August 17, 2015

Prilaku Merdeka di Alam Kemerdekaan

15 Flares Twitter 0 Facebook 15 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 15 Flares ×

17 Agustus 1945-17 Agustus 2015. Negara kita, Indonesia, memperingati hari kemerdekaan yang ke 70 tahun. Kemerdekaan yang tentunya diraih dengan perjuangan yang bukan hanya menggunakan pikiran dan tenaga, bahkan juga darah dan nyawa dari para founding fathers dan pejuang lainnya.

Kemerdekaan yang kita miliki saat ini tentunya memungkinkan setiap individu yang menjadi warga negara Indonesia berhak untuk hidup dan memiliki kehidupan di bumi Indonesia, termasuk menikmati kekayaan alam yang ada di dalamnya. Menikmati dalam definisi ini tentu nya tidak terbatas dalam konteks mengkonsumi tanpa memperhatikan sisi yang lain; yaitu mengelola kekayaan alam itu sendiri.

Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa dan memiliki kekayaan alam yang sangat beraneka ragam. Ini adalah fakta yang tidak bisa disangkal.

Saya masih ingat pada saat mata pelajaran Sejarah di bangku sekolah yang membahas mengenai zaman penjajahan dan kemerdekaan Indonesia, saya menyadari sekarang ada alasan yang kuat mengapa Indonesia menjadi salah satu negara yang pernah dijajah oleh bangsa lain; salah satunya yaitu kekayaan alam kita.

Apalagi pada masa itu, sumber daya manusia kita masih belum memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengelola kekayaan alam kita sehingga ini yang menjadi peluang bagi bangsa lain untuk menguasai. Bahkan, negara penjajah berani membangun infrastruktur transportasi (seperti rel kereta api) untuk mengangkut hasil kekayaan alam tersebut.

Kalau begitu, bagaimana keadaan kita di masa sekarang? Kita sudah hidup di alam kemerdekaan bahkan sudah mencapai usia ke-70 tahun. Tetapi apakah kita benar-benar sudah merdeka, termasuk merdeka dalam memanfaatkan dan mengelolal kekayaan alam kita secara bertanggung jawab? Harus diakui bahwa ternyata kita belum sepenuhnya merdeka.

Faktanya, tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk menikmati kekayaan alam tersebut. Contoh sederhananya saja adalah akses ke air bersih. Bukan sesuatu yang aneh lagi, masih ada daerah atau tempat yang kesulitan dalam mendapatkan air bersih dibandingkan daerah lain.

Ada juga prilaku dari masing–masing kita yang belum menunjukkan tanggung jawab kita, contohnya saja saya yang sering kali masih lupa untuk menutup keran air di saat yang sudah tidak dibutuhkan, atau menyalakan lampu yang sebenarnya tidak diperlukan karena penerangan dalam ruangan yang masih cukup. Perilaku ini mengakibatkan pemborosan yang tidak diperlukan dan bayangkan saja dampaknya apabila banyak dari kita memiliki prilaku seperti ini.

Sebagai generasi muda, tentunya kita wajib secara terus menerus mengisi kemerdekaan dengan perilaku yang positif, khususnya dalam mengelola dengan baik kekayaan alam yang ada di sekitar kita. Penggunaan air dan listrik secara efektif dan efisien hanya salah satu bentuk prilaku tersebut.

Saya tentunya pernah mengalami hari-hari di mana air pernah tidak mengalir atau listrik yang padam hanya untuk beberapa jam tetapi sudah bisa membuat pusing tujuh keliling karena mengganggu aktifitas saya.

Ketergantungan saya terhadap dua komponen ini dan kondisi yang tidak mengenakkan yang pernah saya alami ternyata mengajarkan saya untuk bersikap lebih bijak, misalnya pada saat keluar rumah mematikan seluruh listrik yang memang tidak digunakan. Contoh prilaku positif lainnya adalah membeli produk buatan dalam negeri. Membeli beras produksi dalam negeri di pasar tradisional bisa menolong mensejahterakan, terutama para petani yang menanam padi dan sekaligus para pedagang lokal kita.

Sebagai pembeli, saya memanfaatkan produk dalam negeri sekaligus di saat yang bersamaan memberikan penghasilan kepada para petani terutama dalam menanam padi secara berkesinambungan, dan memungkinkan para pedagang lokal juga mendapatkan modal untuk menjual kembali secara berkelanjutan produk beras lokal tersebut. Contoh di atas hanyalah beberapa contoh kecil saja yang bisa memberikan dampak yang besar apabila dilakukan secara disiplin dan berkelanjutan.

Saya sering kali mendengar banyak orang berkata bahwa apa pun yang kita tanam di tanah Indonesia pasti akan tumbuh, dan apa pun yang kita jual di negara ini kemungkinan besar akan laku. Tetapi, mungkin seringkali kita lupa apa yang kita tanam atau jual, pasti berhubungan dengan bahan mentah yang bersumber dari kekayaan alam kita. Prilaku konsumtif tidak cukup karena kekayaan tersebut pasti akan habis. Di alam kemerdekaan ini kita dituntut untuk memiliki prilaku produktif dalam mengelola kekayaan alam kita.

Albert Tommy

Albert Tommy

Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta. Bidang yang diminati: Marketing, Human Resources, Organization Development. Quote favorit, “Don’t work for a person. Do work for yourself and for God for the value you should fight for.” – Kornel M. Sihombing

More Posts