Relasi

Eksistensi dan Kualitas Waria

Kamis, 05 Agustus 2010 23:27
Cetak PDF

E15-RelasiWaria (wanita-pria) mungkin merupakan suatu fenomena yang unik di negara kita.  Walaupun sudah sering dan terasa umum, namun pembicaraan mengenai waria hampir selalu menimbulkan kesan yang “berbeda”. Biasanya waria sering dijumpai di perempatan jalan, mengamen sambil menyanyi menggunakan batang kayu yang diberi tutup botol dengan paku.


Waria atau transgender, merupakan sebuah fenomena yang muncul dan selalu ada di hampir setiap komunitas. Transgender merasa bahwa dirinya berjenis kelamin sebaliknya, namun terjebak dalam tubuh berjenis kelamin yang salah. Karena itu mereka tidak dapat berperilaku sebagaimana bentuk tubuh fisiknya. Sebagian besar orang menganggap rendah kaum waria. Banyak waria yang mengatakan bahwa hidup sebagai waria adalah perjuangan, terutama karena penampilan dan tingkah laku yang terlihat aneh dan tidak wajar, belum lagi dengan pandangan negatif dari masyarakat sekitar.


Terlepas dari pandangan negatif segelintir masyarakat, tidak sedikit insan yang menghargai kemampuan dan peran dari para waria. Sebagai contoh, KPU di provinsi Bangka Belitung melibatkan puluhan komunitas waria dalam menyosialisasikan pemilihan umum presiden kepada para pedagang dan pengunjung pasar di Pangkalpinang. Para waria tersebut membagikan selebaran yang berisikan tentang teknis mencentang yang benar kepada sejumlah pengunjung dan pedagang Pasar Pembangunan Pangkalpinang.  Para waria tersebut mengaku bangga dapat membantu melancarkan proses Pilpres karena bagaimanapun juga mereka adalah warga negara Indonesia.


QuotationBanyak pula kisah sukses waria yang terjun di bisnis lain, misalnya tata rias, yang justru dipercaya pelanggan karena kemampuan mereka yang memang sudah terbukti di atas rata- rata.Quotation
Waria yang memunyai prestasi tertentu, akan dianggap sama dengan masyarakat kebanyakan dan tidak diberi label “aneh dan tidak wajar” lagi, yang penting peran mereka merupakan sesuatu yang penting bagi kelancaran kegiatan dari masyarakat tersebut.


Kadangkala kita memandang sesuatu dengan sebuah stereotip tertentu. Namun, perlu diingat bahwa stereotip tersebut tidak berlaku untuk setiap kasus yang kita temui. Kita dapat saja merasa aneh terhadap sesuatu namun sebaiknya kita tidak boleh mempunyai prasangka terlebih dahulu.Tentunya kita tidak ingin diberi prasangka oleh orang lain, sama seperti para waria yang tidak ingin hal tersebut terjadi juga.


Lydia Utami
About the author:

Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa.  Motto “ He who has not tasted bitter,knows not what sweet is”.

Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger
 

busy

Banner Fokal

Baner

____________


Mari berdiskusi bersama dengan mengisi kotak komentar

Baner
Baner