Candi Borobudur dan Budaya Yang Hilang

Rabu, 18 November 2009 13:59
Cetak PDF

Prambanan

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi ketika saya sampai di kota gudeg Jogjakarta. Kota yang sarat dengan eksotisme kultur budaya Jawa ini menyambut saya dengan mataharinya yang terik. Meskipun panas mengigit kulit, tekad saya untuk menjelajah Jogjakarta tak kan surut. Hari pertama, saya akan menaklukan Borobudur.

 

Setelah melalui perjalanan panjang ala backpackers (dengan kendaraan umum dan andong) saya sampai di kompleks candi borobudur. Candi yang pernah masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia ini berdiri tegak dan megah di bawah langit kota Magelang. Saya beruntung karena meskipun akhir pekan, tidak banyak turis yang mengunjungi candi ini, sehingga saya dengan bebas bisa menimati keindahan borobudur tanpa harus kuatir berdesak-desakan.

 

Takjub dan bangga. Itulah yang saya rasakan saat melihat sosok gagah Candi Borobudur. Candi seperti teratai mekar di tengah danau ini benar-benar misterius dan ajaib. Sangat imajinatif, teknologinya tinggi, arsitektur dan cita rasa seni begitu menawan, boleh dibandingkan dengan Taj Mahal atau Eiffel, atau Angkor Vat di kamboja. Coba bayangkan, ukurannya 123 meter persegi, dibuat dari 55.000 m3 batu setara dengan 2 juta bongkah batu. Itu belum seberapa, jumlah reliefnya 1460 relief, jika dipanjangkan jadi sekitar 3 kilometer.

 

Saya pun menyusuri tiap lantai Candi Borobudur. Membayangkan bagaimana masyarakat Jawa kuno dengan kesederhanaannya mampu membuat sebuah mega proyek seabadi Candi Borobudur. Seorang rekan seperjalanan yang sama takjubnya dengan saya tiba-tiba nyeletuk, ”Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang memiliki peninggalan sejarah seagung ini malah menghasilkan generasi yang rusak di masa depan?”

 

Celetukan ini membuat saya merenung. Mungkin pendapatnya terdengar pesimistis, tapi melihat apa yang terjadi di negara ini, mau tak mau saya pun akan melontarkan pertanyaan yang demikian. Apa yang terjadi dengan bangsa ini?

 

Saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi di sekitar saya ketika mengunjungi Candi Borobudur. Beberapa kali, beberapa orang turis nekad menaiki stupa. Padahal di depannya jelas-jelas terpampang rambu “No Climbing/Dilarang Memanjat.” Dan yang lebih parah, hal itu dilakukan oleh turis-turis lokal. Sementara para turis asing hanya menikmati candi dengan mengabadikannya lewat kameranya. Menunjukkan penghargaan mereka yang tinggi terhadap cagar budaya ini. Tidak hanya sampai di situ. Saya pun dibikin geram dengan ulah pengunjung…lagi-lagi turis lokal yang membuang sampah sembarangan di pelataran candi. Apakah ini cerminan mental generasi sekarang yang tidak mau menghargai budayanya sendiri?

 

Saya teringat dengan sebuah wawancara di televisi dengan Ajip Rosidi (baca: Ayip Rosidi), seorang budayawan Indonesia yang menetap di Osaka, Jepang. Dalam wawancara tersebut Ajip mengatakan budaya Indonesia akan segera mati karena ketiadaan perhatian pemerintah dan pengembangan budaya yang salah kaprah.  Bahkan, meski melihat ada kesempatan memperbaiki keadaan, Ajip pesimistis karena manusia Indonesia diciptakan tergantung oleh pemerintah. Sejak Presiden Sukarno berkuasa di masa Demokrasi Terpimpin, kata Ajip, pemerintah tak pernah memberi kesempatan kepada warganegaranya berfikir bebas. Menurut dia, pemerintahan selanjutnya malah mewariskan indoktrinasi yang membunuh hati nurani dan kebebasan berfikir. "Kemerdekaan berfikir ini yang harus dibuka dan membiarkan manusia bebas berkreasi."

 

Komentarnya sebagai seorang ahli budaya patut direnungkan. Namun perlu saya tambahkan, hilangnya kebudayaan agung yang sempat melahirkan sebuah karya seni  dan arsitektur terbaik ini bukan semata-mata kesalahan pemerintah. Kalau kita ingin jujur, sedalam apakah kita mengenal kebudayaan lokal kita masing-masing? Apakah budaya itu hanya terbatas pada tari-tarian, peninggalan sejarah atau berbagai upacara adat? Apakah kita mengerti makna apa yang terkandung di dalamnya? Jawaban dari semua pertanyaan itu pada akhirnya akan kembali dalam tindak tanduk kita sehari-hari.

 

Sesaat sebelum meninggalkan candi tersebut, saya mengabadikan keindahannya dalam sebuah gambar lewat kamera digital sambil berharap semoga budaya ini tidak  hilang. Namun, Borobudur hanyalah sebuah bangunan, budaya sebenarnya ada dalam jiwa dan identitas kita sebagai bangsa. Seperti kata Ajip, “Budaya Indonesia bukan sekedar Candi Borobudur.”

 

November, 2009


Fanny Febyanti
About the author:

Lahir di Purwokerto 9 Februari 1983. Lulusan Universitas Padjadjaran ini sangat menyukai dunia tulis menulis. Kegemarannya tersebut berhasil mengantarnya menjadi seorang jurnalis di sebuah media nasional ibukota, profesi yang dicintainya hingga saat ini. Penggemar kuliner berbagai bangsa ini sangat menyukai musik dan teater. Motto hidupnya ”Do the best and let God do the rest.”

Read More >>
Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger
 

busy

Artikel Terbaru

____________


Mari berdiskusi bersama dengan mengisi kotak komentar

Baner
Baner

Kontributor