Walk for Justice and Peace: Nyala Lilin Perdamaian di Bandung

Walk for Justice and Peace: Nyala Lilin Perdamaian di Bandung

489
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Masih kurang dari jam empat sore di Sabtu itu (13/5). Ratusan orang sudah mulai memadati Taman Musik di Jl. Belitung, Bandung. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam dengan pita merah putih diikatkan di lengan kiri. Dengan patuh, sambil sesekali menyempatkan diri ber-selfie, mereka mulai menyusun barisan untuk long march.

Dari raut wajah dan atribut yang mereka kenakan, jelas sekali mereka berasal dari beragam latar. Tapi, di acara ini mereka tidak membawa bendera komunitas masing-masing. Mereka mau menyatakan solidaritas untuk NKRI. Demi tegaknya keadilan, demi kedamaian dalam keberagaman.

Tobing, orang yang ditunjuk sebagai kordinator lapangan aksi ini mengaskan ini bukanlah untuk mendukung satu atau dua orang saja. Namun didorong kepedulian akan kesatuan dan kedamaian NKRI.

Ada usaha memecah belah bangsa, disintegrasi… Upaya ingin menunjukkan agamanya lebih dari agama lain menunjukan sukunya lebih dari suku yang lain. Kita prihatin,” ucap Tobing disela-sela acara.

WfPJ 2

Tepat pukul setengah lima sore, jumlah peserta sudah membengkak mencapai seribuan orang. Mereka diberangkatkan bertahap dari Taman Musik menuju Gedung Sate, Jl. Diponegoro Bandung. Dalam perjalanan sekitar dua kilo meter itu, para peserta berlaku tertib. Tidak ada yel-yel. Mereka pun berbagi jalan dengan banyak pengguna.

Kota Bandung di malam minggu itu memang sedang ramai. Ada sejumlah acara yang terkonsentrasi di beberapa titik. Meski demikian, peserta dengan pakaian hitam, lalu dipimpin sub-kordinator lapangan dengan bendera merah putih itu langsung terlihat jelas.

Memasuki Gedung Sate, jumlah peserta terus bertambah menjadi sekitar dua ribu orang. Pukul setengah enam, acara di depan gedung ikonik kota Bandung itu langsung dimulai. Dimulai dengan pembacaan puisi dan menyanyikan lagu nasional, para peserta kompak mengikuti.

WfPJ 6

Sempat memberi jeda untuk kumandang azan maghrib. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyalaan lilin diiringi lagu Indonesia Pusaka. Lantas ada orasi dan ditutup dengan doa dari perwakilan berbagai agama yang hadir. Pukul enam lebih lima menit, acara sepenuhnya ditutup. Peserta membubarkan diri sambil menyanyikan lagu Halo-halo Bandung.

Dani, salah seorang peserta, mengaku amat terharu atas momen ini. Baginya apa yang disaksikannya saat ini adalah bukti bahwa kita masih punya harapan untuk Indonesai yang adil dan menghargai keberagaman.

Saya baru tahu rencana aksi ini tadi pagi. Saya langsung gabung begitu tahu ini aksi solidaritas untuk NKRI,” seru Dani mantap. **arms