March 20, 2014

Menimba Inspirasi dari I.J. Kasimo

25 Flares Twitter 0 Facebook 25 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 25 Flares ×
Murnilah orang yang tidak mencari kekuasaan dan kekayaan.
Lebih murni lagi orang yang punya kekuasaan dan kekayaan tetapi tidak korupsi.
Mulialah orang yang tidak tahu bagaimana caranya memainkan siasat.
Lebih mulia lagi orang yang mengerti siasat tetapi menolak untuk menggunakannya.
-Vegetable Roots (abad ke-6)
 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat jasa-jasa para pahlawannya.” Begitulah kutipan yang sering kita dengar. Namun harus diakui, bangsa kita sedang terjangkit penyakit ‘lupa’. Mudah bagi kita mengingat pejabat yang wara-wiri di media, atau kejadian kemarin sore. Namun peristiwa puluhan tahun lalu? Apalagi tak ada di buku wajib anak sekolah? Dijamin jawabannya tidak.

Hal serupa saya alami ketika seorang sahabat menyodorkan buku coklat bertuliskan “Politik Bermartabat Biografi I.J. Kasimo”. Saya terdiam beberapa saat. Bukannya tidak tahu terima kasih, tetapi sedang mengingat-ingat siapakah gerangan I.J. Kasimo ini hingga dibuatkan biografinya? Orang macam apakah dia?

Barangkali saya adalah bukti kerdilnya daya ingat pemuda masa kini, yang sebagian besar memorinya dijejali hal-hal lain. Barangkali saya termasuk mereka yang ‘kering’ ke-Indonesiaannya, sehingga wajah “bapak sendiri” tidak tahu. Saya jujur akui itu.

Dengan semangat dan hati malu karena kerdilnya ke-Indonesiaan saya, buku itu saya lahap. Benar saja, saya tergagap-gagap menyaksikan sosok I.J. Kasimo dalam jas putih, kain batik, dan udheng dengan bahasa Belanda terpelajar berdebat di halaman sekolah Xaverius Muntilan. Saya terperanjat menyaksikan I.J. Kasimo dalam jajaran tokoh-tokoh sekelas Soekarno.

Aha! Dia bukan bumiputera biasa. Aha! Dia bukan orang Katolik biasa.

Dilahirkan di Yogyakarta, 10 April 1900, dari pasangan Ronosentiko dan Dalikem, Kasimo adalah anak keempat dari sebelascover-ij bersaudara. Ronosentiko adalah prajurit yang mengabdi di Keraton Kesultanan Yogyakarta, sedangkan Dalikem berjualan di pasar. Meski mereka dianggap priyayi, namun kehidupan mereka jauh dari definisi mewah dan berlimpah harta. Kehidupan semacam itu mengukuhkan ungakapan, “dadi priyayi kuwi garang ning garing” artinya “menjadi priyayi itu bergengsi tetapi miskin”.

Dengan situasi yang priyayi namun miskin itulah, Kasimo tumbuh sebagai anak yang jarang bermain karena harinya dihabiskan antara membantu ibu, membantu kakek dan nenek lalu sekolah. Hal ini berlanjut hingga ia berjumpa dengan Romo Franciscus van Lith SJ yang mengajaknya melanjutkan sekolah di Muntilan. Sekolah ini adalah sekolah guru swasta yang diakui gubermen, sehingga lulusannya bisa dipekerjakan di lingkungan gubermen.

Tanpa pikir panjang, Kasimo yang saat itu berumur dua belas tahun pamit pada ayah dan ibunya dan melanjutkan sekolah di Muntilan. Tanpa biaya, hidup berkecukupan, tidak perlu banting tulang membantu ibu, kakek dan nenek, ia hanya fokus sekolah. Di Muntilan lah kuncup-kuncup kecintaannya pada Indonesia tumbuh dan semakin lebat. Ia mengasah diri dengan membaca dan menajamkan diri dengan mengikuti klub diskusi. Ia belajar menyusun argumen logis dan menyampaikannya dengan jernih pada lawan bicaranya. Ia belajar menang tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan).

Di Muntilan pula sikap hidup jujur, disiplin, dan sederhana namun berfaedah bagi sesama kelak akan sangat mendominasi karakter Kasimo. Di Muntilan pula ia berkarib dengan R.M. Djajoes (kelak menjadi Mgr. Adrianus Djajasepoetra, Uskup Jakarta, 1954-1970) yang duduk di kelas VI dan dengan Soegija (kelak menjadi Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, Uskup Semarang, 1940-1964) pahlawan nasional yang saat itu duduk di kelas V.

Lepas dari Muntilan ia pindah ke Bogor. Ia masuk sekolah pertanian di Bogor. Di kota ini ia pertama kali berhadapan dengan orang Belanda yang karakternya bumi dan langit dengan van Lith, sehingga Kasimo melawan si Belanda sok tuan besar itu. Alhasil ia dipindah ke Tegalgondo Kartasura untuk mengajar di sana. Karena kepala sekolahnya temannya sendiri maka tidak ada masalah besar ia pindah ke Tegalgondo.

Pada bulan Agustus 1923 Kasimo bersama beberapa teman yang pernah sekolah di Kweekschool Muntilan yaitu CI. Soepardjo dan R.M. Jakob Soedjadi mendirikan Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD). Inilah perjuangan awal Kasimo di bidang politik. Hal ini tidak lepas dari kiprah Pater Jan van Rijckevorsel yang pada tahun 1909-1925 berkarya di Jakarta. Ia mengajak orang-orang Jawa untuk berorganisasi dan tidak terlena dengan kehidupan beragama yang terbatas sekitar altar, doa, dan ibadah.

Biografi Kasimo ini agaknya mencoba menjelaskan argumentasi yang melatarbelakangi Kasimo dan teman-temannya, serta Pater Jan terjun dalam dunia politik,

[D]alam keyakinan Katolik keterlibatan dalam dunia itu bukan sesuatu yang bersifat pilihan (opsional), tetapi imperatif, karena Tuhan sendiri peduli pada nasib manusia. Keterlibatan-Nya dalam sejarah manusia dimulai dengan kelahiran-Nya sebagai bayi yang tunawisma dilanjutkan dengan hidupnya sebagai seorang pembaru yang dianggap heretik, dan diakhiri dengan kematian-Nya sebagai seorang kriminal. Betapapun revolusionernya pembaruan yang diajarkan-Nya, Yesus bukan seorang yang menghendaki suatu “revolusi sosial”, berupa penjungkirbalikan struktur sosial masa itu, karena Yesus dalam ajaran-Nya menolak hukum-hukum revolusi. Dalam sebuah revolusi harus jelas perbedaan antara kawan yang harus dibela dan lawan yang harus disingkirkan, tetapi Yesus mengajari orang untuk mencintai musuh-musuh mereka.

Pada Juli 1930, Kasimo diangkat menjadi anggota Volksraad atau dewan rakyat, yang dibentuk pada 16 Desember 1916 dan awalnya lembaga ini berperan sebagai penasihat. Namun sejak 1927, Volksraad memiliki kewenangan kolegislatif bersama gubernur jenderal yang ditunjuk Belanda. Padahal gubernur jenderal memiliki veto yang membuat kewenangan Volksraad makin terbatas. Dengan menjadi anggota Volksraad, setiap bersidang ia naik kereta ke Jakarta. Kelak sampai ia menikah dan sudah punya anak, rutinitas ini terus berlanjut.

Pada19 Juli 1932, Kasimo berpidato di rapat Volksraad yang kemudian mengundang perdebatan dalam sidang:

“Tuan Ketua! Dengan ini saya mengatakan bahwa suku-suku bangsa Indonesia yang berada di bawah kekuasaan negeri Belanda menurut kodratnya mempunyai hak serta kewajiban untuk membina eksistensinya sendiri sebagai bangsa, dan karena itu berhak memperjuangkan pengaturan negara sendiri sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan bangsa sesuai dengan kebutuhan nasional yaitu sesempurna mungkin. Ini berarti bahwa negeri Belanda sebagai negara berbudaya yang terpanggil mempunyai kewajiban untuk ikut mengembangkan seluruh rakyat, dan khususnya sebagai negara penjajah, mempunyai kewajiban untuk membimbing dan merampungkan pendidikan rakyat sehingga dengan demikian dapat dicapai kesejahteraan rakyat Indonesia, untuk kemudian dapat diberikan hak untuk mengatur dan akhirnya memerintah negara sendiri.”

Pidato ini semakin mengukuhkan karakter Kasimo, sederhana namun jujur dan terlebih lagi berani.

Ia juga pernah merasakan diangkut Jepang dan diperlakukan tidak manusiawi selama 53 hari. Kejadian ini menyebabkan ia mengambil keputusan yang sangat revolusioner: Kasimo membenarkan revolusi Indonesia. Ia juga memutuskan bahwa golongan Katolik Indonesia wajib ikut berjuang, bahkan jika perlu berkorban bagi revolusi.

Pada tahun 1948, di tengah kondisi bangsa yang kekurangan pangan, Kasimo melahirkan “Kasimo Plan”. Semacam rencana swasembada pangan untuk produksi tiga tahun (1948-1950) sederhana, yang bertujuan menanggulangi keadaan darurat pada waktu itu.

Usaha ini dilakukan melalui usaha intensifikasi dengan menggunakan bibit unggul di daerah-daerah yang banyak tanah kosongnya. Kasimo bukan hanya sosok yang jago berpolitik namun pengalaman sekolah di Muntilan membuat ia peka rasa menyaksikan sesamanya kekurangan pangan dalam perjuangan Indonesia yang merdeka seutuhnya.

Sepak terjang Kasimo bertitik tolak dari prinsip yang kemudian menjadi moto Partai Katolik, “Salus Populi Suprema Lex” yang berarti, “Kesejahteraan rakyat/umum adalah hukum tertinggi” atau lebih lengkapnya, “Salus Populi Suprema Lex Esto” (hendaknya kesejahteraan rakyat menjadi hukum tertinggi).

Ungkapan ini diambil dari salah satu tulisan Marcus Tullius Cicero. Ungkapan yang menjadi prinsip hidupnya dan kemudian motto Partai Katolik ini didapat Kasimo dari hobinya membaca buku-buku tentang ajaran Katolik bukan melulu politik, sosial, ekonomi, atau roman.

Maka saya tertegun ketika mendengar Sarwo Edi ditahbiskan menjadi pahlawan nasional, justru ketika banyak orang membuka jejak rekamnya yang kelam. Mungkin saja, virus lupa juga menjangkiti pengampu pemerintahan. Mereka lupa untuk mengingat siapa sosok yang layak ditahbiskan sebagai pahlawan nasional.

Mereka seharusnya mengingat, status pahlawan nasional hendaknya bukan karena panjangnya gelar dan gagahnya perawakan, namun karena hidupnya yang tercermin dalam sejarah kehidupan bangsa ini. Karena itu, sosok sekaliber Kasimo tak selayaknya diabaikan. Ia adalah satu dari sekian banyak Bapak Bangsa Indonesia yang berkarya di dunia politik tanpa perlu menggadaikan iman Katoliknya. Justru hidup ke-imanannya mewarnai sikap dan perbuatannya.

Kalau saat ini banyak umat Kristen ataupun Katolik yang mencalonkan diri menjadi anggota DPR, DPRD, Bupati, Wakil Bupati, Gubernur atau Wakil Gubernur, seharusnya perjuangan itu bukan semata untuk mendapatkan hormat dari sesama. Layaknya Kasimo, keterlibatan seseorang dalam dunia politik yang kental dengan pengambilan kebijakan, seharusnya didedikasikan untuk “kesejahteraan rakyat”. Bukan semata agar agama tertentu terwakilkan dalam parlemen, tetapi lebih besar lagi dari itu; bagaimana iman Kristen, iman Katolik, iman Islam, iman Hindu, iman Buddha, iman Kong Hu Cu mewarnai Indonesia dengan damai dan sejahtera?

Kutipan yang saya sematkan di awal tulisan ini diambil dari Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael C. Tang yang menggambarkan seorang manusia yang bermartabat. Itu sebabnya saya mengutipnya, karena ia menggambarkan Kasimo.

Kasimo yang pernah menjadi menteri, punya kuasa namun tidak korupsi. Kasimo yang cerdas tentu tahu membuat siasat menjatuhkan lawan-lawannya, namun ia justru tidak menggunakannya. Karena ia memilih berpolitik secara bermartabat sekalipun sampai menutup mata ia hanyalah seorang Kasimo yang sederhana nan bersahaja.

Membaca Kasimo membuat saya banyak belajar, siapapun kita yang lahir di Indonesia, menghirup udara Indonesia, meneguk air Indonesia, adalah anak-anak bangsa yang satu Indonesia. Memiliki tugas yang sama; mencintai Indonesia dengan berkarya untuk Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang ramah, damai dan sejahtera!

Judul Buku: Politik Bermartabat Biografi I.J. Kasimo
Penulis: J.B. Soedarmanta
Penerbit: Kompas
Tahun: 2012
Yohana Defrita Rufikasari, S.Si-Theol

Yohana Defrita Rufikasari, S.Si-Theol

Lahir 16 Mei 1987. Suka bermain bersama anak-anak, membaca, menulis, melukis, nonton film, dan jalan-jalan. Saat ini menjadi guru Agama Kristen di TKK BPK Penabur Guntur dan SDK 5 BPK Penabur Guntur Bandung.

More Posts

Follow Me:
Facebook