August 16, 2014

Menerobos Zona Nyaman

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“Yang penting mapan”, kalimat ini mungkin cukup nyeleneh dan cenderung menggambarkan seseorang yang egois. Tetapi, benarkah seseorang yang mapan otomatis memilki perilaku egois sehingga dia tidak lagi melihat keadaan sekitar atau bahkan ‘memapankan’ diri sendiri di atas penderitaan orang lain? “Ah! Yang penting gw dulu deh, yang lain ntar aja.”

Menurut KBBI, mapan adalah mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya). Kemapanan sendiri berarti hal keadaan mantap; kepuasaan dengan diri sendiri. Nah, apabila seseorang sudah mapan artinya orang tersebut sudah berada pada tahap kehidupan yang stabil, yang ditandai dengan kemampuannya memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, yaitu pangan, sandang dan papan.

Orang tersebut sudah tidak pusing lagi memikirkan harus tinggal di mana, bisa membeli baju baru, mampu membeli makanan secara teratur, dan lain sebagainya.

Jadi, normal saja kalau seseorang memiliki keinginan menjadi mapan. Keinginan tersebut manusiawi karena didorong oleh kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Model teori motivasi Maslow juga menyatakan demikian, dimana ada jenjang kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi sampai kepada tingkat paling atas yaitu aktualisasi diri.

Oleh karena itu sangat wajar apabila ada orang tua yang berusaha memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya, dengan harapan anak tersebut bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dengan pendapatan yang mampu memberikan kehidupan yang lebih baik. Ujungnya adalah mewujudkan kehidupan yang stabil.

Kemapanan adalah hal yang perlu kita capai. Namun, jangan lupa, kita juga harus mampu mengukur, sejauh mana kita mampu mencukupkan diri dan bagaimana caranya mencapai kemapanan itu.

Ketidakmampuan dalam memberikan batasan tingkat kemapanan yang ingin dicapai akan berakibat pada gaya hidup konsumtif, yang nantinya akan berujung kepada memperkaya diri sendiri. Dan, ini adalah cikal bakal terbentuknya korupsi.

Hal lain yang perlu kita perhatikan, mencapai kemapanan bukan berarti berhenti bergerak atau larut dalam zona nyaman. Meskipun kita sudah mendapatkan pekerjaan yang baik atau usaha bisnis kita sudah berjalan dengan baik.

Setiap orang perlu memiliki dan menumbuhkan semangat kewirausahaan, baik nantinya akan memilih sebagai karyawan ataupun pengusaha. Seorang karyawan harus memiliki mental intrapreneur; layaknya karyawan tersebut sebagai pemilik dari perusahaan dimana dia bekerja dan begitu pula seseorang yang memiliki usaha otomatis disebut sebagai entrepreneur.

Saya yakin orang-orang yang memiliki jiwa kewirausahaan baik yang bekerja untuk perusahaan (intrapreneur) maupun membangun usaha sendirinya (entrepreneur) tentunya tidak hanya mencari kemapanan atau stabiliitas terutama secara finansial, tetapi mereka akan terus bergerak dan bertumbuh untuk mencapai target atau tujuan yang lebih dalam, visi jangka panjang yang mereka miliki.

Semangat atau mental wirausaha ini perlu dibangun dari level individu dan saya yakin akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian negara.

Secara khusus, apabila kita mencoba melihat dari sisi pertumbuhan pengusaha yang sudah mencapai sekitar 1.65% maka ini akan memberikan kepercayaan diri terhadap perekonomian yang lebih baik ke depannya untuk Indonesia, dimana target yang ingin dicapai di 2% untuk tahun 2014.

Ditambah, dengan terpilihnya Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden RI untuk periode 2014-2019, memberikan pengharapan kepada dunia usaha untuk birokrasi yang lebih efisien dan optimal sehingga akan mendorong tumbuhnya calon-calon pengusaha di Indonesia.

Menjadi mapan adalah pilihan, dan berada pada kondisi status quo bukan merupakan sebuah pilihan yang baik menurut saya. Anda dan saya harus mencapai kemapanan menurut standar kita masing-masing, tetapi kita juga harus memiliki dan memupuk semangat kewirausahaan sebagai pendorong untuk terus bergerak ke depan dan tidak hanya berdiam diri saja menikmati kemapanan yang sudah dicapai.

Sumber:
Badan Pusat Statistik (2014) Berita Resmi Statistik, Available: http://www.bps.go.id/brs_file/pdb_05mei14.pdf [02 Aug 2014]
Birol, A. Intrapreneur or Entrepreneur, Available: http://entrepreneurs.about.com/cs/makingthechoice/a/intrapreneur.htm [02 Aug 2014]
Businessbalss.com Maslow’s Hierarchy of Needs, Available: http://www.businessballs.com/maslow.htm [02 Aug 2014]
Deny, S. (2014) Jurus Chairul Tanjung Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI, Available: http://bisnis.liputan6.com/read/2054897/jurus-chairul-tanjung-dongkrak-pertumbuhan-ekonomi-ri [02 Aug 2014]
KBBI, Available: http://kbbi.web.id/mapan [02 Aug 2014]
Triananda, K (2014) Pemerintah Targetkan Jumlah Wirausaha Dua Persen di 2014, Available: http://www.beritasatu.com/ekonomi/177343-pemerintah-targetkan-jumlah-wirausaha-dua-persen-di-2014.html [02 Aug 2014]
Williams, D. (2013) The 4 Essential Traits of ‘Intrapreneurs’, Available: http://www.forbes.com/sites/davidkwilliams/2013/10/30/the-4-essential-traits-of-intrapreneurs/ [02 Aug 2014]
Albert Tommy

Albert Tommy

Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta. Bidang yang diminati: Marketing, Human Resources, Organization Development. Quote favorit, “Don’t work for a person. Do work for yourself and for God for the value you should fight for.” – Kornel M. Sihombing

More Posts