March 31, 2015

Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung

35 Flares Twitter 0 Facebook 35 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 35 Flares ×

Masih belum mumpuninya kualitas pendidikan di Indonesia, membuat mahasiswa di Nusantara pasti pernah terbersit untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Jaminan kualitas yang lebih baik, peningkatan karier, dan pengalaman hidup, membuat studi di luar negeri menjadi idaman banyak mahasiswa Indonesia.

Sejak beberapa dekade yang lalu, studi lanjut ke luar negeri melalui jalur beasiswa memang bukan hal yang aneh lagi. Namun, mungkin baru belakangan ini semakin banyak sumber beasiswa yang tersedia. Misalnya saja beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan yang dalam 2 tahun terakhir sudah mengirimkan sekitar 1700 mahasiswa ke luar negeri (Kompas.com).

Meski daya tarik seperti teknologi maju, budaya yang berbeda, dan pengalaman baru menjadi penggoda untuk kuliah di luar negeri, banyak aspek lain yang harus disiapkan dan dipertimbangkan. Semua urusan baik secara material, finansial, tak lupa kesiapan mental harus sangat diperhatikan agar kuliah bisa berjalan dengan lancar.

Salah satu masalah yang paling sering dihadapi oleh pelajar asing adalah culture shock atau ketidaksiapan berhadapan dengan budaya sosial yang baru. Setiap daerah di dunia ini pasti mempunyai budaya yang berbeda, bahkan di dalam satu negara seperti Indonesia. Negara yang berada di daratan Asia terutama bagian timur dan tenggara tentu saja memiliki budaya yang lebih mirip daripada budaya Amerika maupun Eropa.

Budaya yang berbeda tidak hanya terjadi secara praktis, namun juga terjadi karena pola pikir hasil kebudayaan selama berabad- abad.  Itulah mengapa orang asing yang tinggal di Indonesia akan merasa heran dengan pola pikir bangsa kita yang begitu berbeda dengan negerinya.

Seperti dijelaskan oleh Hisanori Kato dalam bukunya “Kangen Indonesia, Indonesia di Mata Orang Jepang.” Kebiasaan orang Indonesia yang terkesan sedikit “santai” membuatnya tidak habis pikir ketika ia membandingkan dengan kebiasaan orang Jepang.

Sama halnya ketika kita akan pindah ke luar negeri, persiapan bahasa dan menambah wawasan dari berbagai media sangat diperlukan.  Tak lupa untuk mencari pengalaman dari sesama warga Indonesia yang sudah berada di tempat tujuan.

4

Hal- hal sesederhana bahasa dan wawasan, jika tidak dipersiapkan dengan baik, dapat berakibat kurang baik, dalam hal ini gangguan dalam berkomunikasi dan berelasi dengan orang lain.  Padahal, interaksi sangat diperlukan dalam kegiatan sehari- hari.  Contoh singkat, bagaimana kita bisa melakukan hal- hal sederhana seperti makan, berbelanja, dan hal- hal lainnya jika kita tidak bisa berbahasa dengan baik?

Selain bahasa, kebiasaan masyarakat juga akan mempengaruhi keberhasilan kita beradaptasi dengan lingkungan.  Tidak mungkin kita dapat mempertahankan kebiasaan di Indonesia untuk beradaptasi di luar negeri.  Kita pasti harus menyesuaikan ritme hidup dengan ritme masyarakat yang sudah ada.

Ada salah satu tagar di twitter yang ditujukan untuk mengakomodasi bagaimana mengatasi kendala culture shock yang terjadi, yaitu #reversecultureshock.  Lewat tagar tersebut, kita bisa membaca pengalaman sehari- hari yang diceritakan di kicauan orang lain, maupun pranala- pranala artikel dan tips- tips untuk beradaptasi.

Tak lupa dengan kondisi cuaca dan iklim yang berbeda.  Bagaimana kita bisa mempersiapkan semuanya dengan baik? Tentunya dengan mencari informasi dari sumber yang terpercaya, contohnya pusat kebudayaan, kedutaan besar, dan dari internet dan situs- situs terpercaya.  Persiapan yang matang dan menyeluruh pasti akan jauh mempermudah proses adaptasi yang akan dihadapi.

Tanpa melupakan identitas kita sebagai orang Indonesia, adaptasi dan culture shock bisa ditangani dengan baik, apabila persiapan kita matang. Menyesuaikan diri dengan budaya dan keadaan sosial yang berbeda, akan semakin menantang kita untuk bisa terus maju, mengambil hal- hal yang baik, dan tidak mengambil yang kurang sesuai.

Tak lupa dengan peribahasa “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, kemampuan membawa diri dengan baik akan membuat kita semakin handal menghargai dan dihargai oleh orang lain.

Lydia Utami

Lydia Utami

Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”

More Posts