June 07, 2015

Laut itu Hati Saya

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Mencintai laut sejak lama dilakukannya. Jauh sebelum poros maritim di dengung-dengungkan. Kecintaannya pada laut yang membuatnya memutuskan menjadi pengajar dan peneliti kelautan di UNPAD. Apa yang membuatnya mencintai laut? Seberapa besar dampak pendidikan kelautan terhadap perwujudan poros maritim Indonesia? Simak wawancara FOKAL dengan Bang Noir Primadona Purba berikut ini.

FOKAL: Mengapa abang tertarik berkecimpung dalam bidang kelautan?

Bang Noir: Awalnya coba-coba saja. Namun setelah tiga tahun di bangku kuliah, bidang kelautan memang menjadi passion saya. Hingga saat ini, akhirnya saya masuk lebih dalam untuk membantu Negara ini mengelola laut dari sisi pendidikan dan penelitian. Laut itu hati saya, bahkan kalau tidak ke laut dalam 1 tahun saja, mungkin akan lain rasanya. Setelah hampir 15 tahun mempelajari laut, ternyata masih banyak yang harus dikerjakan. Bidang ini menjadi terkenal semenjak Jokowi meluncurkan istilah “poros maritim”. Akan menjadi lebih terkenal kalau perwujudannya dapat dinikmati masyarakat nelayan.

FOKAL: Apa hal menarik yang abang lihat dari kelautan Indonesia yang jarang atau tidak ada di negara lain?

Bang Noir: Pertanyaan yang menarik. Saya kira kita punya pulau-pulau bagus dan hampir semua fenomena kelautan yang ada di dunia ada disini. Kita memang disebut Negara maritim, tapi bagi saya jauh lebih daripada itu.

Takdir bahwa Majapahit ada di Indonesia dan takdir pula yang membuat kita lupa. Orientasi terhadap daratan, masih menjadi yang utama. Negara yang diapit samudra Hindia dan Pasifik dengan segala fenomenanya (muson, IOD, ENSO, ARLINDO), biodiversitas terumbu karang yang sangat tinggi sehingga disebut wilayah segitiga karang dunia, satu-satunya Bocoran Antar Samudra (BAS ) yang ada di lintang rendah.

Itulah mengapa banyak peneliti asing yang tertarik untuk perairan Indonesia dibandingkan Negara kita sendiri. Itu namanya unik kalau tidak mau dikatakan aneh. Itu baru sebagian saja, ada banyak yang dapat digali, namun kalau dibicarakan disini, saya yakin presiden akan bingung menentukan prioritasnya. Indonesia saya sebut dengan 1.000 potensi dan 2.000 masalah. Akan sangat sulit menyelesaikan masalah tersebut, jika mereka tidak mempunyai hati, kebijaksanaan, dan kreativitas.

FOKAL: Presiden Jokowi memiliki visi menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim. Bagaimana pendapat abang?

Bang Noir: Ketika membaca isi pidato presiden di KTT Asia Timur di Naypyitaw, Myanmar November 2014 yang lalu, saya sungguh tertegun dengan ketegasan bahasanya. Lima pilar yang digagas saya kira sudah mewakili kebutuhan laut. Saya paham benar bahwa Presiden sangat antusias sekaligus paham bagaimana konsep poros maritim. Walaupun dalam periode 7 bulan ini, belum kelihatan bagaimana aplikasinya di daerah.

Saat ini sedang banyak kegiatan seminar untuk mencari tahu rumusan yang tepat, ide yang menarik, dan cara pandang terhadap poros maritime itu sendiri. UNPAD sendiri akan mengadakan seminar poros maritim pada bulan Juni yang rencananya mengundang presiden. Jadi sepertinya masih membenahi yang dasarnya dulu. Saya kira beliau sedang membenahi sistem yang semrawut. Apakah ini on the track? Saya juga belum dapat melihat.

Menurut saya, akan sangat susah dalam beberapa tahun kedepan untuk mendapatkan hasilnya. Beberapa faktornya adalah adanya missing link antara pusat dengan daerah. Saya yakin bahwa daerah masih kesulitan untuk menerjemahkan konsep poros maritim. Apalagi konsep ini akan sedikit banyak merubah/mensinergikan rencana jangka panjang provinsi maupun daerah. Belum lagi kalau kita bicara perpolitikan. Tapi saya kira bicara masalah laut, tolong jangan disangkut pautkan dengan politik, kalau tidak mau bermasalah seperti daratan.

38_sosok 2

FOKAL: Apakah ada contoh negara di dunia yang berhasil menjalankan konsep negara maritim?

Bang Noir: Banyak, bahkan negara yang tidak disebut sebagai maritim pun, sudah dapat mengaplikasikannya. Jerman, Jepang, dan Inggris saya kira berorientasi pada sektor maritim, dengan tujuan yang berbeda tentunya. Kunci keberhasilannya saya kira ada di tujuan yang diemban oleh pemerintahan itu sendiri, hulu ke hilir sepakat akan tujuan yang ingin dicapai. Laut tidak akan mudah memberikan penghasilan bagi manusia, namun ia akan selalu memberikan secara kontinu.

Jepang harus memburu paus sampai ke Arktik, Indonesia tidak perlu sejauh itu untuk mendapatkan ikan tuna. Bahkan lagu Koes Plus berjudul “Bukan Lautan, Hanya Kolam Susu” adalah representasi laut Indonesia. Nelayan tidak pernah menabur benih di laut seperti petani di darat, tapi akan selalu mendapatkan hasilnya. Masalahnya budaya masyarakat kita yang selalu ingin instan. Ini pentingnya pemerintah, universitas, lembaga terkait turun tangan. Dibandingkan berbicara tentang potensi sumber daya laut Indonesia yang melimpah, alangkah lebih baik dan bijaksana berbicara bagaimana mengelola orang-orangnya. Itu yang paling rumit dan kompleks.

FOKAL: Apakah pendidikan kita, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sudah mendukung visi Indonesia sebagai negara maritim?

Bang Noir: Jujur bahwa sampai sekarang belum. Ya itu tadi, ada missing link antara pemerintah pusat yang tidak dapat diinterpretasikan oleh daerah. Pendidikan di pusat dan daerah juga sudah tahu dari dulu bahwa kita adalah Negara maritim. Sejarah mencatat kerajaan Majapahit, perdagangan, dan masuknya agama islam adalah salah satu sejarah yang kita pegang. Namun, penghayatan terhadap hal tersebut sepertinya hanya sejarah saja.

Kami di perguruan tinggi juga sedikit kesulitan memulai dari mana, dan metode yang bagaimana untuk menularkan keberadaan laut itu kepada generasi muda. Diperlukan pemahaman yang komprehensif sekaligus radikal agar kita bisa memerdekakan laut. Sepertinya akan tetap menjadi wacana kalau Jokowi tidak memperhatikan ini sampai ke akar-akarnya. Dibandingkan dengan pendidikan dasar, pendidikan tinggi sebenarnya sudah jauh membentuk fakultas-fakultas yang berbicara laut dan melakukan penelitian dasar yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan. Sebenarnya pemerintah tinggal mengkompilasi saja kebenaran kebenarannya.  

FOKAL: Apa saja yang perlu dibenahi agar Indonesia dapat menjadi poros maritim dunia?

Bang Noir: Sangat sangat banyak. Kalau dalam pandangan saya, 10 tahun kedepan kita baru bisa merasakan manfaat sekitar 40% dari pandangan poros maritim dengan asumsi bahwa arahnya on the track dan Jokowi juga timnya bekerja keras. Saya kira pembenahan terhadap kelembagaan dan Sumber Daya Manusia harus menjadi prioritas. Presiden juga harus mempunyai blueprint yang sangat detail yang harus dijadikan sistem terstruktur dan sinergi. Investasi dari luar sebenarnya tidak haram untuk pengembangan laut, selama kegiatan itu dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

FOKAL: Apakah abang memiliki inovasi ataupun gagasan terkait pengembangan kelautan kita?

Bang Noir: Berbicara laut tentu berbicara pulau-pulau kecilnya. Saya ingin masuk pada bagian itu. Konsep saya adalah menggabungkan penjara koruptor dan pertahanan keamanan. Ada hampir 14.000 pulau kecil, 92 pulau terluar, dan kurang dari 30% yang dihuni oleh manusia. Saya melihat bahwa pulau-pulau kecil tersebut, layak untuk dihuni atau tidak layak untuk dihuni. Mari melihat pulau-pulau yang tidak layak tersebut karena pulau yang gersang, jauh dari daratan utama, atau masih terisolasi. Sebenarnya pulau-pulau ini dalam bayangan saya dapat dijadikan sebagai penjara koruptor dan narkoba. Daripada penjara yang ada di kota besar dengan banyak tantangan seperti sinyal telepon, pengamanan yang ketat, dsb, lebih baik penjara itu dipisahkan ke pulau-pulau kecil. Pulau itu dapat dijadikan sebagai penjara sekaligus juga sebagai pangkalan angkatan laut. Lebih efesien karena tidak ada sinyal (hahaha). Saya lihat juga para koruptor dan gembong narkoba adalah orang-orang kaya sehingga untuk menjenguk tidak akan ada masalah di transportasi yang mahal. Seperti halnya Nusa Kambangan, namun disatukan dengan pangkalan AL.

FOKAL: Menurut abang apa yang bisa dilakukan oleh para pemuda untuk dapat terlibat dalam upaya mengembalikan citra Indonesia sebagai negara maritim?

Bang Noir: Pemuda yang tinggal di pesisir, kota, pulau saya kira mempunyai tanggung jawab dan alasan untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara maritim. Kami sudah hampir mengelilingi 3.000 pulau dari 14.664 pulau yang ada di Indonesia dan kita akan sangat bersyukur bahwa kita tinggal di Indonesia. Mari mencintai laut Indonesia.

Pemahaman sebagai Negara maritim bukan saja dilihat dari pembangunan infrastruktur, tapi lihat juga bagaimana kita menjaga kedaulatan Indonesia. Kita harus malu bahwa kita ada di posisi 10 besar sebagai negara penyumbang sampah ke laut. Bahkan di pulau tidak berpenghuni juga ada sampah. Sampah ini berasal dari buangan masyarakat dan nelayan. Kita mulai dari yang kecil-kecil saja dulu. Saya kira kita harus ingat perkataan sukarno “beri aku 10 pemuda, maka aku akan mengguncang dunia” periu diaplikasikan dalam konteks ini.

 

38_sosok 3Biodata:

Nama: Noir Primadona Purba

Pekerjaan:

Pengajar di Universitas Padjadjaran dalam bidang kelautan

Peneliti di Kelompok Studi Instrumentasi dan Survei Kelautan (KOMITMEN Research Group)