Pendidikan Seks: Sejak Kapan?

Kamis, 05 Agustus 2010 23:24
Cetak PDF

E15-PendidikanSeks, sebuah kata – suka atau tidak suka – yang masih tidak jamak dibicarakan dalam sebagian besar keluarga di Indonesia. Mereka beranggapan bahwa pembicaraan mengenai seks merupakan sesuatu yang tabu dan terlarang. Bahkan sebagian orang akan memandang seseorang dengan negatif, apabila ia mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan seks.


Anggapan itu memiliki kebenaran sampai batas tertentu, karena saat ini semakin banyak kejahatan dan penyimpangan yang terjadi akibat penyalahgunaan fungsi seks; mulai dari pelacuran anak, pemerkosaan, perselingkuhan, pernikahan usia dini, perilaku seks menyimpang, dan seks bebas. Kondisi ini semakin runyam ketika pornografi pun menemukan tempatnya yang paling ideal di tengah masyarakat. Perkembangan teknologi dan informasi mempermudah setiap orang untuk mengakses situs-situs porno di internet dan melakukan transfer film-film porno pada setiap pengguna telepon genggam.

 

Pada sisi lain, seks merupakan sesuatu yang indah, yaitu pada saat orang memaknai seks sebagai suatu karunia. Melalui pemahaman itu, manusia dapat memandang seks sebagai sesuatu yang bersifat sakral. Beberapa agama dan kebudayaan meyakini seks bersifat transendental, seperti halnya kelahiran dan kematian. Betapa pentingnya cara pandang ini terlihat pada proses inisiasi yang diselenggarakan bagi penganutnya yang telah mencapai usia akil baligh – saat organ dan hormon seksual setiap orang telah berkembang secara biologis. Pada tahap ini, hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan mampu menghasilkan manusia-manusia baru yang akan meneruskan kehidupan.


Perbedaan pandangan yang berseberangan tersebut dapat dijembatani melalui pendidikan seks (sex education), sehingga selain dapat menghilangkan persepsi yang salah terhadap (hubungan) seks, kegiatan ini dapat menanamkan penghargaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam seks. Apa dan bagaimanakah pendidikan seks itu? Surtiretna (2000) mendefinisikan pendidikan seks sebagai upaya memberikan pendidikan dan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan kata lain, pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dan menanamkan moral etika, serta komitmen agama supaya tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut.


QuotationPendidikan seks sebaiknya dimulai sedini mungkin, ketika kemampuan kognitif anak mulai berkembang dan secara bertahap dilanjutkan sesuai dengan pertumbuhan sang anak.Quotation
Merry Wahyuningsih dalam detikHealth (2010) memaparkan, bahwa tujuan dari pendidikan seks disesuaikan dengan perkembangan usia, yaitu sebagai berikut: Usia balita (1-5 tahun); memperkenalkan organ seks yang dimiliki, seperti menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelaskan fungsi dan cara melindunginya. Usia sekolah (6-10 tahun); memahami perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menginformasikan asal-usul manusia, dan membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit.


Kemudian, Usia menjelang remaja; menerangkan masa pubertas dan karakteristiknya, serta menerima perubahan dari bentuk tubuhnya. Usia remaja; memberi penjelasan mengenai perilaku seks yang merugikan – seperti seks bebas, menanamkan moral dan prinsip “Say No” untuk seks pranikah, dan membangun penerimaan terhadap diri sendiri. Usia pranikah; membekali pasangan yang ingin menikah mengenai hubungan seks yang sehat dan tepat. Usia setelah menikah; memelihara pernikahan melalui hubungan seks yang berkualitas dan berguna untuk melepaskan ketegangan dan stres.


Satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian adalah cara penyampaian, sehingga pendidikan seks dapat diberikan secara baik dan benar. Pendidikan seks paling baik dilaksanakan di dalam keluarga, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk diadakan di sekolah atau di komunitas tempat anak bersosialisasi. Pembicaraan mengenai seks bersifat pribadi, sehingga orang tua perlu menciptakan suasana yang akrab dan terbuka.


Pendidikan seks sebaiknya dilakukan dengan pendekatan pribadi, berbeda untuk setiap anak karena tahap perkembangan dan pengetahuannya tidak sama. Penyampaian harus wajar dan sederhana, sehingga dapat menepis anggapan bahwa pembicaraan mengenai seks tabu. Seluruh informasi yang disampaikan harus objektif, sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh anak dan kesalahan persepsi tidak terjadi (tribunkaltim.co.id, 2007). Bermacam media dapat digunakan sebagai alat bantu penyampaian, seperti buku-buku, model 3D, program komputer, dan internet.


Bob Situmorang
About the author:
Staff Pengajar SBM-ITB
Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger
 

busy

Artikel

Banner Fokal

Baner

____________


Mari berdiskusi bersama dengan mengisi kotak komentar

Baner
Baner

Kontributor