Tuliiitt..tulilitt… “Halo…”
“Heh kamu tuh dimana sih? Ini udah masuk dosennya! Cepet dateng, slide presentasinya kan ada di kamu!” Teriak temanku diseberang sana lewat handphone. Dengan muka kucel, terpaksa aku berjingkat dari kasur menuju kamar mandi hanya untuk cuci muka. Tak terpikir lagi untuk mandi. Terlambat sudah.
Itu salah satu pengalaman yang mungkin dialami oleh semua anak kost-an. Kesiangan bangun karena begadang semalaman mengerjakan tugas. Tidak hanya itu, kehabisan uang yang berujung pada pengiritan makanan, hidup kesepian seakan kurang kasih sayang, sampai pada pergaulan nyeleneh, hampir semuanya dialami. Pandangan buruk dan baik pun terbesit di pikiran orang tua mereka.
Bagaimana keadaan anak saya? Apakah pergaulannya benar? Uang yang dikirim cukup atau tidak? Bagaimana kuliah atau pekerjaannya? Pertanyaan itulah yang muncul dibenak orang tua. Sedangkan anak kost-an sembari menjalankan kuliahnya, berfoya-foya dengan uang kiriman sampai pada akhir bulan berujung pada pengiritan, hidup merasa bebas dari kekangan orang tua, belajar menjadi mandiri, dan belajar mengatur hidupnya.
Tak pelak banyak pikiran buruk dari sebagian orang tua yang tidak mau memasukkan anaknya ke kost-an, mereka lebih memilih untuk tinggal dengan saudara atau kenalan. Kost-an itu dianggap sebagai pengaruh buruk bagi anak terutama dalam pergaulannya. Dengan tinggal di kost, anak tidak bisa dikontrol. Apalagi kalau terjadi apa-apa, sakit misalnya, sulit untuk meminta tolong atau menjaga si anak kepada orang lain.
Itu baru pandangan dari orang tua. Belum lagi penilaian dari orang sekitar. Di salah satu milis, saya menjumpai penilaian salah satu orang yang mengatakan bahwa anak kost itu tidak jelas identitasnya. Masih ingat dengan peristiwa penyerbuan teroris di daerah Ciputat? Mereka juga menginap di kost-an. Belum lagi banyak berita mengenai narkoba dan seks bebas. Makinlah kekhawatiran penduduk sekitar maupun orang tua bertambah.
Perilaku bebas yang kemudian disalah-artikan oleh beberapa mahasiswa berdampak buruk bagi dirinya sendiri maupun temannya. Memang dengan “ngekost”, mahasiswa bisa lebih bebas melakukan apa saja tanpa khawatir larangan orang tua yang tinggal jauh. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan tanggung jawab. Kebebasan yang kebablasan tentunya sudah jauh artinya dengan kemandirian.
Biasanya mahasiswa mengartikan kebebasan sebagai gerbang menuju kemandirian, tetapi kebebasan tidak disertai perilaku bertanggung jawab akan sama saja dengan liar. “Aku sebenarnya punya saudara di Bandung, tapi aku maunya ngekost karena selain tidak mau merepotkan saudara juga mau belajar mandiri,” kata Tia mahasiswi Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung.
Menurut BF. Skinner, perilaku mahasiswa jika dihubungkan dengan perilaku sosiologinya akan terbentuk sesuai dengan lingkungan sosialnya. Maka dari itu, lingkungan kost-an atau tempat tinggal mereka akan sangat berpengaruh terhadap perilaku mahasiswanya. Jika faktor lingkungan kondusif dalam berkembangnya seks bebas, pemakaian narkoba, dan segala pergaulan yang kebablasan itu, maka anak yang tinggal di kost-an itu juga bisa terpengaruh. Selain lingkungan, kepribadian atau pendirian seseorang bisa membuatnya dapat bertahan terhadap pengaruh lingkungan yang negatif. Orang seperti ini dapat membedakan mana yang baik untuk dirinya dan mana yang merusak.
Sebenarnya “ngekost” itu banyak manfaatnya, terutama untuk anak muda. Kita dapat belajar mandiri, karena selain dapat mengatur gaya hidup masing-masing dan juga dapat mengatur waktu dan kegiatan. Sikap bergantung pada orang lain dapat berkurang karena tinggal jauh dari orang tua. Tanggung jawab dan pembentukkan moral serta karakter dimulai juga dari sini.
Manfaat lainnya adalah belajar untuk bersosialisasi dan menghargai orang lain. Tinggal di tempat orang lain membuat kita harus mengenal orang baru dan berbaur dengan mereka. Hal itu bukan hal yang mudah. Mengenal, mengetahui kepribadian, dan menghargai perbedaan semua orang yang ada di kost-an termasuk induk semang merupakan hal penting. Dari situlah sifat kekeluargaan akan terbentuk. Setelah sikap menghargai tumbuh, kita seperti merasa memiliki keluarga kedua, yaitu keluarga kost-an, selain yang ada dirumah.
Nah, sekarang kita telah mengetahui berbagai pendapat mulai dari yang buruk sampai bermanfaat tentang kost. Kita harus juga dapat memilih kost-an mana yang lingkungannya baik dan tidak. Usahakanlah untuk memilih kost-an yang tidak campur gender (campur antara laki-laki dan perempuan), punya peraturan yang jelas sehingga identitas orang yang tinggal dikenali (biasanya awal masuk kost-an akan dimintai identitas seperti KTP), dan memiliki induk semang.
Walaupun kelihatannya masih agak mengikat karena ada peraturan yang harus dipatuhi dan ada induk semang yang selalu mengawasi, tetapi hal itu dapat membantu kita untuk terhindar dari hal-hal negatif. OK! Jadi siapa nih yang sudah siap menjadi seorang mandiri?
Comments
No Comments, be the first to Comment
Add new Comment
RDBS Comment developed by Robert Deutz Business Solution