Mungkin anda masih ingat dengan trilogy The Lord of The Ring, (buku) karya tokoh besar Inggris, JRR Tolkien. Selain trilogi tersebut sang penulis juga menghasilkan beberapa buku lain tentang Middle Earth, dunia ciptaannya dan penghuninya. Atau mungkin anda tahu film trilogi LOTR yang dibuat oleh sutradara besar, Peter Jackson. Saya tidak akan panjang lebar mengenai buku atau film ini, anda tinggal cari di internet yang maha tahu. Bagi saya secara pribadi, film dan buku tersebut memiliki kesan mendalam, dan akan saya ceritakan mengapa.
Tolkien memang menciptakan dunia yang baru, mahluk-mahluk baru, kerajaan-kerajaan, dan bahkan tata bahasa yg sama sekali baru. Namun dia menceritakan kisah lama; kisah bumi dan penghuninya. Kisah kita. Hanya mengemas ulang kisah itu. Baik – jahat, cinta – benci, kebahagiaan – kesedihan, Kuat – lemah, mulia – hina. Perjalanan panjang untuk mengembalikan sumber kejahatan ke tempatnya, kawah menggelegak gunung api Mordor. Untuk merangkai semuanya Tolkien (khususnya dalam trilogi LOTR) memakai ‘kekuasaan’ sebagai benang merah, dalam wujud cincin.
Alkisah tentang satu cincin yang konon pemiliknya akan berkuasa atas pemilik cincin-cincin lainnya disejagad Middle Earth. Diceritakan bagaimana cincin ini berpindah tangan dan bagaimana kemabukan akan kekuasaan menghancurkan banyak keluarga, kerajaan hingga terjadi peperangan. Sisi yang paling saya soroti adalah bagaimana obsesi pada kekuasaan juga ternyata merusak ‘alam’ di Middle Earth.
Saruman The White, seorang penyihir yang terobsesi dengan sang cincin dan kekuasaannya mempersiapkan angkatan perang untuk mendapatkan Sang Cincin. Di dekat menaranya dia membuat pabrik angkatan bersenjata. Membuat alat perang, dan juga membuat prajurit; para Urukh-hai. Dia menghancurkan hutan dan memakai banyak sekali kayu. Membuat pabrik super besar dibawah halaman menaranya.
Bagian yang paling saya sukai di filmnya adalah ketika bangsa Ent (manusia pohon) ‘tersinggung’ dan menyerang pabrik Saruman. Terjadilah banjir bandang yang langsung memadamkan aktifitas industri militer tersebut.
Tiga isu lingkungan hidup ada disini; hutan, pertambangan, dan modifikasi mahluk hidup. Dalam cerita ini, Saruman mengekspliotasi alam Middle Earth bukan hanya memanfaatkannya. Diceritakan bagaimana mahluk lain memanfaatkan Middle Earth; kaum Hobbit (dan manusia) bertani dan memakai kayu untuk perapian, Kaum kurcaci (dwarf) adalah seniman logam yg membuat pedang, pakaian perang hingga mahkota para raja, Kaum Elf (yang mirip malaikat) tinggal di gunung, hutan dan sungai-sungai, dan menjaganya.
Mari bandingkan dengan kisah penduduk bumi alias Earth (khususnya Indonesia). Pulau Kalimantan (borneo) konon adalah paru-paru dunia, tapi itu cuma dongeng. Demi kekuasaan di pasaran CPO (crude palm oil), hutan hujan tropis, dan gambut di Kalimantan dan Sumatera berubah jadi perkebunan sawit. Perkebunan sawit, selalu dimulai dengan penjualan kayu (logging) dan pembakaran lahan. Sungguh mirip dengan halaman menara Saruman, Kalimantan dan Sumatera penuh asap selama musim kemarau. Angka gangguan pernafasan dan ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) terus meningkat.
Bukan hanya vegetasi (tumbuhan) dan fauna yang musnah; manusia, dalam hal ini masyarakat lokal kehilangan mata pencaharian sebagai petani karet tradisional, atau pengrajin rotan, atau penghasil buah tengkawang musiman. Masyarakat tradisional di Kalimantan kehilangan makanan (sayuran dan hewan dan ikan) yang biasanya mereka dapatkan gratis dari hutan dan sungai. Petani kesusahan, karena curah hujan yang konon makin rendah, padahal sebagai wilayah hutan tropis di garis khatulistiwa, sebenarnya Kalimantan adalah wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Memang belum ada pernyataan resmi dari BMKG apakah benar curah hujan di Kalimantan berkurang, tapi jika kita belajar IPA dengan benar waktu SD kita tahu logika siklus air di alam. Pepohonan menahan air didalam tanah, memperlambat penguapan, mencegah erosi, dan memjaga curah hujan tetap stabil. Hutan Hujan Tropis (tropical rain forest) bukan sekedar nama; jika tidak ada hutan tropis, maka tidak akan ada hujan tropis. Sumatera dan Kalimantan telah kehilangan sebahagian besar hutan kebanggaannya. Hutan Papua? Sedang dalam proses.
Isu kedua; exploitasi melalui pertambangan. Rongga besar di halaman menara Saruman mengingatkan saya pada rongga di gunung-gunung di Papua. Ya, tanah Papua yang kaya raya dieksploitasi berpuluh-puluh tahun, namun Papua dan masyarakatnya tidak kunjung sejahtera seperti Pulau Jawa atau bahkan Sumatera. Penduduk Papua sudah berteriak meminta haknya, dari gaya “rapat dengan pejabat” hingga memberontak ingin lepas dari NKRI. Belum banyak respon yang memuaskan. Bukan hanya Papua, banyak masyarakat disekitar daerah pertambangan di Indonesia yang menderita karena pencemaran, namun suara mereka terbenam di hiruk pikuk perkawinan kekuasaan dan uang.
Isu ketiga; modifikasi mahluk hidup; yang saya maksud disini adalah intervensi sampai ke tingkat sel dan genetika, yang mempengaruhi “kodrat alam” mahluk hidup tersebut. Mahluk “normal” di Middle earth beranak cucu seperti halnya penduduk bumi kita, bukan memutasi diri atau mahluk lain. Sisilah keluarga sangat penting di Middle Earth. Penyimpangan “pengembangbiakan” mahluk dilakukan oleh Saruman untuk membuat prajurit. Saruman tidak menikahi banyak perempuan untuk melahirkan bala tentara untuknya. Uruk-hai dibuat, tidak dilahirkan. Uruk-hai adalah mahluk yang terbuat dari manusia dan orcs. Mereka kuat, kasar dan jahat seperti orcs, namun lebih bisa berpikir. Dan tidak diceritakan tentang Uruk-hai perempuan.
Di bumi kita, transgenik juga terjadi. Misalnya buah-buahan tanpa biji. Kalau anda mau contoh paling dramatis; kloning. Seperti perusahaan bioteknologi membuat bibit anggur yang menghasilkan buah namun tidak menghasilkan biji. Sekilas tampaknya itu “Oke”, karena kita tinggal mengunyah buah tanpa repot membuang bijinya. Tapi mana proses keberlanjutan mahluk hidupnya? Bukankah ciri mahluk hidup adalah berkembang biak? Manusia transgenik alias kloning, dan anggur tanpa biji seperti manusia tanpa alat reproduksi, bunga tanpa benang sari dan putik.
Ini cuma secuil dari isu GMO (genetical modified organizm- organisme yang dimodifikasi secara genetis). Anda bisa lihat di internet untuk informasi lebih jauh. Tapi Tolkien pun menangkap isu ini dizamannya, dan dia menuangkannya dalam dongengnya.
Sang Cincin, simbol kekuasaan yang membawa petaka itu harus diruntuhkan serta dimusnahkan. Bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kelembutan, keteguhan hati, kesederhanaan dan kerendahan hati. Ternyata bukan kepintaran (seperti kaum Elf), atau kekuatan (Pangeran Manusia), atau keahlian (kaum dwarf). Manusia pernah gagal, beberapa raja manusia menjadi jiwa penasaran (Nazgul) karena pengaruh sang cincin. Seorang hobbit menjadi “gollum” karena cincin itu.
Diakhir cerita Frodo Baggins, seorang hobbit yg sederhanalah yang mengemban tanggung jawab besar itu. Dibantu oleh mahluk-mahluk lain dengan kekuatan, kepintaran, dan keahlian mahluk lain, dia membawa cincin dan menghancurkannya (walaupun sempat tergoda juga).
Di bumi nyata ini, mungkin kita bisa belajar dari dongeng Tolkien; kerendahan dan keteguhan hati untuk menyelamatkan bumi dan kehidupan diatasnya. Seperti di Middle Earth, sikap pesimis atau apatis tidak akan menolong siapapun. Kita harus memanfaatkan potensi yang dimiliki semua kalangan masyarakat bumi untuk melawan “kekuasaan” yang membunuh kehidupan itu sendiri. Apalagi sekarang isu pemanasan global dan kerusakan lingkungan semakin di politisasi oleh penguasa dan pengusaha.
Penduduk Middle Earth tahu apa yang terjadi di dunia mereka, dan kita seharusnya juga tahu apa yang terjadi dengan bumi kita, tempat kita berpijak ini. Mengutip Dalai lama, ”Many heavens, one earth”. Artinya terlepas dari kepercayaan kita tentang surga (dan kehidupan setelah kematian), apakah kita perduli dengan bumi kita yang hanya satu-satunya ini? Karena di alam semesta yang maha luas ini, dengan jutaan galaksinya, sampai saat ini belum juga ditemukan satu planet (atau benda angkasa lainnya) yang bisa dihuni oleh mahluk bumi. Sampai saat ini, pilihan paling masuk akal adalah menjaganya, dan membela jika ada yang hendak menghancurkannya.
Sabar Endang
Pegiat Lingkungan Kalimantan Barat
