March 20, 2014

Tuesdays with Morrie

13 Flares Twitter 0 Facebook 13 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 13 Flares ×

Tuesdays with Morrie: Pertemuan Selasa Yang Tak Sekedar Belajar Memaknai Hidup

“….Peradaban ini mengajarkan banyak hal yang keliru. Dan kita harus cukup tangguh untuk berani mengatakan bahwa bila budaya itu tidak sesuai dengan hati, jangan diteruskan. Ciptakan budaya kita sendiri….” – Morrie Schwartz

Karya Mitch Albom yang satu ini memang unik. Dibuat berdasarkan kuliah yang dijadwalkan setiap Selasa dengan sang profesor, Morrie Schwartz. Dimulai seusai sarapan. Judulnya Makna Hidup. Bahan-bahannya digali dari pengalaman. Ah, perkuliahan yang langka.

Belajarlah bersamaku

Agustus 1994, Morrie dan istrinya, Charlotte, mendapatkan kabar yang tak menyenangkan. Morrie menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), atau penyakit Lou Gehrig, suatu penyakit ganas yang menyerang sistem saraf.

Awalnya sering dimulai dari kaki, terus menjalar ke atas. Kita kehilangan kendali atas otot-otot paha sampai tidak mampu berdiri lagi. Kita kehilangan otot-otot punggung kita, sampai tak mampu duduk tegak lagi. Andai pun masih hidup, kita hanya mampu bernapas lewat sebuah pipa yang ditusukkan ke tenggorokan, dan meskipun nyawa kita masih ada, kesadaran masih ada, semua itu terkungkung di dalam tubuh lumpuh, yang barangkali hanya mampu berkedip, atau berdecak, seperti manusia beku yang kita saksikan dalam film-film fiksi ilmiah.

Apakah hal ini membuat Morrie berdiam diri dan ‘menyerah’ begitu saja pada nasib? Ternyata tidak. Sebaliknya, Morrie membuat sisa hidupnya, hari-harinya, sebagai proyeknya yang terakhir. Morrie seperti kitab terbuka yang berkata: “Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.”

Cinta adalah satu-satunya perbuatan rasional

Kita mungkin tak mengenal mereka yang menjadi korban perang atau bencana alam di belahan dunia lain. Namun, karena kita manusia, maka kita punya keterikatan emosional, simpati atau empati pada apa yang mereka alami. Karena keberadaan cintalah, maka manusia menjadi kuat dalam menempuh perjalan hidup dengan beragam rintangannya, bukan membuatnya lembek.

Morrie mengutip ucapan Levinas: “Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.” Ya, kita mungkin pernah mendengar ataumorrie buku menyaksikan kisah-kisah nyata ketika orang-orang yang tak saling kenal, bahu membahu, bertolong-tolongan dalam upaya penyelamatan mereka yang terkubur dalam reruntuhan bangunan akibat sebuah gempa dahsyat. Atau upaya menemukan mereka yang masih hidup diantara ribuan mayat akibat hempasan gelombang Tsunami. Apalagi alasannya, jika bukan karena cinta: perbuatan, tindakan yang rasional.

Aristoteles (384-322 S.M.) bahkan telah pula menggaungkan perspektif serupa Morrie: “Tentu saja tidak masuk akal jika membayangkan seseorang menerima banyak berkah tetapi menyendiri; sebab tidak seorang pun yang ingin memiliki segala yang baik namun menyendiri, sebab manusia adalah mahluk politik, yang sifatnya cenderung hidup bersama orang-orang lain.”

Soal mengasihani diri sendiri, Morrie berkata: “Aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tetapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku…”

Kita mungkin sering menghabiskan waktu untuk mengasihani diri sendiri, yang membuat perjalanan hidup mandeg, padahal semestinya berlanjut dan diisi dengan beragam karya serta prestasi. Terjatuh itu biasa dalam hidup. Tapi jadi tidak wajar ketika kita membiarkan diri terkubur dalam kejatuhan itu, tanpa berupaya bangkit dan menata kembali hidup.

“Kadang-kadang kita tak boleh percaya kepada yang kita lihat, kita harus percaya kepada apa yang kita rasakan. Dan jika kita ingin orang lain percaya kepada kita, kita harus merasakan bahwa kita dapat mempercayai mereka juga – bahkan meskipun kita sedang dalam kegelapan. Bahkan ketika kita sedang terjatuh.”

Morrie mengingatkan kita agar mengerjakan segala sesuatu secara berbeda, bagaimana kita harus hidup dan menghayati dunia ini secara penuh, karena kita mestinya percaya akan kematian yang akan terjadi pada diri kita. Bicara tentang keluarga, biasanya kita abai atau lupa bahwa ketika kondisi sakit, sedih, atau terpuruk, peran keluarga sangat mempengaruhi daya hidup kita dalam melewati masa-masa kritis.

Morrie mengutip kata-kata seorang penyair besar Auden: “Saling mencintai, atau punah dari muka bumi.” Bahwa keluarga berperan tak hanya memberikan cinta, melainkan juga membuat kita tahu ada orang yang memperhatikan kita. Tidak ada yang dapat menggantikan peran tersebut. Tidak  harta. Tidak pula kemasyhuran.

Tentang uang, Morrie mempunyai sudut pandang yang mungkin kebanyakan kita akan sepakat dengannya, meski dalam praktiknya kita cenderung memilih menjadikan uang sebagai satu-satunya ‘harapan’ pemuasan hidup:

“….yang sangat didambakan orang-orang itu pada dasarnya adalah kasih sayang namun karena tidak mendapatkannya, mereka mencari ganti dalam bentuk-bentuk lain. Mereka mengikatkan diri pada harta benda dan mengharap semacam kepuasan dari situ. Akan tetapi usaha mereka tidak pernah berhasil. Kita tidak dapat menukar cinta, kelembutan, keramahan, dan rasa persahabatan dengan harta benda.”

Buku ini tak sekedar menyuguhkah kisah pertemuan setiap Selasa. Tak hanya sebuah catatan hidup dan bermakna yang masih relevan dan senantiasa ‘tumbuh’ di setiap zaman dalam tumbuh kembang peradaban umat manusia.

Lebih dari itu, dialog-dialog yang terjadi antara Morrie dan Albom, semestinya menggugah kita untuk “berhenti sejenak”.

Apakah tujuan hidup kita jelas dan kita sedang melangkah pada jalur yang semestinya dalam perspektif yang benar?

Ataukah kita justru menyimpang terlalu jauh dalam memaknai dan menjalani hidup, karena arus deras “cuci otak” yang diciptakan – atau yang kita ciptakan – di sekitar kita membuat kita kehilangan arah?

Apakah keberadaan kita dan apa yang kita lakukan telah relevan dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dunia – terutama sesama manusia?

Judul Buku: Tuesdays with Morrie
Penulis: Mitch Albom