May 19, 2013

Melihat Realitas di Timur Indonesia, Papua

3 Flares Twitter 0 Facebook 3 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 3 Flares ×
Orang kaya tidur di emperan toko, orang  miskin tidur di rumah
Harga BBM bisa mencapai diatas Rp. 30.000,- per liternya
Yang masih pakai koteka dilarang naik kendaraan umum
 

Situasi di atas merupakan sedikit dari banyak fenomena yang dapat kita jumpai di tanah paling timur Indonesia, Papua. Tanah yang diberkahi oleh berbagai kekayaan alam namun tak terjangkau tangan penduduk aslinya. Bak membuka kotak Pandora, pertambangan yang dibuka di tanah Papua seperti memulai kutukan bagi penduduk Papua. Tak bisa menikmati hasil kekayaan alam mereka sendiri, mereka justru melarat dan terbelakang di atas kekayaan mereka.

Mereka seperti terasing di tanah sendiri. Pembangunan yang tidak tepat sasaran menjadikan mereka sebagai objek program pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan itu sendiri.

Namun keterlambatan pembangunan ini tidak bisa dilimpahkan kepada pemerintah seluruhnya. Kultur budaya yang terdapat di Papua juga menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan. Bayangkan, di Papua seorang pendulang emas lepas bisa mengumpulkan uang 2 juta sampai 10 juta sehari, namun uang tersebut akan dihabiskan dalam semalam untuk senang-senang dan mabuk-mabukan.

Papua juga bukan sekedar tambang emas di Tembagapura. Ia lebih dari itu. Mungkin itu juga pesan yang ingin disampaikan oleh para penulis dalam buku ini. Banyak hal yang indah serta mengagumkan tersimpan dalam lipatan-lipatan gunung dan bukit. Ada kebudayaan, ada kekayaan alam serta laut, juga seni. Namun Papua juga masih menyimpan pelik.

Resensi_ekspedisi tanah papuaBuku ini menyajikan pelik itu. Buku ini dengan gamblang memberikan catatan, data-data, pandangan para tokoh dan masyarakat asli tentang manusia dan kemanusiaannya. Dilengkapi dengan foto-foto, tulisan dalam buku ini membawa kita datang dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa yang terjadi saat catatan ekspedisi dibuat.

Kenyataan, kegembiraan, kepahitan, kutukan atas limpahan alam raya, pergeseran nilai-nilai dan tradisi, serta bumerang dalam berbagai kasus pengambilan kebijakan di masa lalu; tersaji apik di dalamnya.

Bukankah kemakmuran alam Indonesia ini dianugerahkan Tuhan untuk kemakmuran rakyat Indonesia juga? Lalu kenapa, justru begitu banyak tangan-tangan asing yang meraup kemakmuran? Sementara anak negeri hanya lebih sering kebagian limbah dan duka nestapa?

Kompleksitas masalah tanah Papua ada di dalam buku ini. Buku ini membawa kita ’ekspedisi langsung’ ke tanah Papua. Bagi mereka yang cinta petualangan alam, para pengambil keputusan atas tanah Papua, pengkaji masalah seni budaya dan sosial antropologi, buku ini tak boleh dilewatkan. Salah satu referensi penting yang sangat membuka mata hati.

Bahasa yang digunakan di dalam buku ini merupakan bahasa jurnal yang mungkin bagi beberapa orang tidak begitu mudah untuk menikmati tulisan ini. Buku ini merupakan laporan perjalanan jurnalistik Kompas, yang dilakukan pada bulan Agustus 2007 selama tiga pekan, melibatkan belasan wartawan dan fotografer. Buku ini membawa kita untuk melihat kembali ‘tanah air’ kita sendiri. Di sana-sini kita menemukan kondisi yang kontras, teramat paradoks dalam realitanya.

Judul buku: Ekspedisi Tanah Papua
Penulis: Kompas
Penerbit: Kompas
Efraim Sitinjak

Efraim Sitinjak

Seorang pria berkebangsaan Indonesia. Lahir di kota kecil di Sumatera Utara, Sidikalang. Pendidikan terakhir S1 jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota dari ITB. Suka membaca, menulis, menonton dan fotografi serta berdiskusi.

More Posts