August 17, 2015

7 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Kemerdekaan Lingkungan

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Tantangan kemerdekaan kita bukan lagi melawan senjata dengan senjata. Berbeda dengan perjuangan di masa lalu. Hari-hari ini kita memiliki tantangan dalam bentuk yang lain. Seperti, kemiskinan, korupsi, dan bagaimana merawat lingkungan.

Tulisan ini berkaitan kemerdekaan dengan lingkungan. Berikut ini 7 hal yang perlu saya, kamu dan kita ketahui, ingat lagi dan lakukan tentang kemerdekaan lingkungan:

Untitled

1. Pencegahan (Refuse)

Seperti kata pepatah, ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’, ini berlaku pada banyak konteks termasuk memerdekakan lingkungan. Definisi sampah pada UU RI 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, yakni sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Arti kata sisa adalah hasil dari kegiatan konsumsi kita yang tidak habis terkonsumsi. Maka dari itu sederhananya jika kita tidak ingin menghasilkan sampah, berarti kita harus mencegah mengkonsumsi produk yang akan menghasilkan sisa. Jadi bijaklah dalam mengkonsumsi, karena pada akhirnya kita perlu bertanggung jawab terhadap sisa hasil konsumsi tersebut atau sering kita sebut sampah tersebut.

 2. Pengurangan (Reduce)

Bijak atau hemat, adalah karakter yang sangat positif dan sulit untuk diimplementasikan. Contoh saja beberapa pekan lalu, kita merayakan Hari Raya Lebaran yang selain identik dengan momen untuk bersilahturahmi dan bermaafan, banyak orang merayakannya dengan membeli barang baru, minimal pakaian baru. Ditambah lagi kawasan komersil mendukung hal ini dengan memberikan diskon besar-besaran. Konsumerisme layaknya penjajah bagi lingkungan yang analoginya sebagai bangsanya. Senjatanya selain dengan langkah melakukan pencegahan, juga melakukan pengurangan. Namun perlu diingat mengurangi bukan berarti menyakiti diri sendiri karena menekan kebutuhan kita, melainkan kembali dan belajar pada karakter bijak dan hemat. Apakah pakaian lebaran tahun lalu sudah tidak dapat dipakai lagi sehingga kita perlu membeli pakaian  baru di tahun ini?

 3. Penggunaan (Reuse)

Kembali ke definisi sampah yang merupakan sisa hasil kegiatan atau konsumsi kita, pernahkah kita memikirkan jika memang itu sampah mengapa ada kawan-kawan kita yang mengambil sampah kita seperti Pemulung atau Lapak Barang Bekas? Hal tersebut adalah karena ada beberapa jenis sampah kita sebenarnya masih dapat digunakan kembali (Reuse), yang seharusnya kita masih dapat menggunakannya tanpa harus membuangnya lalu menjadi sampah. Produk-produk ini sebenarnya banyak yang sedang dikampanyekan oleh para aktivis atau pegiat lingkungan, seperti membawa tempat minum (tumbler), tempat makan (misting) hingga tas belanja pakai ulang (reusable bag) sendiri. Mari belajar dari perilaku sederhana namun berdampak ini.

 4. Daur Ulang (Recycle)

Hampir sama konsepnya dengan penjelasan di langkah ketiga di atas, daur ulang adalah proses kegiatan menggunakan kembali suatu produk, namun dengan proses yang lebih kompleks karena membutuhkan sistem hingga alat atau teknologi tertentu. Contohnya sampah telepon genggam (handphone), akan didaur ulang menjadi komponen awalnya sebisa mungkin, seperti alumunium, kabel-kabel, tembaga, chip, hingga emas. Atau daur ulang produk sederhana seperti sampah kemasan plastik sachet, yang diolah manual dengan tangan untuk menjadi produk kerajinan. Perlu diingat, langkah daur ulang ini bukan berarti murah, mayoritas proses dan biayanya jauh lebih mahal daripada kita mengkonsumsi produk tersebut di awal, sehingga proses ini perlu menjadi langkah ke-4 bukan yang pertama perlu dilakukan.

 5. Pemulihan (Recovery)

Pada dasarnya sampah mengandung materi-materi dari alam, sehingga hakekatnya sampah ini perlu dikembalikan ke alam supaya keseimbangan tetap terjadi. Maka pemulihan materi sampah ini perlu dilakukan sebagai lanjutan proses daur ulang. Proses pemulihan lebih rumit lagi, perlu diminimalkan terjadi sehingga ada di langkah ke-5. Biayanya pun tidak murah, biasanya hal ini dilakukan dalam proses industri dan khusus di jenis-jenis tertentu, contohnya pemulihan materi plastik jenis Polietilena tereftalat (PET) atau dalam produk plastik dengan kode (1), yang dikumpulkan dari sampah produk plastik bening yang umumnya dipakai pada kemasan air minum dalam kemasan. Prosesnya dengan sistem dan teknologi tertentu, sampah kemasan tersebut dapat diolah hingga menjadi bijih plastik (pallet) kembali.

 6. Buang (Disposal)

Langkah akhir ini adalah pembuangan, yakni sampah-sampah yang sangat sulit dilakukan dengan 5 langkah kegiatan di atas, sehingga memang perlu dibuang di tempat pembuangan khusus, atau kita sering sebut Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Saat ini langkah ke-6 ini memang seringkali dilakukan banyak orang termasuk Pemerintah sendiri sebagai langkah awal, padahal kita masih bisa melakukan ‘penyelamatan’ sampah tersebut. Oleh karena itu semoga paradigma kita menjadi lebih benar dengan melakukan piramida terbalik ini.

 7. Aksi (Action)

Langkah ini sebenarnya bisa-bisanya penulis dalam menambahkan langkah ke-7. Hal ini didasari atas realita bahwa seringkali manusia pandai membuat tulisan atau berkata-kata terhadap hal yang ideal, namun tidak dilakukan sama sekali di kehidupan riil nya. Oleh karena itu semoga tulisan ini tidak menjadi sampah, melainkan pengingat kita untuk memerdekakan lingkungan Indonesia dari sampah dengan melakukan aksi-aksi ini bersama warga negara Indonesia lainnya. Mari resapi kata Bung Karno ini, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Christian Natalie

Christian Natalie

Chief Environmental Officer, Greeneration Foundation.

More Posts