April 01, 2015

Perjuangan Kuliah di Luar Negeri

374 Flares Twitter 0 Facebook 374 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 374 Flares ×

Kuliah ke luar negeri gratis melalui jalur beasiswa, memang menjadi incaran banyak mahasiswa di Indonesia, khususnya bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S2. Banyaknya peminat jalur beasiswa ini juga diimbangi dengan banyaknya program beasiswa dari berbagai sumber.

Sebut saja beasiswa dari pemerintah Indonesia, yang disalurkan melalui LPDP, Dikti, Kemenkominfo, hingga dari pemerintah negara sahabat seperti Fulbright (Amerika Serikat), Quota Scheme (Norwegia), DAAD (Jerman), KGSP (Korea Selatan). Beberapa perusahaan seperti Sampoerna dan Djarum juga tidak absen memberikan beasiswa untuk berkuliah di luar negeri.

Saya adalah salah satu mahasiswa yang cukup beruntung bisa mendapatkan beasiswa di tahun 2013 dan berkesempatan berkuliah di luar negeri dengan gratis. Untuk itu, ada sedikit pengalaman yang ingin saya bagikan mengenai kuliah gratis di luar negeri. Yang harus diingat baik-baik adalah, kuliah ke luar negeri—gratis maupun biaya sendiri—memang tidak mudah, butuh perjuangan, dan juga strategi.

Perjuangan dimulai dengan mencari informasi mengenai universitas tujuan, syarat-syarat masuk, korespondensi dengan pekerja akademik atau dosen terkait, dan tentunya mencari informasi tentang beasiswa yang tersedia.

Biasanya, kampur di luar negeri mencantumkan beberapa syarat standar seperti nilai tes kemampuan berbahasa asing (IELTS dan TOEFL) atau nilai spesifik bahasa sesuai Negara tujuan, statement of purpose atau motivation letter, esai tentang topik tugas akhir yang nanti akan ditulis, surat rekomendasi, esai non-akademis, dan juga transkrip akademik. Negara seperti Amerika Serikat dan Kanada bahkan mengharuskan kita untuk mengambil tes GMAT, GRE, atau SAT.

Dari daftar persyaratan diatas sudah bisa terbayang kan sulitnya kuliah ke luar negeri? Belum lagi biaya yang dikeluarkan juga tidak murah. Setidaknya kita harus keluar uang untuk tes IELTS/TOEFL/GMAT, dan juga biaya untuk mengirim berbagai dokumen yang diminta pihak universitas atau pemberi beasiswa.

Namun seperti ada pepatah “If there is a will, there is always a way”. Selalu ada jalan untuk mewujudkan impian kuliah keluar negeri asalkan ada motivasi yang kuat, usaha, dan juga doa.

Now let’s talk about motivation!

Motivasi berkuliah di luar negeri untuk setiap orang berbeda-beda. Ada yang ingin belajar hidup mandiri di negeri orang, ada yang ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik, ada yang diwajibkan atau termotivasi oleh keluarganya, atau tidak sedikit yang sekedar ingin jalan-jalan dan cari pengalaman yang berbeda.

Motivasi saya sendiri adalah gabungan dari keinginan untuk belajar lebih banyak, hidup mandiri di negeri orang, dan tuntutan keluarga. Motivasi menjadi salah satu unsur penting yang kelak membuat kita kuat menjalani sulitnya hidup dan belajar di negeri orang.

2

Now let’s explore how to live in different country!

Melanjutkan sekolah di luar negeri buat saya sendiri susah-susah gampang dan banyak suka dan dukanya. Mari kita mulai dengan dukanya. Pertama-tama, materi kuliahnya lebih susah, academic report nya lebih banyak, dan penilaiannya lebih sulit. Sementara dari sisi non-akademis, jarak yang memisahkan kita dari orang terdekat, suhu dingin yang cukup ekstrim, makanan yang hambar, bahasa yang berbeda, orang Indonesia yang sedikit, dan suasana kota yang cenderung sepi membuat saya kangen setengah mati dengan Jakarta.

Meskipun begitu, suka nya juga tidak kalah banyak dan jauh lebih bernilai. Tinggal di luar negeri memberikan saya kesempatan untuk melatih komunikasi berbahasa inggris, belajar bahasa yang baru, membangun jejaring di tingkat internasional, melatih kemandirian.

Tak hanya itu, tinggal di luar negeri membaut hidup lebih sehat karena udaranya lebih bersih dan jadi lebih sering berolahraga, belajar mengatur finansial, dan mendapat kesempatan belajar budaya asing, mempromosikan budaya Indonesia dan jalan-jalan ke berbagai tempat baru.

Berbagai cara saya gunakan untuk mengatasi dukanya berkuliah di luar negeri. Untuk mengobati rasa rindu dengan orang rumah saya biasanya rutin skype atau face-time atau sekedar mengirim SMS dan Whatsapp. Untuk urusan makanan, berhubung makan di luar menghabiskan uang tidak sedikit dan rasanya juga lumayan hambar saya memilih untuk masak sendiri.

Masak sendiri benar-benar menghemat pengeluaran sehingga sisa uang beasiswa yang ada bisa saya tabung sebagian dan sebagian lagi saya gunakan untuk jalan-jalan ke tempat yang baru. Mencari makanan Indonesia juga lumayan susah di kota tempat saya kuliah jadi sebelum berangkat kesini, orang tua sudah siap sedia membekali saya dengan aneka bumbu tradisional Indonesia, ikan teri, dan rendang.

Berkuliah di luar negeri, apalagi gratis, untuk saya adalah sebuah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Namun dibalik segala keuntungan yang ditawarkan ada tanggung jawab yang tidak kecil juga.

Tanggung jawab itu adalah kewajiban untuk berprestasi di bidang akademik dan terkadang ada “kontrak” untuk kembali ke tanah air. Sekalipun berat tapi kalau dibandingkan dengan segala keuntungan yang didapat, tanggung jawab berprestasi buat saya sudah menjadi sewajarnya.

Justru dengan berprestasi kesempatan untuk lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja di luar negeri menjadi lebih terbuka. Ingin bekerja di luar negeri atau di Indonesia menurut saya adalah hak memilih setiap individu namun ada baiknya jika kelak kita bisa kembali ke Indonesia, bekerja dan turut membangun negara tercinta kita. 🙂

Semoga tulisan saya sedikit memberi gambaran mengenai kuliah gratis ke luar negeri ya, selamat mencoba dan berjuang.

Christiovina Elisabeth

Christiovina Elisabeth

Christiovina Elisabeth, lahir di Jakarta 31 January 1989. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di University of Stavanger, Norway jurusan Industrial Asset in Offshore Technology. Hobby jogging dan cooking. Motto: “Pray hard and work hard, those are the only matters in life”

More Posts