Bersikap Kritis Terhadap Fenomena

Selasa, 24 November 2009 18:17
Cetak PDF

“Meskipun saat ini kiamat, aku tetap akan mencintai mu...”, atau “Aduh, hari ini aku pengen jalan-jalan, tapi takut terjadi sesuatu di jalan. Kemarin kan baru ada ramalan bahwa...”.

2012

Ungkapan-ungkapan seperti ini beberapa hari terakhir sering saya dengar dan baca di status facebook (FB). Sekilas ini hanya ungkapan biasa, namun secara tidak langsung sudah men-sugesti diri untuk hidup dalam ketakutan. Seolah-olah begitu pasrah dengan keadaan dan hidup dalam kekhawatiran. Hidup yang seharusnya dinikmati malah menjadi boomerang. Hari-hari dijalani dengan penuh was-was. Rasa tidak aman selalu menghantui pikiran ketika harus keluar dari rumah. Padahal, sadar atau tidak, walaupun tinggal di rumah, seseorang belum tentu aman.

Baru-baru ini ada film yang beredar dan sudah tidak asing lagi di telinga kita. Film 2012 yang cukup heboh dan menarik perhatian banyak orang. Film ini bercerita tentang ramalan suku Maya berabad-abad lalu tentang hari akhir bumi. Diramalkan kalender Maya, tidak  ada kelanjutan dari tanggal setelah Desember 2012. Ramalan yang penuh misteri itu sedang ramai, wajar saja jika Hollywood mengangkatnya ke layar lebar dengan berbagai efek yang memberikan kesan seolah-olah itu semua akan nyata di Desember 2012.

 

Tidak hanya film-film yang membuat kita merasa pesimis menapaki hari-hari. Contoh lain, kita juga sedang dimanjakan dengan sms ramalan. ‘Ketik reg (spasi) ramal kirim ke...., atau ketik reg (spasi) gempa, kirim ke...’, tujuannya agar kita  mengetahui situasi yang bakalan terjadi dalam waktu dekat (sebenarnya belum pasti hasil ramalannya).

 

Dari kedua kasus ini kita dapat melihat bahwa semua itu hanya ramalan dan sebenarnya kalau kita mau, kita pun bisa membuat prediksi-prediksi yang bisa mempengaruhi banyak orang. Tapi untuk apa? Itu semua merupakan prilaku kurang arif bagi masyarakat, termasuk salah satu dari kita yang mungkin saja terpengaruh dengan hal-hal semacam itu. Mengapa sms seperti ini semakin hari semakin bertambah? Karena kita mau dan begitu saja menerima tanpa menimbang apa manfaat dan seberapa besar kebenarannya.

 

Kadang saya berpikir, “kenapa orang mau diperdaya seperti itu?” Menghabiskan banyak uang dan waktu hanya untuk melakukan suatu aktivitas yang tidak membawa keuntungan dan mengusik ketenangan diri sendiri. Kalau sudah seperti ini, siapa ‘digombali’ siapa atau siapa ‘menggombali’ siapa? Semua itu pilihan. Kalau kita ingin tetap tenang lakukanlah apapun sesuai dengan hati nurani.

 

Bukan berarti kita tiba-tiba berhenti menonton film. Se-nggak-nggak-nya kita bisa membedakan film mana yang bisa membawa dampak positif serta mana yang tidak, dan setelah menonton film tersebut kita akan tetap bersikap wajar (tanpa dihantui rasa takut yang berlebihan).

 

Sebagai manusia yang memiliki akal sehat, seharusnya kita lebih memiliki jati diri dan pegangan yang kuat dalam diri masing-masing. Tidak gampang dipengaruhi oleh ramalan atau sekedar film layar lebar. Kiamat itu pasti datang, tapi kita juga harus sadar kalau hidup kita di muka bumi ini tak ada yang abadi. Lalu kenapa harus takut dengan kiamat atau kematian? Jawabannya kembali pada diri kita masing-masing.

 

Hari-hari yang kita lewati akan menjadi berharga atau tidak, tergantung diri kita sendiri. Dalam buku “Make Today Count”, John C. Maxwell memuat sebuah pernyataan:“Waktu adalah koin yang paling berharga dalam hidup Anda. Hanya Andalah yang akan menentukan bagaimana koin itu akan dihabiskan. Berhati-hatilah agar jangan orang lain menghabiskannya untuk Anda.”

 

 

 


Redaksi Fokal
About the author:

Kontak: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Faktual, Objektif dan Kontekstual

Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger
 

busy

Artikel Terbaru

____________


Mari berdiskusi bersama dengan mengisi kotak komentar

Baner
Baner

Kontributor