August 17, 2015

Romo Robert Ramone: Dedikasikan Hidup untuk Alam dan Budaya Sumba

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Robert Ramone adalah seorang pastor Katolik berdarah asli Sumba. Pastor Robert sejak kecil sudah dibesarkan orang tua dalam budaya Sumba yang sangat kental. Pengenalan sejak kecil ini membuatnya cukup memahami detail budaya Sumba. Kecintaannya kepada alam dan budaya Sumba semakin nyata saat Pastor Robert mendapatkan hadiah kamera dari sepupunya. Sejak itu Pastor Robert mulai mengabadikan berbagai keindahan alam dan budaya Sumba dengan kameranya.

Sumber foto: www.thejakartapost.com

Sumber foto: www.thejakartapost.com

Pastor Robert belajar teknik fotografi secara otodidak. Dalam berbagai kesempatan ia mengabadikan kegiatan-kegiatan adat di Pulau Sumba. Ia juga mendokumentasikan keindahan alam Sumba, mulai dari pantai, air terjun, padang sabana, dan lainnya. Lambat laun, hasil jepretan Pastor Robert diketahui dan dinikmati banyak orang. Ia beberapa kali mengadakan pameran foto untuk menunjukkan berbagai hasil jepretannya.

Hasil jepretan Pastor Robert sudah banyak dikoleksi dalam berbagai bentuk seperti kartu pos, buku kumpulan foto, dan lainnya. Bahkan salah satu hasil bidikannya, yakni dokumentasi kegiatan adat pemakaman khas budaya Sumba, dibeli dan ditampilkan oleh National Geographic.

“Kita harus mencintai budaya dan alam sendiri dan membangun hidup atas dasar budaya saling menghargai dan toleransi,” ujar Pastor Robert dalam suatu kesempatan. Pastor Robert ingin agar kehidupan masyarakat Sumba dapat tetap selaras dengan alam dan budaya. Aktivitas ekonomi yang dilakukan manusia tidak harus mengorbankan alam dan budaya. Manusia justru tetap dapat berkolaborasi dengan alam dan budaya saat menjalani pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang ingin ditunjukkan Pastor Robert bagi masyarakat Sumba, Indonesia, dan dunia.

Untuk menyatakan nilai dan prinsip hidupnya, pria kelahiran 29 Agustus 1962 ini menyusun sebuah buku fotografi yang bertajuk Sumba Forgotten Island yang telah tersebar ke penjuru dunia. Dalam  karyanya ini, Pastor Robert ingin menunjukkan kepada masyarakat bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba, baik yang berhubungan dengan budaya maupun alam. Ia ingin menunjukkan kekayaan dan keindahan Sumba, sekaligus mengingatkan kepada masyarakat Sumba, Indonesia, dan dunia, bahwa Pulau Sumba memiliki keunikan yang khas yang belum tentu ada di pulau maupun belahan dunia lainnya.

Karena berbagai upaya yang dirintisnya, banyak masyarakat luar Sumba baik dalam maupun luar negeri yang tertarik untuk datang dan menikmati keindahan Pulau Sumba secara langsung. Banyak juga di antara mereka yang kemudian tergerak memberikan donasi untuk masyarakat Sumba, baik untuk pelestarian budaya, maupun aktivitas hidup masyarakat sehari-hari. Pastor Robert membantu para donator ini menyalurkan bantuan mereka ke berbagai sanggar maupun komunitas masyarakat adat di Pulau Sumba.

Walau sudah banyak melakukan pameran di dalam maupun luar Indonesia, Pastor Robert ternyata tidak berpuas diri.Ia mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba yang bertujuan untuk menyimpan, melestarikan, dan mengembangkan budaya dan alam Pulau Sumba. Rumah Budaya Sumba, museum kembar yang dibangunnya berhadapan, telah menjadi tempat menyimpan berbagai peninggalan budaya Sumba. Rumah budaya ini juga memamerkan berbagai hasil jepretan alam dan budaya Sumba. Di rumah budaya ini juga dilakukan kegiatan sanggar dan pentas seni budaya Sumba. Terdapat beberapa relawan yang rutin melatih anak-anak Sumba mengembangkan bakat seni musik dan tarinya.

“Masyarakat Sumba harus kritis pada budayanya sendiri,” ucap Pastor Robert.

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa Sumba dan berbagai daerah lainnya di Indonesia memiliki kekayaan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri. Tanggung jawab ini menjadi perjuangan kita bersama, bukan tugas orang ataupun masyarakat dari negara lain. Pastor Robert telah memberikan contoh kepada kita, bagaimana manusia, alam, dan budaya seyogyanya dapat berkolaborasi dan saling mengisi. Selanjutnya bagaimana respon kita? Apakah kita akan menjalani aktivitas sehari-hari sambil berkolaborasi dengan alam dan budaya? Ataukah kita hanya menganggap alam dan budaya sebagai objek yang bisa dieksploitasi sesuka hati saja?

Bulan Agustus ini kita akan memperingati 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan tidak hanya soal kemerdekaan rakyat Indonesia, tapi juga alam dan budaya Nusantara. Kita harus mengisi kemerdekaan dengan bijaksana, sehingga kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh generasi kita saat ini, tapi juga generasi yang akan datang. Alam dan budaya Nusantara adalah salah satu elemen penting yang harus dijaga, dilestarikan, dan dikelola dengan baik agar kemerdekaan Indonesia dapat bertahan lama.

Sahat Martin Philip SInurat

Sahat Martin Philip SInurat

Penulis lahir pada tanggal 1 Maret 1989 di Pekanbaru. Lulus dari jurusan Teknik Geodesi ITB dan saat ini melayani di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sambil berwirausaha. Motto hidupnya, “Kapal itu aman di pelabuhan, tapi bukan untuk itu tujuan kapal diciptakan.”

More Posts