June 07, 2015

Kepemimpinan Laut Berbasis Sumber Daya Perikanan

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Orientasi pembangunan nasional bangsa Indonesia mengarah ke laut telah mengalami beberapa kali perubahan. Penyebabnya adalah setiap presiden memiliki paham tersendiri tentang apa sebenarnya potensi Indonesia, apakah sebagai negara agraris atau maritim? Sejarah mencatat, Indonesia telah dikenal dengan tradisi maritimnya sejak Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Demak.

Namun, tradisi maritim ini tidak diteruskan oleh pemimpin kita. Presiden Soekarno, Soeharto, hingga Habibie tetap menganut paham agraris, walaupun Presiden Soekarno sempat menaruh perhatian pada sektor kelautan dan perikanan melalui Deklarasi Djuanda. Presiden Abdurrahman Wahid juga sempat menunjukkan keberpihakannya pada sektor kelautan, dengan membentuk Departemen Eksplorasi Laut yang sekarang berganti nama menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pada masa Presiden Megawati dan SBY, pembangunan nasional kembali lagi mengarah ke Agraris (main land). Pada bulan Oktober 2014 dengan dilantiknya Joko Widodo sebagai Presiden, visi laut Indonesia kembali muncul melalui ‘Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’.

Pertanyaan selanjutnya, apakah mudah mengembalikan kejayaan Indonesia seperti pada masa Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Demak?

Gail Osherenko, seorang ilmuwan kelautan Amerika menyatakan, “The most important key to success in ocean governance is leadership.” Tak pelak, kepemimpinan memang menjadi faktor kunci keberhasilan bagi pemerintahan yang ingin mengedepankan laut sebagai potensi negaranya.

Mengingat kompleksitas aspek kehidupan (sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi) yang terjadi di daratan tidak sama dengan di lautan, sehingga membutuhkan leadership yang berbeda. Misalnya saja, petani dan nelayan memiliki budaya tersendiri. Petani bercocok tanam secara menetap dan memiliki musim panen paceklik, sedangkan nelayan melaut secara berpindah-pindah dan tidak memiliki musim panen paceklik (berburu).

Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa kehidupan di daratan berbeda dengan di laut, sehingga pemimpin yang mampu memimpin di sektor daratan (khususnya pertanian) belum tentu bisa di sektor kelautan dan perikanan.

Lalu, sikap kepemimpinan seperti apa yang harus dimiliki oleh ocean leader untuk mewujudkan “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”? Dari sekian banyak teori tentang kepemimpinan, penulis berpandangan bahwa karakteristik sumber daya perikanan sebagai salah satu pendekatan yang tepat untuk diadopsi oleh ocean leader.

Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Terkadang kita merasa kuat dan tangguh untuk menghadapi persoalan yang ada karena kita mendapatkan perhatian dari saudara, teman, atau kerabat dekat kita di daratan. Kondisinya berbeda jika di laut yang aksesnya terbatas. Inilah landasan utama ocean leadership yang mengedepankan hubungan erat secara vertikal antara ocean leader dengan Tuhan-nya dan menyadari laut adalah ciptaan-Nya.

Berani mengambil resiko (high risk)

Laut adalah area yang terbuka (open access), sehingga fenomena alam dapat datang dari sudut mana saja seperti gelombang tinggi, arus deras, letusan gunung bawah laut yang mengakibatkan tsunami, hujan diikuti dengan petir, dan fenomena alam lainnya. Sebagai ocean leader, kebijakan-kebijakan yang memihak kehidupan nelayan dapat merugikan pihak lain, sehingga muncul kecaman. Sebagai contoh, kebijakan pelarangan penangkapan lobster yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengakibatkan aksi demonstrasi yang cukup besar di Lombok.

Berperan sebagai ibu

Secara filosofis, sumber daya laut merupakan milik bersama Warga Negara Indonesia. Dengan demikian banyak pihak baik masyarakat, pelaku bisnis, wisatawan lokal maupun mancanegara (khusus pemanfaatan jasa lingkungan laut) ingin memanfaatkan sumber daya laut baik hayati maupun non-hayati. Oleh karena itu, ocean leader harus berada di tengah-tengah para stakeholder, menjadi seorang Ibu yang selalu adil kepada anak-anaknya tanpa memandang status anak sulung atau bungsu. Disini ocean leader dituntut tidak arogan, tetapi menyerap aspirasi para stakeholder karena laut bersifat common property.

Bekerja bukan untuk popularitas

Laut memiliki sumber daya ikan yang bersifat invisible/tidak dapat terlihat secara kasat mata sehingga mengandung ketidakpastian usaha. Ocean leader bukan berarti dituntut untuk menjadi seorang peragu, tetapi ditekankan untuk bekerja tanpa pamrih bukan untuk tujuan popularitas. Banyak hal yang harus diselesaikan misalnya sidak pegawai, sosialisasi kepada nelayan, bertemu pelaku bisnis perikanan, dan lain sebagainya.

Aktivitas-aktivitas tersebut harus dilakukan oleh ocean leader secara invisible, sehingga usahanya diarahkan untuk untuk bekerja rill bukan melayani pertanyaan-pertanyaan wartawan media. Disarankan untuk tidak menciptakan media darling, hal ini berbahaya karena menimbulkan kealpaan kritik yang konstruktif.

Bekerja dinamis (highly perishable)

Sumber daya perikanan seperti ikan memiliki sifat yang mudah membusuk, maka dari itu dibutuhkan penanganan yang cepat. Maka, ocean leader harus bergerak cepat untuk menuntaskan permasalahan di laut. Tidak hanya itu, ocean leader perlu meluangkan waktunya untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan, apakah masih relevan untuk diterapkan atau direvisi.

Sebagai contoh, kebijakan larangan penangkapan lobster. Kebijakan ini ternyata tidak dapat diterapkan di Lombok, karena lobster adalah mata pencaharian utama nelayan di sana. Untuk itu diperlukan revisi peraturan menteri tentang pelarangan lobster agar tidak diterapkan di Lombok.

Pengelolaan laut seperti yang diungkapkan oleh Gail Osherenko terletak pada kepemimpinan. Pendekatan kepemimpinan yang didasari oleh karakteristik perikanan akan membantu ocean leader mewujudkan “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”. Dengan demikian, kejayaan Laut Indonesia dapat kembali diraih.

Jalesveva Jayamahe!

Herbeth Marpaung

Herbeth Marpaung

Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 jurusan Pengelolaan Sumber Daya Pesisi dan Laut di IPB.

More Posts