Pilih Artikel yang anda inginkan...
Balada Anak Kost
Sepenggal syair lagu nasib anak kost yang dipopulerkan oleh Padhayangan Project pada era 90an menjadi gambaran yang cukup mengena bagi anak kost di masa itu. Namun kondisi ini bergeser di masa kini. Kalau kita perhatikan, kini istilah anak kost tak lagi mengenai kesengsaraan dan keprihatinan. Banyak rumah-rumah pemondokan macam indekost yang dilengkapi dengan fasilitas bak hotel berbintang.
Manajemen Keuangan ala Anak Kost
Operasi Yustisi: Kebijakan Basi Ladang Manipulasi
Berhubung FOKAL edisi kali ini mengangkat tema “Nasib Anak Kost”, maka ada satu hal yang perlu dibahas dan sudah tak asing lagi bagi anak kost, yaitu Operasi Yustisi. Status anak kost yang diemban oleh kawan perantauan yang sedang menempuh studi atau bekerja memang menjadi kesulitan tertentu. Karena dianggap sebagai pendatang, maka ada beberapa hal yang harus dipenuhi untuk tetap bisa berada di tempat tujuan. Pilihannya, membuat kartu tanda penduduk (KTP) lokal yang baru, atau membuat Kipem (Kartu Identitas Penduduk Musiman).
Anak Kost vs Anak Rumahan?
“Nasib anak kost…”, begitulah judul sebuah lagu parodi lawas yang diadaptasi dari sebuah lagu luar negeri. Liriknya terasa ‘nendang’ alias mewakili apa yang selalu dialami sebagian besar anak kost saat lagu itu populer. Pada kenyataannya isu seputar apa yang dialami oleh anak kost tak hanya diangkat dalam obrolan-obrolan antar sesama anak kost saja.
Ngekost? Ga Takut Tuh!
“Heh kamu tuh dimana sih? Ini udah masuk dosennya! Cepet dateng, slide presentasinya kan ada di kamu!” Teriak temanku diseberang sana lewat handphone. Dengan muka kucel, terpaksa aku berjingkat dari kasur menuju kamar mandi hanya untuk cuci muka. Tak terpikir lagi untuk mandi. Terlambat sudah. Itu salah satu pengalaman yang mungkin dialami oleh semua anak kost-an. Kesiangan bangun karena begadang semalaman mengerjakan tugas.
Mengejar Kesempatan dari Kamar Kos

Ada beberapa hal signifikan yang membedakan antara anak kost dengan anak rumahan. Salah satunya, anak rumahan tidak diperkenankan pulang larut malam. Anak kost? Ada saja yang memiliki jam malam namun kebanyakan tidak memberlakukannya, walaupun si pemilik kost sudah berkoar-koar sejak awal. “Gini lho dek, disini paling lama pulangnya jam 10, supaya tertib.” Apalagi bagi mereka yang tidak tinggal berdekatan dengan ibu kostnya, bisa-bisa hari berlangsung terbalik, “pergi malam pulang pagi.” Kalau sudah begitu, apa yang terjadi?
Comments
No Comments, be the first to Comment
Add new Comment
RDBS Comment developed by Robert Deutz Business Solution