Nasib Rangkong di Tengah Peringatan Hari Satwa Nasional

Nasib Rangkong di Tengah Peringatan Hari Satwa Nasional

626
0
Sumber foto: flickr.com/photos/donny
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Siapakah diantara kita yang masih ingat dengan hari Satwa Nasional? Setiap tanggal 5 Nopember masyarakat diajak bersama-sama untuk meningkatkan rasa peduli terhadap pelestarian dan perlindungan satwa nasional.

Satwa nasional, yaitu satwa-satwa yang berada di Nusantara, merupakan kekayaan Bumi Pertiwi yang hampir tiada batasnya. Bayangkan saja, setiap daerah berbeda yang ditemui, memiliki satwa khasnya masing-masing. Oleh karena itu, penyelenggaraan hari Satwa Nasional bertujuan untuk ‘menyatukan’ semua satwa yang berbeda-beda, di tempat yang berbeda pula, dengan cara melindungi dan membudayakan keberadaan mereka.

Sebagai seorang mahasiswa, sejujurnya, hari Satwa Nasional tidak pernah ‘mengendap’ di benak saya. Saat masih duduk di bangku SMA, guru saya pernah membahas tentang hal tersebut. Namun, sepertinya isu seperti pembudayaan satwa, khususnya satwa di Indonesia tidak pernah menjadi topik sehari-hari yang dibahas oleh orang awam, khususnya anak-anak young adults (bukan remaja, sedikit lebih tua dari anak remaja, tetapi lebih muda dari orang dewasa).

Sesampainya di bangku kuliah, isu seperti pelestarian satwa tidak pernah terpikir oleh mahasiswa/i. Sederhana saja, saya tanyakan kepada teman-teman saya apakah mereka mengetahui tentang hari Satwa Nasional atau tidak. Jawaban mereka pun rata-rata sama, “Tidak tahu!” Menjadi biasa saja saat hal tersebut ditanyakan. Justru saat mendengar jawaban, “Ya!” Saya cukup terkejut. Ternyata, jumlah mereka yang cukup tahu terhitung jari.

Indonesia dikenal sebagai negara yang cenderung bertemperamen ‘Sanguin’. Orang Sanguin terkenal akan sikapnya yang supel, suka bergosip, dan cerewet. Contoh yang paling nyata; salah perilaku sedikit saja, maka orang-orang di sekitar Anda akan mengetahui hal tersebut. Artis-artis dan selebrita pun tak luput dari kejaran paparazzi. Bahkan, banyak media yang memuat berita tentang rumor seorang artis hingga berpuluh-puluh kali.

Kesimpulannya, perkara kecil saja bisa menjadi rumor yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, apalagi yang besar? Sayangnya, perkara besar seperti pelestarian satwa nasional sepertinya terdengar terlalu basi di telinga manusia kekinian apalagi anak-anak.

Berbicara mengenai satwa, Indonesia adalah negara yang varian satwanya hampir tak terbatas. Contoh satwa yang cukup terkenal adalah burung enggang atau rangkong.

Rangkong merupakan unggas terkenal yang memiliki paruh besar dan cukup panjang. Keindahan paruhnya menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, banyak seniman yang melukiskan keindahan paruhnya. Dianggap sebagai focal points atau lebih tepatnya pusat perhatian.

Ada berbagai jenis burung rangkong. Mulai dari rangkong Sulawesi, rangkong Jambi, dan masih banyak lagi. rangkong dibedakan berdasarkan bentuk paruhnya. Berbeda daerah berarti berbeda juga paruh yang dimiliki, karena bentuk paruh burung menyesuaikan dengan daerah dan tempat tinggalnya.

Dua tahun yang lalu, pernah marak isu rangkong yang ditempatkan di Taman Nasional Kerinci Seblat, mengalami penurunan secara drastis. Meskipun taman nasional adalah tempat untuk melindungi dan mengembang biakkan hewan, namun rupanya tempat ini tak luput dari para pemburu. Rangkong-rangkong ini ditembak mati dan diambil paruhnya. Bahkan, paruhnya pun diimpor hingga ke negeri bambu.

Memang, hasrat membunuh demi kekayaan sangatlah kejam, mengingat bahwa Rangkong adalah burung yang sangat langka, dan populasinya mendekati punah. Bahkan, hampir 40 ekor rangkong dibunuh mati demi mendapatkan uang yang banyak.

Ironisnya, pemburu-pemburu rangkong merupakan orang-orang yang dimodali oleh pengusaha-pengusaha yang cukup kaya. Bayangkan saja, bagaimana mereka mendapatkan senjata yang memiliki kemampuan untuk menembak sedemikian banyaknya Rangkong?

Sungguh mengejutkan, mengingat bahwa pengusaha-pengusaha kaya bukanlah orang-orang tak berpendidikan, namun para konglomerat, orang-orang yang berada di strata “lebih dari cukup”. Apakah yang mereka miliki kurang sehingga mereka mengorbankan kekayaan Bumi Pertiwi demi kepentingan mereka sendiri?

Setelah dua tahun berlalu, muncul lagi isu yang cukup marak. Kali ini, orangutan! Orangutan memiliki habitat di Pulau Kalimantan, dimana Kalimantan adalah tempat yang cukup kaya akan sumber daya alam, misalnya sawit, karet, dan kertas.

Orangutan merupakan hewan primata, yang hidup di hutan hujan. Mereka yang jantan sering hidup menyendiri, sementara yang betina tinggal bersama anak-anaknya.

Orangutan memiliki tangan yang cukup panjang melebihi kaki, dan mereka senang bergelantungan, mulai dari 500 hingga 1000 meter di atas permukaan laut. Keberadaan orangutan dijadikan indikator sehat atau tidaknya sebuah hutan. Jika ditemukan banyak orangutan yang menempati sebuah hutan, berarti hutan tersebut cukup sehat.

Sayangnya, perkembangan jaman tidak berjalan seiringan dengan perkembangan alam. Teknologi makin berkembang, namun lingkungan tidak. Menurut konservator, orangutan mengalami perubahan status dari yang terancam menjadi sangat kritis. Populasi orangutan menurun, diakibatkan oleh hutan yang sering dibabat habis demi kepentingan industri, maupun hutan yang rusak karena pemanasan global. Padahal, orangutan lah yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan, khususnya di daerah Kalimantan.

Sebagai pemilik kekayaan Bumi pertiwi, sudah seharusnya kita merasa terancam apabila keberadaan mereka terancam.

Di hari Satwa Nasional 2016 yang lalu, kita diajak untuk melihat lebih dalam, apakah kita sudah menjadi warga Indonesia yang baik? Apakah kita sudah peduli akan lingkungan di sekitar kita?

Sebaiknya, kita sebagai warga tidak hanya tinggal namun tidak mengetahui keadaan tempat tinggalnya sendiri. Jangan pula kita menjadi warga yang merusak tempat tinggalnya sendiri, yaitu alam yang kita tempati, sehingga mengancam keberadaan satwa-satwa, khususnya mereka yang sudah terancam punah.

Yuk! Kita memulainya, menjadi warga yang tidak hanya tinggal, namun juga ikut merawat dan mempertahankan kekayaan negara kita sendiri, khususnya satwa-satwa Indonesia, karena mereka juga yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem demi kesejahteraan Indonesia!

Referensi:
https://m.tempo.co/read/news/2016/07/12/095787145/status-orang-utan-bergeser-dari-terancam-punah-ke-kritis
http://www.anneahira.com/orang-utan.htm
http://jambi.tribunnews.com/2014/06/20/satu-paruh-dibandrol-jutaan-rupiah