August 17, 2015

Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak

16 Flares Twitter 0 Facebook 16 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 16 Flares ×

70 tahun sudah kemerdekaan Indonesia. Para pendahulu kita bercucuran keringat, darah dan air mata untuk membebaskan bangsa ini dari tangan penjajah. Mereka tidak hanya membebaskan kakek, nenek atau orang tua kita dari belenggu jajahan namun juga mengusir para penjajah dari tanah Indonesia. Namun bangsa ini, “Sesungguhnya masih terjajah,” sering terucap dari segelintir orang.

Secara hukum, Indonesia memang sudah merdeka. 17 Agustus 1945! Itulah hari kemerdekaan Indonesia. Namun apakah diri kita masing-masing sudah merdeka? Atau masih terjajah?

Terjajah bukan berarti harus ditendangi, harus kerja paksa dan dicambuk. Banyak manusia terjajah sejak dari dalam pikiran. Mental-mental yang hanya mau enaknya saja, licik, picik, jalan pintas dan tak bertanggung jawab adalah ciri- ciri dari manusia yang tidak merdeka.

Leluhur kita telah mewariskan alam Indonesia yang sangat kaya. Bangsa ini sungguh diberkati, pantai–pantai termanis, gunung–gunung yang gagah, dan danau–danau yang mendamaikan ada di Indonesia. Saya yakin kita pernah menikmatinya, entah itu gunung, pantai, danaunya atau apapun itu.

Namun sekarang mari bercermin, sebagai warga masyarakat yang konon sudah merdeka, apakah kita sudah merawatnya dan melestarikannya? Atau malah kita merusaknya?

Akhir–akhir ini sempat terdengar bahwa banyak alam indah kita dikotori oleh wisatawan itu sendiri, oleh kita sendiri. Contoh saja Gunung Bromo, semakin berjalannya waktu semakin banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan gunung ini, bercanda-tawa, dan berfoto-foto diatas awan, upload di media sosial, dapat banyak jempol dan bangga. Namun banyak dari mereka yang tidak bertanggung jawab dengan membuang sampah di sembarang tempat.

Seperti pribahasa “Habis manis, sepah dibuang”, hal serupa juga terjadi di Gunung Semeru dan Rinjani. Untungnya ada beberapa kelompok yang menghargai warisan nenek moyang kita ini. Bermodalkan plastik berukuran besar, naik turun gunung sembari memunguti sampah.

“Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak,” seharusnya demikian.

Sesungguhnya banyak hal–hal kecil yang tampa kita sadari merupakan cermin manusia yang tidak merdeka dan aksi menyianyiakan alam ini. Contohnya saja saat berbelanja di pusat berbelanjaan. Disini kita bebas memakai plastik sebanyak apapun. Terkadang saya melihat ibu–ibu yang memakai plastik sesuka hatinya. Namun saya sempat mengalami dimana saya harus membayar sekantong plastik untuk membawa barang belanjaan saya. Hal–hal seperti itu bisa dicontoh oleh negara kita. Hal ini akan merangsang masyarakat untuk membawa tas sendiri untuk membawa belanjaannya dan secara tidak langsung memperbanyak aksi menjaga lingkungan.

Kita sendiri tahu bahwa mendaur ulang plastik membutuhkan waktu bertahun–tahun bahkan bisa mencapai ratusan tahun tergantung dari jenis plastiknya.

Tahun 2014, Belanda berinovasi dengan membuat solar road pertama di dunia. Solar panel tersebut dipasang di trotoar atau lintasan sepeda sepanjang 70 meter dan energi yang dihasilkan langsung disalurkan ke lampu jalanan sekitar. Dinyatakan bahwa bisa menghasilkan sekitar 70kWh untuk setiap meter persegi pertahunnya. Sebagai perbandingan, 3000kWh adalah energi yang dibutuhkan untuk rumah berukuran kecil untuk satu tahun. Bisa kita bayangkan berapa banyak energi yang dihasilkan jika teknologi ini diaplikasikan pada jalanan umum yang berkilo–kilometer panjangnya.

Pemanfaatan tenaga matahari sesungguhnya sudah dilakukan Indonesia. Mari lihat lebih jeli pada lampu jalan tol sekitar Jakarta–Bandung. Diatas lampu tersebut ada solar panel yang dirancang sedemikian rupa untuk menyimpan energi panas dari matahari di siang hari dan lalu energi yang telah disimpan kemudian digunakan untuk menyalakan lampu jalan tol secara otomatis pada malam hari.

Tahun 2012, Dahlan Iskan mengungkapkan bahwa kedepannya, semua lampu jalan tol harus menggunakan tenaga surya. Kita tahu bahwa saat ini sedang dikonstruksi jalan tol lintas Sumatra dan semoga lampu dengan energi terbaharukan ini benar dapat diaplikasikan. Semoga timbul kebijakan–kebijakan lainnya dari pemerintah yang bisa mendorong Indonesia menuju negeri yang lebih ramah lingkungan.

Lantas apa sih yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang sudah merdeka untuk menjaga dan melestarikan alam ini?

Tidak usah jauh–jauh harus menanam pohon atau mengambil sampah di gunung. Mulailah dari rumah kita sendiri atau kosan kita. Lihat apakah ada lampu yang menyala saat tidak digunakan? Lalu lihat charger hand phone kita, terkadang kita sering membiarkannya tercolok saat tidak digunakan bahkan tidak mencabut charger dari stop kontak sama sekali.

Lihat keran air kamar mandi kita, ada yang meneteskah? Kadang kita membiarkannya menetes karena hanya sedikit saja toh, tapi bayangkan jika ada seribu rumah melakukan hal yang sama. Dampaknya akan menggunung! Air terbuang sia–sia! Sedangkan di beberapa tempat kita tahu untuk mendapatkan air bersih pun sulit!

Alam ini diwariskan tidak hanya untuk kita namun untuk anak juga cucu–cucu kita. Mari kita jaga alam kita seakan kita menjaga keluarga kita!

Aku adalah alam. Alam adalah Aku.

Elioenai Sitepu

Elioenai Sitepu

Elioenai Sitepu, akrab dipanggil IO, kelahiran Jakarta 19 Desember 1991. Telah menyelesaikan program studi Sarjana Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung 2009 - 2013 dan program Master of Science Space System Engineering di University of Southampton 2013 -2014. Merupakan ketua dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Southampton 2013 – 2014. Saat ini sedang menyelami hidup sebagai guru matematika. Mempunyai banyak mimpi, salah satunya adalah berjabat tangan dengan Alien.

More Posts