumber hidup, dan yang menarik adalah dikatakannya bahwa masyarakat suku kei adalah satu–satunya suku yang bertahan hidup dengan mengkonsumsi Enbal sebagai bahan makanan yang berasal dari racun.

Enbal berasal dari jenis ”singkong beracun” (manihot duleis) yang sejak ratusan tahun lalu oleh para leluhur berhasil melakukan fermentasi dan menjinakkan racun tersebut kemudian dijadikan makanan khas sebagai sumber karbohidrat.

Sang Pencipta telah menganugerahkan sumber daya alam yang kaya bagi masyarakat suku kei. beberapa tahun terakhir para wisatawan baik lokal maupun mancanegara selalu mengunjungi dan menikmati keindahan lokasi alam wisata di Kei, diantaranya seperti Ngurbloat (Pantai Pasir Panjang) yang merupakan pantai dengan pasir putih terhalus di dunia yang membentang sepanjang 5 Km, Ngursanadan (Pantai Ohoililir), Goa Havang, Pemandian Alam Air Evu, Pulau Bair, Pantai Ngurtavur yang mengarah kelaut sepanjang puluhan meter dengan habitat burung pelikan, dan berbagai objek wisata dan desa adat lainnya.

Faktanya, pemberian Tuhan tersebut belum mampu mensejahterahkan kehidupan masyarakat Kei. Kita terlena dengan negeri Kei yang secara kasat mata memiliki Kekayaan budaya, kekayaan sumber pangan dan kekayaan wisata.

Produk hukum adat sebagai warisan leluhur yang seharusnya menjadi pengatur tatanan kehidupan telah diciderai dengan campur tangan politik dan komersialisasi untuk golongan tertentu, Sumber Daya Pariwisata yang begitu luar biasa tidak mampu dikelola oleh Pemerintah Daerah sebagai Leading Sector yang dapat memberdayakan penduduk dan meningkatkan pendapatan asli daerah.

Bisakah kami dikatakan telah merdeka?

Masyarakat suku kei masih ketakutan jika sumber daya alamnya disentuh dengan modernisasi. Ketakutan tadi tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan yang menawarkan ragam keistimewaan bagi wisatawan. Bertahun–tahun lamanya ‘surga’ ini dibentengi dan dijaga oleh sebuah sistem yang namanya sasi atau hawear. spiritnya adalah agar tidak terkontaminasi maupun tidak dirusak oleh nilai–nilai budaya asing.

Hal inilah yang menyebabkan pemerintah agak kesulitan dalam membangun sistem perekonomian. Energi masyarakat dihabiskan untuk mengurusi hak–hak ulayat, batas tanah, serta persoalan adatnya. Kearifan lokal sejatinya menjadi kekuatan bagi kita untuk membangun peradaban masyarakat lewat berbagai pemberdayaan yang dilakukan dan bukan mengkungkung diri dari kemajuan peradaban dan teknologi.

Harmonisasi spirit kebudayaan dan alam kei harus mampu dikelola dengan baik sebagai identitas karakter kebangsaan kita. Nilai positifnya adalah masyarakat kei belum ditempatkan sebagai komoditas pasar semata karena kegigihan mereka berpegang teguh terhadap nilai–nilai hukum Larvul Ngabal dan dalam bingkai ain ni ain atau istilah kerennya kebersamaan–gotong royong– bermapalusmaren untuk tetap menjaga dan melestarikan alam ciptaan dimana mereka ditempatkan.

Adat tidak punya struktur kuat seperti pemerintah, tetapi punya kekuatan dan eksistensi. Adat harus dilihat sebagai anak sulung, bukan menjadi anak tiri di tanah air sendiri. adat harus menjadi jati diri bagi agama dan hati nurani bagi sebuah pemerintahan.

70 tahun Indonesia merdeka, sepanjang perjuangan mengisi kemerdekaan yang riuh dan semarak dengan kencangnya arus globalisasi dan tingginya spirit hidup serba instan. Maka pulanglah sebentar ke rumahmu (suku-daerah). Di rumah kita tersedia sejuta keanekaragaman tatanan hidup masyarakat yang masih menjunjung nilai–nilai adat warisan leluhur. Ambillah harta warisan tadi dan harmonisasikan dengan arus globalisasi niscaya arus itu akan menghidupkan dan bukan menenggelamkanmu.

Adhika Belnard

Adhika Belnard

Adhika Belnard menjadi sekretaris cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku. Perempuan dengan nama panggilan Dhika ini juga aktif dalam berbagai kegiatan gender dan toleransi beragama.

More Posts