Dunia Virtual, Bahaya!

Kamis, 05 Agustus 2010 23:28
Cetak PDF

E15-TeknologiTeknologi Informasi semakin maju, menghapus batas negara serta budaya. Tak terkecuali bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Meskipun penetrasi telepon masih belum sepenuhnya menjangkau saudara – saudara kita di seluruh penjuru Tanah Air, namun harus diakui gelombang penetrasi internet sudah sedemikian dahsyatnya.


Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), rata–rata pertumbuhan internet di Indonesia mencapai 25 persen  sampai dengan 40 persen per tahunnya. Di tahun 2008, pengguna internet di Indonesia diperkirakan 27 juta orang.


Perkembangan teknologi memang cukup membantu serta memudahkan manusia. Namun teknologi bisa menjadi suatu bumerang bagi penggunanya. Harus diakui, teknologi informasi bisa menjadi pisau bermata dua. Aksesnya yang begitu luas mampu menyediakan beragam informasi, tanpa terkecuali pornografi dan kekerasan. Teknologi baik kalau digunakan sesuai dengan fungsinya. Gara-gara teknologi pun keburukan dan kebobrokan manusia terungkap jelas. Seperti kasus video porno.

 

Baru-baru ini masyarakat sedang dihebohkan oleh tayangan adegan seks berdurasi kurang lebih 6-8 menit antara sepasang lelaki dan perempuan yang lebih populer sebagai “Video Mirip”. Siapapun bisa melakukannya, tidak tertutup kemungkinan para kaum muda. Video ini menjadi marak karena kebetulan modelnya adalah artis. Barangkali ini yg membuat masyarakat penasaran. Terlepas benar atau tidaknya adegan tersebut, seks hanya dipandang sebagai bentuk kesenangan. Just to Fun, happy, suka sama suka atau seks bebas. Tetapi karena sudah terlanjur tersebar di masyarakat, maka tindakan mereka sudah masuk wilayah moral.


QuotationAnggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Quotation
Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen browser melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis homepage yang dapat di-akses. Dengan konten internet seperti itu bisa mendorong seseorang untuk bertindak kriminal (menyangkut UU ITE dan Pronografi) dan asusila.


Dunia game pun tak kalah seru. Ada satu contoh ekstrim bagaimana sebuah “kehidupan” dunia digital bisa begitu menyatu dengan dunia nyata. Tak punya pacar di dunia nyata, bukanlah menjadi halangan bagi gamer untuk menikah. Seorang maniak game asal Jepang yang menamakan dirinya SAL9000 punya niatan gila, yakni mengajak pacar virtualnya yang berupa karakter game untuk menikah. Dimana dia berencana menikahi seorang (seorang atau sebuah ya?) gadis virtual karakter cewek game Love Plus di Nintendo DS produksi Konami, yang nama karakternya Nene Anegasaki. Selain itu SAL mengajaknya untuk berbulan madu di Guam, ia juga akan memboyongnya ke resepsi pernikahan yang diadakan di depan publik, tepatnya di kota Tokyo.


Game Love Plus memang menimbulkan 'efek samping' yang tidak terduga. Selain perbuatan SAL yang di luar nalar, sempat dikabarkan pula game ini membuat para istri cemburu karena telah membuat suami mereka 'selingkuh'.


Dampak teknologi yang maju dengan pesat ini akan dan telah merubah pola kehidupan manusia. Walaupun saat ini baru sebagian orang yang sudah terbiasa menggunakan internet, namun kecepatan internet memasuki kehidupan manusia sunguh luar biasa. Semoga tulisan pendek ini akan memacu kita bersama untuk lebih meningkatkan pemahaman tentang dampak psikologis akibat perkembangan teknologi.


Redaksi Fokal
About the author:

Kontak: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Faktual, Objektif dan Kontekstual

Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger
 

busy

Artikel

____________


Mari berdiskusi bersama dengan mengisi kotak komentar

Baner
Baner