Opini

Free Sex in the Kost/ BOD (Bebas Over Dosis)

Rabu, 10 Februari 2010 13:57
Cetak PDF

E9-OpiniHidup di lingkungan kost memaksa kita untuk mandiri atau bertanggung jawab pada diri sendiri. Setiap urusan mulai dari makan, waktu belajar, bermain, memilih teman bergaul dan lingkungan yang tepat untuk belajar, hingga urusan keuangan kita yang mengaturnya. Menjadi orang berguna atau orang dengan penuh penyesalan ada di tangan kita.


Ketika kita berkunjung ke suatu daerah yang didomisili oleh pelajar, hal yang kita temui selain tempat-tempat menuntut ilmu, ada juga kawasan yang dipenuhi dengan rumah-rumah berbagai bentuk dan separuh bagian rumah ini atau seluruhnya adalah kamar-kamar yang disewakan. Kost. Nama yang sering digunakan untuk menamakan bangunan-bangunan ini. Ada yang bebas dan ada juga yang banyak peraturannya. Fasilitasnya pun beragam. Pilihan ada di tangan setiap orang yang ingin menghuni bangunan-bangunan tersebut.


Semakin banyak pilihan, semakin menjadi tantangan bagi kita. Semua yang dilakukan adalah pilihan, yang akan membawa dua efek bagi diri sendiri, yaitu efek baik dan buruk. Ketika melakukan pilihan yang benar, kita akan menjadi seperti gambaran masa depan yang ada dalam angan-angan. Kesuksesan pasti menanti kita di depan. Tapi sekali melakukan kesalahan maka penyesalan tanpa ujung akan selalu menghantui.


Hidup jauh dari orang tua itu artinya kita “bebas”. Bebas dalam segala hal; bebas melakukan apa saja. Beberapa waktu yang lalu (kira-kira habis maghrib), saya berkunjung ke sebuah toko 24 jam dekat kost. Waktu itu hanya ada tiga orang konsumen yang berkunjung, saya dan dua wanita lainnya dengan kostum minimalis mereka (celana pendek di atas paha dan baju yang kekurangan bahan).


Saat berada di depan kasir, saya sempat kaget dengan apa yang mereka beli. Sesuatu yang menyerupai kondom. Dilihat dari mereknya, saya langsung berpikir, “Kalau nggak salah itu adalah salah satu merek kondom.” Tapi, melihat tampang mereka yang penuh dengan keluguan, saya pikir saya salah. Itu bukan merek kondom, mungkin vitamin rambut.


Hal yang lebih mengagetkan lagi adalah, mereka sudah ditunggu dua laki-laki di luar toko. Mereka terlihat seperti dua pasang anak muda yang sedang berpacaran. Mau nggak mau saya kembali meyakinkan diri kalau yang dibeli dua cewek tadi adalah kondom. Langkah kaki menuntun saya untuk mencari warnet terdekat. Saya kurang yakin dengan apa yang saya ketahui sehingga butuh meyakinkan diri. Tanpa pikir panjang saya langsung memasukkan merek yang sempat saya baca tadi dan mencari melalui google. Ternyata benar dugaan saya.


Apa yang akan terlintas dalam pikiran Anda ketika melihat situasi seperti ini? Free sex, tentunya kata itu yang bergejolak dalam pikiran. Kehidupan sebagai anak kost yang terlalu bebas dan pergaulan yang tidak terkontrol (tidak sehat), ditambah dengan pakaian yang minimalis akan berpengaruh juga terhadap hubungan kita dengan lawan jenis. Pacaran diluar batas. Hal ini akan menjadi pemicu untuk melakukan hubungan sex di luar nikah yang membawa banyak efek buruk.


Prof. Dr. Djamaludin Ancok (buku: lika-liku seks menyimpang), mengungkapkan bahwa banyak masalah yang timbul bagi kelangsungan nilai-nilai kemanusiaan akibat perilaku seks di luar nikah ini. Antara lain adalah pembunuhan terhadap janin (aborsi), kehamilan remaja, bahaya penyakit kelamin, menjadi orang tua tunggal, dan sebagainya.


Melakukan hubungan seks diluar nikah hanya akan menambah masalah berikut di atas masalah yang baru diciptakan. Seperti kata pepatah, ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’. Kepuasaan akan segera diperoleh saat melakukan hubungan seks. Setelah itu masalah yang membuntuti semakin panjang. Bagaimana dengan perasaan orang tua yang nun jauh di sana dan selalu berharap serta mendoakan agar anaknya baik-baik saja? Apakah pengorbanan mereka yang begitu besar untuk masa depan kita dibalas dengan cara seperti itu?


Generasi muda sekarang sering membanggakan dan mengatasnamakan  zaman yang terus berkembang untuk perbuatan yang menyimpang ini. “Emang sih, zaman sudah berganti.” Satu hal yang harus diingat, pergantian zaman bukan berarti pergantian nilai atau moral. Nilai atau moral tidak akan pernah berubah. Justru harus tetap dijaga.


Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berpikirnya. Banyak cara yang bisa diambil sebagai solusi untuk menghindari aktifitas seks sebelum waktunya. Meminimalkan hal-hal yang merangsang, mengekang ledakan nafsu dan menguasainya. Pilihlah teman atau lingkungan yang bisa membawa pengaruh positif bagi diri kita.


Lea Belandina
About the author:
Mahasiswi Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Comments

No Comments, be the first to Comment

Add new Comment

 
 
 
 
 
 
 

RDBS Comment developed by Robert Deutz Business Solution

Banner Fokal

Baner