Balada Anak Kost

Rabu, 10 Februari 2010 13:48
Cetak PDF

E9-Budaya1"Aku Makan Tiap Hari Kadang Hanya Makan Mie

Gimana Nggak Kurang Gizi

Wesel Datang Tak Pasti

Ibu Kost Tak Mau Mengerti

Nagih Sewa Bulan Ini ..

Hidup Sangat Sedih .. Uhh"


Sepenggal syair lagu nasib anak kost yang dipopulerkan oleh Padhyangan Project pada era 90an menjadi gambaran yang cukup mengena bagi anak kost di masa itu. Namun kondisi ini bergeser di masa kini.


Kalau kita perhatikan, kini istilah anak kost tak lagi mengenai kesengsaraan dan keprihatinan. Banyak rumah-rumah pemondokan macam indekost yang dilengkapi dengan fasilitas bak hotel berbintang. Lengkap dengan sistem kemanan canggih seperti CCTV dan fasilitas Wifi yang memudahkan para penghuni kost berkelana di dunia maya. Untuk fasilitas macam ini, banyak mahasiwa atupun para pekerja yang tak segan merogoh koceknya dalam-dalam, dan pastinya mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan finansial.


Kata Indekost sendiri atau yang kini disingkat menjadi kost berasal dari bahasa Belanda indekost yang artinya tinggal di rumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan); memondok.


Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer kost berarti tinggal (menumpang) di tempat orang dan makan di situ; memondok. Kata indekost dalam Kamus Umum Belanda-Indonesia (1978) mempunyai arti numpang makan pada. Dalam bahasa Inggris, kata kost diterjemahkan sebagai boarding house.


Dalam Oxford Advanced Learnerss Dictionary (2000); boarding house is a private house where people can pay for accomodation and meals. Artinya kost adalah sebuah rumah pribadi dimana orang lain dapat membayar untuk akomodasi dan makanan.


Apapun pengertian ilmiahnya, satu hal yang selalu ada di kawasan pemondokan adalah keberagaman. Dalam satu wilayah kost kita pasti berinteraksi dengan berabagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda.


Tidak mudah memang beradaptasi dengan sekumpulan orang yang berbeda dengan kita. Itulah sebabnya, banyak penghuni kost yang memilih bersikap cuek untuk menghindari timbulnya perselisihan karena perbedaan pandangan maupun karakter. Akibatnya, terbentuklah sikap individualis antara penghuni kost.


Sebenarnya sikap tak ‘pedulian’ tidak perlu dilakukan asal kita tahu bagaimana beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Menjalin hubungan yang baik dengan sesama penghuni kost, dan pemilik kost penting dilakukan, karena teman kost anda akan menjadi seperti kerabat/saudara anda sendiri. Tetangga adalah kerabat terdekat anda bukan?


Contoh kasus, ketika kita sakit, tak mungkin kita meminta orang tua kita yang jauh untuk datang dan merawat kita. Mau tak mau, penghuni kost-an lain adalah bantuan terdekat yang bisa kita dapatkan. Itulah sebabnya, mencoba bergaul dan mengakrabkan diri sewajarnya perlu dilakukan. Selain bisa mengantisipasi seandainya kita membutuhkan bantuan yang bersifat darurat, kita juga bisa mendapatkan info baru tentang lingkungan sekitar. Namun, kita juga harus bisa menjaga perilaku, jangan sampai mereka menjauhi anda karena sikap anda yang kelewat egois atau mencampuri urusan orang lain.


Permasalahan lain yang sering timbul saat kita berusaha untuk mandiri adalah masalah keuangan. Pengalaman pribadi mengajarkan saya bahwa mengatur manajemen keuangan pribadi wajib dilakukan untuk mencegah kebocoran di pertengahan bulan. Ada baiknya untuk mengatur pengeluaran untuk hal-hal yang penting terlebih dahulu, buatlah prioritas dan budget untuk pengeluaran, jangan sampai kehabisan uang di tengah bulan, sementara anda belum gajian atau belum menerima uang kiriman dari orang tua.


Hidup sendiri di kost-an mungkin bagi sebagian orang tidaklah mudah. Diperlukan adaptasi, keteguhan hati dan keberanian. Apalagi di zaman seperti sekarang dimana nilai-nilai sosial mulai bergeser. Tak jarang justru ketika seseorang mulai hidup mandiri, beberapa batas moral mulai begeser karena lingkungan. Banyak contoh kasus dimana kejadian asusila terjadi di kost-an. Mulai dari free sex, penggunaan obat-obatan terlarang dan praktek prostitusi.


Maka dari itu, setiap insan yang hidup mandiri harus bisa memegang teguh nilai-nilai sosial dan moral yang ada di tengah masyarakat. Caranya bisa bermacam-macam, seperti mengikuti kegiatan keagamaan yang bisa mempertebal iman kita, atau melakukan kegiatan-kegiatan sosial baik di kampus ataupun di tempat kerja atau kegiatan positif lainnya.


Selain itu, kita juga harus bisa memilih dengan siapa kita bergaul. Dengan berbagai macam latar belakang dan gaya hidup, kita perlu memilah, mana yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang dan mana yang tidak.


Menjadi mandiri sebagai anak kost bukan berarti bisa hidup dengan kemauan sendiri tanpa ada batasan. Tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat tetaplah harus diutamakan. Ketika kita bisa bertanggungjawab terhadap diri sendiri, maka kita bisa bertanggungjawab untuk ‘skup’ yang lebih besar lagi, termasuk tanggung jawab kepada masyarakat.


Fanny Febyanti
About the author:

Lulusan Universitas Padjadjaran

Motto : ”Do the best and let God do the rest.”

 

Read More >>

Comments

  • 1) :)

    Author: Ridho

    kayaknya penulis artikel "ngekost!!ga takut tuh??", termasuk salah seorang yg dapat menjawab pertanyaan pada alinea terakhir..

    good job

Add new Comment

 
 
 
 
 
 

RDBS Comment developed by Robert Deutz Business Solution

Artikel