Panggilan Sebagai Makhluk Sosial

Senin, 24 Agustus 2009 14:30
Cetak PDF

AT-Sms

Beberapa waktu yang lalu saya bertanya pada beberapa teman, “apa sih arti sukses menurut kamu?”. Beragam jawaban saya terima. Ada yang menjawab, “sukses berarti menjadi kaya dan  memiliki jabatan tinggi”. Sebagian lagi mengatakan, “sukses berarti saya bisa membahagiakan keluarga, dengan mengajak mereka berlibur ke tempat wisata terkenal”.

 

Ada yang menarik perhatian  saya, seorang teman menjawab, “makna sukses bisa macem-macem. Bisa sukses sebagai murid, guru, ayah, ibu rumah tangga, anak, dst”. Ia memandang kesuksesan terbentuk dari adanya sebuah identitas yang telah dijalankan secara benar. Artinya, seseorang bisa sukses sebagai ayah sekaligus sebagai pengusaha, ketika ia  mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

 

Manusia dapat dan memiliki banyak identitas. Identitas-identitas tersebut melekat sejak lahir hingga dewasa. Namun, ada identitas yang telah melekat sebelum kita dilahirkan, identitas sebagai makhluk sosial (tidak dapat hidup sendiri). Sejak masih dalam kandungan hingga tua dan meninggal dunia kelak, hidup kita senantiasa membutuhkan orang lain. Mungkin kita tidak menyadarinya, identitas itu ada dan tidak dapat dilepaskan.

 

Dalam hidup, indentitas memberikan peranan dan tanggung jawab tertentu untuk dilakukan. Misalnya, identitas sebagai warga negara menuntut seseorang untuk membela negara, bayar pajak, berpartisipasi dalam pembangunan, dsb. Demikian juga identitas sebagai makhluk sosial, memberikan sebuah panggilan dan tanggung jawab agar kita memiliki jiwa sosial, saling membantu dan peduli, serta saling menghormati.

 

Ironisnya, jiwa sosial yang seharusnya dimiliki manusia itu semakin lama terkikis (sejak SD kita sudah mengenal istilah ‘makhluk sosial’ dalam pelajaran PPKn). Realita hidup masa kini menggambarkan sangat sedikit yang mau peduli terhadap sesamanya, cenderung mempertontonkan ketidakpedulian, ‘masa bodoh’, hingga akhirnya egoisme merajalela. Sebagian kalangan merasa mampu dan tidak membutuhkan orang lain. Tampaknya manusia sudah tidak memiliki kepekaan sosial, hanya menyisakan nafsu untuk memuaskan diri sendiri. Homo homini lupus (Manusia menjadi serigala bagi sesamanya).

Banyak yang memaknai kesuksesan bersifat egosentris. Seringkali kesuksesan dianggap sesuatu yang bisa diukur dengan status dan materi (semua sah-sah saja). Tetapi hendaknya tidak melupakan eksistensi sebagai makhluk sosial. Kita mesti punya tekad dan komitmen untuk berani melakukan sesuatu yang nyata, hal itu akan terbentuk jika kita mau membuka hati dan pikiran, melihat dunia sebagaimana adanya dan berempati terhadap orang lain.

 

John Wood (seorang eksekutif Microsoft) pernah mengunjungi sebuah desa terpencil di Nepal. Desa tersebut dihuni orang-orang buta huruf, mayoritas anak-anak putus sekolah. Perpustakaan sekolah hampir tidak mempunyai buku yang bisa dibaca anak-anak. Hal ini memunculkan gagasan besar, John membangun ruang baca (dinamai Room to Read). Dan akhirnya ia memilih meninggalkan Microsoft demi menjalankan gagasan besarnya tersebut. Dia merasakan apa yang selama ini dijalaninya bukan impian dan bentuk kesuksesan yang diinginkannya. Sekarang dia sudah mendirikan lebih dari 3000 perpustakaan di Asia.

 

Tindakan nyata John Wood merupakan cerminan tekad, komitmen dan tanggung jawab yang dimilikinya sebagai makhluk sosial. Bagaimana dengan kita? Mungkin kita tidak perlu se-ekstrim John. Bisa memulai dari lingkungan sekitar. Sebuah perjalanan jauh selalu dimulai dari langkah kecil. Memulai dari diri sendiri, tidak berpatokan pada orang lain. John Wood memulai dengan mengirim email ke semua contact list yang dimiliki. Dengan kesungguhan, ada jalan untuk melakukannya. Jangan berpikir tindakan harus berupa pengorbanan materi. Kita bisa mulai dengan tidak merokok di depan anak-anak dan orang tua, memberikan tempat duduk di bus kepada ibu hamil. Atau bahkan lewat senyuman serta salam hangat kepada orang yang kita temui.

 

John Wood tergolong sukses sebagai makhluk sosial. Kehadirannya membawa perubahan besar bagi orang lain. Einstein pernah mengatakan, “cobalah untuk tidak menjadi manusia yang sukses. Jadilah manusia berharga”. Ia menyadari menjadi berharga bagi orang lain merupakan sukses sejati, yang dapat mendatangkan kebahagiaan batin.

 

Maukah kita menjawab panggilan dan tanggung jawab sebagai makhluk sosial? Dengan memasukkannya ke “to do list” kehidupan kita, untuk mencapai dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk kesuksesan.

 


Jeffrey Kurniawan
About the author:
Mahasiswa Teknik Elektro ITB


Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger
 

busy

Artikel Terbaru

Banner Fokal

Baner

____________


Mari berdiskusi bersama dengan mengisi kotak komentar

Baner
Baner

Kontributor