Editorial,
Sejak manusia dilahirkan sebagai mahluk yang paling mulia, perdamaian menjadi impian dan kebahagiaan utama. Sayangnya kondisi tersebut seakan sulit diterapkan, bahkan terancam menuju jurang degradasi.
Perkembangan zaman menuntut adanya inovasi baru terhadap arti perdamaian. Seringkali perdamaian dianggap keadaan yang aman dan tentram tanpa konflik. Sementara, manusia tidak mampu lepas dari keberagaman pendapat, suku, agama dan sebagainya. Tentunya arti perdamaian harus dijabarkan kembali sesuai dengan tantangan zaman.
Kesamaan pendapat dan warna terkadang menjadi mutlak bagi sebagian kalangan demi terciptanya perdamaian. Menghargai dan memahami keberagaman sebagai keindahan hidup, merupakan prinsip dasar terwujudnya ketentraman bagi yang lainnya. Perbedaan arti perdamaian hadir pula bagi mereka yang mendasarkannya pada status ekonomi, menganggap perdamaian akan tercipta apabila adanya pemenuhan pangan.
Perdamaian menjadi cita-cita kita bersama, siapapun berhak mendapatkannya. Pepatah bijak “kecil-kecil menjadi bukit” layak kita renungkan bersama. Lewat berbagai perbuatan yang dianggap kecil, nyatanya sebagian insan mampu menghadirkan perdamaian. Impian terlaksananya perdamaian sejajar terhadap perenungan “sisi lain perdamaian”. Dengan demikian, apa yang menjadi sandungan dasar mampu kita sikapi tanpa melepaskan makna perdamaian itu sendiri. Selamat membaca.