21 Mei 1998, langkah rezim Orde Baru akhirnya terhenti. Gelombang demonstrasi yang menuntut sebuah perubahan signifikan, dilakukan mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintahan yang korup, keruntuhan ekonomi, kebrutalan militer (di Aceh dan Timor Timur), konflik berbau SARA dibeberapa tempat (Timor Timur, Kalimantan Barat, Situbondo, Tasikmalaya, Jakarta), gelombang tuntutan dilakukannya reformasi, tragedi pembunuhan mahasiswa Trisakti, serta kerusuhan masal 13-15 Mei 1998 di Jakarta, merupakan catatan hitam sekaligus pukulan telak terhadap rezim Orde Baru.
Peristiwa yang lebih dikenal dengan Reformasi 1998, merupakan buah dari upaya-upaya yang dilakukan oleh beberapa tokoh pergerakan pro demokrasi, terbuka dan pluralis. Ada juga beberapa tokoh yang berangkat dari basis organisasi keagamaan tertentu. Mereka sepakat, bahwa penindasan dan kesewenang-wenangan yang mengakibatkan ketidakadilan harus segera dihentikan.
Saat itu ada kekuatan-kekuatan yang memiliki dukungan massa dan menentang rezim Orde Baru, di antaranya, Abdurrahman Wahid (Oposisi Islam), Megawati (PDI), Muchtar Pakpahan (Buruh/PRD), dan Goenawan Mohamad (Komite Independen Pemantau Pemilu, 1995). Tentu saja, banyak aktivis lainnya turut berperan dalam melawan ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh rezim saat itu. Perjuangan para tokoh dan aktivis reformasi ini memang tak mudah. Berbagai upaya menjegal langkah mereka dilakukan, hingga beberapa aktivis harus kehilangan nyawa, dipenjara, diculik serta mendapat perlakuan tak manusiawi.
Jika kita tarik benang merah dari pergerakan 1998 kepada cita-cita para pejuang pendiri bangsa ini, maka jelas bahwa “kesejahteraan masyarakat, kebebasan mengemukakan pendapat, mencerdaskan kehidupan bangsa, menentang ketidakadilan dan diskriminasi” adalah hal-hal yang harus terus diperjuangkan.
Abdurrahman Wahid harus berhadapan dengan ICMI yang saat itu merupakan alat penting bagi Soeharto dalam mempengaruhi serta berupaya merangkul umat Islam guna mendukung keputusan politisnya. Megawati, yang namanya semakin populer di kalangan kelas menengah perkotaan dan pedesaan, serta kaum miskin kota Jakarta, juga mendapat ‘perlakuan kasar’ pada peristiwa 27 Juli 1996. Kantor PDI Megawati diserang oleh sekelompok orang yang mengaku dari fraksi Soerjadi.
Sementara, Muchtar Pakpahan, pemimpin pergerakan kalangan buruh yang menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD), ditangkap bersama sejumlah pemimpin PRD lainnya. Tuduhan kepada PRD adalah usaha untuk membangkitkan kembali komunisme ateistis. Sedangkan Goenawan Mohamad, dengan media informasinya yang kritis, mengalami tekanan dari pemerintah. Tahun 1994, pemerintah menarik SIUPP Tempo, majalah berita mingguan Indonesia. Apa yang dialami oleh empat tokoh di atas adalah simbol dari kesewenangan dan perlakuan kasar rezim.
Kita tak bisa menutup mata, bahwa ada sebagian aktivis 1998 yang saat ini lupa akan cita-cita awal reformasi, larut dalam gelimang aji mumpung yang ditawarkan. Takluk pada kepentingan diri, kelompok/sektarianisme bahkan kekuasaan. Taring mereka seolah-olah menjadi tumpul ketika masuk dalam lingkar sistem kekuasaan dan birokrasi yang cenderung korup. Meski demikian, para aktivis lainnya – dalam berbagai bidang kehidupan – masih tetap konsisten dengan perjuangan mereka untuk senantiasa berpihak terhadap kepentingan publik, kepentingan masyarakat yang terpinggirkan bahkan terlupakan keberadaannya.
Sosok berani seperti Widji Thukul – bekerja sebagai buruh dan penulis puisi – adalah satu dari sekian aktivis yang melandasi perjuangannya dengan merujuk pada cita-cita para pendiri bangsa ini: mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan cerdas. Seperti tertuang dalam sebuah puisinya (Bunga dan Tembok) melawan kesewenang-wenangan:
Tentu saja, niat dan cita-cita luhur saja tak cukup melahirkan jiwa kepahlawanan yang terus-menerus digempur beragam tantangan dan tawaran menggiurkan. Perlu perencanaan yang matang, strategi, implementasi, evaluasi, serta kesadaran untuk senantiasa merendahkan hati sambil terus berpartisipasi aktif dalam menjadi jawaban bagi pergulatan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi bangsa kita. Semoga.
Daftar Pustaka:
M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern: 1200 – 2008, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, November 2010.
Wilson (editor), Kebenaran Akan Terus Hidup, Jakarta: YAPPIKA dan IKOHI, Agustus 2007.