Menurut data Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), penjualan notebook saat ini memegang 60% dari penjualan komputer di seluruh Indonesia. Wajar memang. Harga notebook atau laptop kian hari kian bersahabat dengan kantong. Tak heran jika saat ini laptop tidak hanya menjadi konsumsi orang tua dan kaum eksekutif. Kalangan muda dan pelajar pun sudah banyak yang memiliki laptop sendiri.
Sebenarnya bagaimana kebutuhan kalangan muda, khususnya pelajar, akan laptop? Tentu kebanyakan dari mereka masih mengharapkan uang dari orangtua untuk membeli laptop sendiri. Apa yang menjadi alasan utama mereka merasa perlu memiliki laptop?
Saya menanyakan hal ini pada belasan mahasiswa dan mendapati hampir semua dari mereka menyebutkan mobilitas sebagai jawaban. Laptop memang lebih mudah dibawa ke mana-mana dibandingkan dengan komputer desktop. Ukurannya relatif kecil dan tipis, ringan dan mudah untuk dibawa di dalam tas. Laptop tidak terbatas dipakai di rumah, tapi juga di kampus bahkan ruang publik seperti café dan restoran. Mobilitas ini juga menjadi pertimbangan bagi mahasiswa yang telah memiliki komputer desktop di rumah untuk membeli laptop juga.
Bagi mahasiswa yang merantau dari daerah asalnya dan harus tinggal di rumah kost, mobilitas tadi juga membuat laptop lebih bersahabat dibandingkan komputer desktop saat harus berpindah tempat tinggal. Selain alasan mobilitas, ada juga alasan kemudahan mengakses internet di berbagai tempat. Saat ini, banyak tempat umum yang menyediakan fasilitas hot spot atau akses internet gratis bagi pengunjungnya. Selalu ada saja orang-orang yang menghadap layar laptop di tengah keramaian.
Ketika teman-teman mahasiswa yang saya tanyai diminta untuk mengurutkan kegiatan apa saja yang banyak mereka lakukan dengan menggunakan laptop, kebanyakan dari mereka menempatkan kegiatan internet di urutan pertama. Penggunaan internet ini tidak termasuk penggunaan internet untuk mencari bahan tugas atau kuliah, melainkan hanya untuk refreshing atau hobby.
Kegiatan mengerjakan tugas rata-rata menempati urutan kedua atau ketiga dari semua kegiatan yang biasanya dilakukan menggunakan laptop. Kegiatan lain yang cukup sering dilakukan antara lain bermain game, mendengarkan musik dan hobby editing video atau foto.
Jika dilihat dari jawaban-jawaban teman-teman di atas, pada akhirnya laptop memang digunakan secara seimbang untuk kebutuhan studi atau pekerjaan dan refreshing. Wajar jika banyak mahasiswa yang mempunyai laptop pribadi. Sayangnya, trend laptop juga menyisakan persoalan.
Salah seorang kerabat saya pernah mengeluh tentang keponakannya yang ngotot harus dibelikan laptop dari merek tertentu yang cukup mahal dibandingkan dengan merek-merek lainnya. Waktu itu, ia baru masuk kuliah di kampus yang cukup terkemuka di Jakarta dan mengatakan pada ayahnya bahwa ia memerlukan sebuah laptop untuk mendukung kegiatan kuliahnya. Sebenarnya, ia sudah punya komputer pribadi di rumah. Selain itu, laptop lain pun sebenarnya punya spesifikasi yang sama dengan merek yang ia inginkan, dengan harga yang lebih murah pula.
Cerita kerabat saya ini membuat saya berpikir bahwa bagaimana seseorang memandang dan memanfaatkan teknologi, seperti laptop, sebenarnya kembali pada pribadi orang itu sendiri dan lingkungan sekitarnya yang mempengaruhi cara pandangnya. Sebagai contoh, mahasiswi yang keukeuh membeli laptop dengan merek mahal tadi, mungkin terpengaruh lingkungan pergaulan di kampusnya yang cukup elit. Ia akhirnya membutuhkan laptop yang “sekelas” dengan teman-temannya agar bisa tetap eksis dalam lingkaran pergaulan mereka.
Berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di kampus yang sebelumnya saya tanyai. Meskipun mempunyai laptop mahal tentunya menjadi gengsi tersendiri, tapi pada dasarnya laptop tidak terlalu mempengaruhi bagaimana seseorang dipandang oleh teman-temannya. Cukup banyak orang yang tidak mempunyai laptop dan hanya memanfaatkan fasilitas komputer-komputer di lab kampus untuk mengakses internet atau mengerjakan tugas.
Apapun yang menjadi motivasi utama seorang pelajar atau mahasiswa membeli laptop, komputer jinjing itu memang dibutuhkan untuk mendukung pelajaran dan pekerjaannya. Selanjutnya, kembali pada mahasiswa itu sendiri untuk menilai dengan wajar apa yang ia inginkan dan bagaimana memanfaatkannya.
