March 20, 2014

Yuk Memilih!

9 Flares Twitter 0 Facebook 9 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 9 Flares ×

Apakah Anda turut memilih pada Pemilu tahun 2009? Apakah Anda sudah mengetahui tata cara memilih yang benar? Apakah Anda mengetahui partai apa saja yang berpartisipasi dalam Pemilu 2014?  Itulah beberapa pertanyaan yang penulis baca dalam survey yang diadakan baru-baru ini.

Survey yang dilakukan oleh akun twitter @YukMilih pada mahasiswa di salah satu universitas di Bandung menunjukkan bahwa 61% dari responden belum mengikuti Pemilu pada tahun 2009.  Sementara itu, survey yang dilakukan @PemudaMemilih pada pemuda beberapa gereja di Bandung menunjukkan bahwa terdapat 50% responden untuk isu yang sama.

Persentase pemilih yang akan mengikuti Pemilu untuk pertama kalinya tahun 2014 secara nasional sebesar 11,7%, dengan porsi pemilih berusia 17-29 tahun sebesar kurang lebih 29% dari seluruh pemilih (www.TheJakartaPost.com).  Data- data tersebut menunjukkan bahwa pemilih pemula menempati porsi yang cukup besar dalam keseluruhan pemilih.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa kebanyakan generasi muda di Indonesia tidak terlalu akrab dengan pemilu.  Hal tersebut didukung dengan hasil survey yang dilakukan oleh The Asia Foundation yang menunjukkan bahwa hanya 23% dari pemuda Indonesia yang tertarik pada politik.

Lebih lanjut, survey oleh @YukMilih pada responden di universitas di Bandung menunjukkan bahwa 80% responden belum mengetahui para calon legislatif di daerah asal mereka.  Sebanyak 65% dari 20% responden yang sudah mengetahui pun belum mempunyai pilihan.

Padahal, data yang tersaji menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memegang peranan sangat penting dalam menentukan hasil pemilu. Menurut situs berita Australia ABC.net.au, hasil dari Pemilu di Indonesia akan sangat bergantung pada swing voters.

Swing voters merupakan istilah yang mengacu pada kelompok pemilih yang secara umum tidak dapat diprediksi karena pilihannya yang sangat acak. Di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat 35-40% swing voters yang sebagian besar berusia muda sehingga diperlukan upaya dari calon legislatif untuk merangkul kelompok ini dan memenangkan suaranya.

Oleh karena itu, generasi muda memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan nasib bangsa ini.  Sebagai pemegang hak memilih, seharusnya pemilih juga dapat bertanggung jawab dalam memilih. Beruntung, saat ini, berbagai informasi dapat diperoleh dari internet. Beberapa akun yang telah disebutkan di atas dan @ayoVote memberikan informasi mengenai pemilu dalam konteks yang mudah dimengerti oleh kalangan muda.

KPU, sebagai penyelenggara Pemilu, juga mulai menggunakan teknologi dan media sosial untuk mengenalkan pemilu dan merangkul semua kalangan, terutama generasi muda.  Situs DPT menyediakan berkas profil calon legislatif sehingga rekam jejaknya dapat dilihat oleh semua kalangan. KPU sendiri agaknya mulai menyadari fungsi institusionalnya sebagai salah satu pendidik masyarakat dalam hal kewarganegaraan

Media sosial, tidak dapat dipungkiri memegang peranan sangat penting dalam menyebarkan informasi.  Di Amerika Serikat (AS), Presiden Barack Obama merupakan salah satu contoh pengguna media sosial yang sukses memenangkan pemilu akibat gencarnya kampanye dan interaksi publik melalui berbagai media sosial. Maraknya penggunaan media sosial tentu sangat berguna bagi pemilih pemula untuk mengumpulkan informasi.

Thomas Jefferson, presiden AS ke-3, mengatakan bahwa demokrasi hanya akan terjadi pada masyarakat yang terinformasi dengan baik sehingga setiap pilihan yang dibuat merupakan pilihan yang bertanggung jawab. Demokrasi yang diagung-agungkan sebagai suatu tatanan ideal untuk negeri ini tidak akan tercapai jika rakyatnya apatis dan tidak ingin tahu, terlebih generasi muda yang secara usia masih akan berkontribusi membangun bangsa dalam jangka waktu yang panjang.

Mengutip perkataan filsuf Yunani, Pericles, mungkin kita kurang tertarik dengan politik, namun politik akan sangat tertarik dengan kita, para masyarakat. Oleh karena itu kita perlu berperan aktif dalam menentukan masa depan negeri ini, yang tidak dapat dipungkiri penuh dengan berbagai intrik politik. Salah satu cara untuk mempertahankan iklim politik yang sehat adalah dengan memilih secara bertanggung jawab.

Media cetak, sosial, dan komunitas dapat turut berperan aktif dalam melebarkan gaung pemilu serta tata cara memilih yang benar. Generasi muda yang secara umum lebih cakap dalam penggunaan berbagai media sosial, juga dapat berperan aktif untuk menyebarkan informasi kepada lingkaran sosialnya, baik dalam lingkungan nyata maupun dunia maya. Publik yang teredukasi dengan baik merupakan harapan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Yuk memilih!

Lydia Utami

Lydia Utami

Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”

More Posts