June 07, 2015

Mimpi Kemaritiman dan Pembangunan Manusia Indonesia

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Semua orang sudah sangat familiar ungkapan “Negara Maritim” dan dicekoki dengan istilah “Poros Maritim Dunia”, sebagai satu mimpi jualan utama dari Presiden Joko Widodo. Tak pelak, banyak pelaut dan profesional yang berkecimpung di bidang perairan sangat gandrung mengikuti perkembangan diskusi, debat, serta mengidam-idamkan implementasi dari mimpi Indonesia sebagai negeri arsipelago (kepulauan) menjadi “Poros Maritim Dunia”.

Dalam bukunya (“Studi Strategi, Logika Pembangunan Nasional”, 2014), Daoed Joesoef merumuskan pemahaman akan arsipelago, yang secara esensial bukanlah pulau-pulau yang dikelilingi air, tetapi air (lautan) luas yang bertebar pulau-pulau besar dan kecil, di mana air bukan berpembawaan pemisah. Rumusan pemahaman di atas pertama kali didengar oleh penulis dalam sebuah diskusi panel kemaritiman di ITB pada 2011. Dengan kata lain, jembatan untuk menghubungkan pulau memang penting, namun membangun sarana pelabuhan dan prasarana pendukungnya semestinya menjadi agenda utama.

Kita memang tak perlu mengelilingi Indonesia dulu untuk memiliki pemahaman kesahihan istilah arsipelago Indonesia, namun ketika mimpi poros maritim dunia didengungkan, sentimen nasionalisme dan kecintaan akan bangsa yang diwakilkan dengan istilah “tanah air” ini menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dibendung, Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi “poros” yang diimpikan. Namun jika boleh bertanya, apa yang dibutuhkan untuk menjadi negeri yang besar yang dibangun dengan wawasan kepulauan di atas?

Solusinya sebenarnya bisa didapatkan dengan mudah melalui jargon kampanye Presiden Joko Widodo, Revolusi Mental. Menurut penulis, mental terkait erat dengan pola pikir, dan pola pikir inilah yang mempengaruhi perilaku dan kemudian perilakulah yang nantinya membentuk karakter manusia tersebut. Karakter manusia yang kuat akan membentuk kemandirian, kemandirian bermimpi, memilih bekerja untuk menggapai mimpi tersebut, dan jika Indonesia dipenuhi manusia-manusia mandiri dalam bermimpi dan bekerja menggapainya, karakter dan etos bangsa akan terbentuk.

Membentuk manusia yang mandiri tentunya tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Thailand, misalnya, mengirimkan mahasiswanya untuk belajar berbagai disiplin ilmu ke negara maju. Setelah selesai belajar dan mungkin beberapa tahun berkarir di negeri-negeri maju, mereka memutuskan untuk pulang kampung. Mereka percaya bahwa Thailand adalah pusat alam semesta, dan akan selalu ada energi yang menarik mereka untuk pulang, dan membangun negeri mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Eksotisme Thailand bukanlah terjadi secara kebetulan. Dimulai dari kesadaran akan keunikan dan kekayaan, pembangunan manusia, dan jadilah Thailand.

Hal ini sebenarnya dapat dijadikan rujukan Indonesia. Indonesia lewat anak-anak bangsanya hendaklah dididik dan dibangun wawasan serta karakternya untuk mengenali negerinya, mengenali keunikan bangsanya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.466 pulau besar dan kecil dari Sabang sampai Merauke, merasakan pengalaman nyata bahwa Indonesia bukan hanya “tanah”, namun pula “air” yang jauh lebih luas. Manusia Indonesia harus dididik, dari pesisir terjauh, daerah-daerah pinggiran di mana anak bangsa ditempa menjadi manusia kepulauan (tanpa harus menjadi Pelaut Profesional),

Manusia Indonesia haruslah dengan sigap dan cermat mengenal perannya yang sangat strategis dan tanpa keraguan menangkap peluang untuk maju dan besar di mata dunia.

Manusia Indonesia adalah faktor terpenting dalam mengejar impian poros maritim dunia ini. Seperti yang sudah dan sedang terus dilakukan di negeri gajah putih, intelektual-intelektual muda Indonesia pun sudah seharusnya memikirkan untuk berjuang di pinggiran-pinggiran Indonesia, dengan segala pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan keunggulan wawasannya. Kita mengajarkan nasionalisme dan sejarah bangsa yang sejak dahulu dikenal bangsa-bangsa oleh faktor-faktor dan kekayaan naturalnya.

Tak ada lagi anak-anak daerah perbatasan dan kepulauan yang tak pernah mengenyam pendidikan dan transfer wawasan nusantara, wawasan bahwa Indonesia adalah sepotong besar “puding” manis penuh nutrisi, yang ditaburi “butiran-butiran coklat” pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia memang ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang strategis dan besar di tengah dunia, sebuah imagined community yang dicita-citakan oleh Bapak-bapak Pendiri Bangsa ketika dengan lantang menyerukan untuk “bertanah air satu, tanah air Indonesia.” Jalesveva jayamahe! 

Yanes David Sidabutar

Yanes David Sidabutar

Yanes David Sidabutar alumni ITB yang saat ini bekerja di Fugro Survey Pte. Ltd. Hobby membaca, diskusi, dan sedang mengembangkan lembaga pendidikan Sopo Helios di Pematangsiantar.

More Posts