Menolak Menjadi Pelaku Eksploitasi Satwa

Menolak Menjadi Pelaku Eksploitasi Satwa

761
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Masih ingatkah rekan pembaca bahwa setiap tanggal 5 November diperingati sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional? Peringatan ini tiap tahunnya diadakan dengan mengangkat tema yang berbeda seputar pelestarian puspa dan satwa. Tujuannya tak lain untuk mengajak masyarakat Indonesia sadar dan peduli kelestarian berbagai jenis tumbuhan dan satwa di alam Indonesia.

Selain itu ditujukan pula untuk membangkitkan kepedulian semua pihak agar saling mendukung keberlangsungan hidup puspa dan satwa. Sekaligus digunakan untuk meningkatkan fasilitas yang dapat membantu keberlangsungan hidup puspa dan satwa itu sendiri.

Peringatan akan hari cinta puspa dan satwa nasional juga menjadi momentum untuk evalusasi bagaimana perlindungan puspa dan satwa di Indonesia. Apakah bentuk perlindungan yang ada sudah ditegakkan sepenuhnya atau masih sangat longgar sehingga sering diterobos.

Dari hasil evaluasi tiap tahunnya dicatat bahwa kerusakan yang mengancam keberlangsungan hidup puspa dan satwa kian meningkat. Kerusakan terbesar biasanya disebabkan oleh perilaku manusia yang cenderung ingin menguasai alam dengan cara merusak. Salah satunya adalah eksploitasi berlebih terhadap satwa di Indonesia.

Seringkali, kita secara tidak sadar menjadi pelaku eksploitasi satwa dan cenderung menikmatinya tanpa berpikir akan kesejahteraan satwa tersebut. Contoh kecilnya adalah saat berada di kebun binatang. Beberapa tahun terakhir begitu banyak kebun binatang yang tidak memenuhi standar dasar praktik yang sudah ditetapkan.

Standar dasar praktik yang ditetapkan ini adalah kewajiban manajemen kebun binatang untuk menjamin kesejahteraan satwa yang ada di dalam kebun binatang itu sendiri. Hal ini sangat penting guna menghindari kemungkinan terburuk yang dihadapi satwa saat tinggal jauh dari habitat aslinya.

Kesejahteraan satwa yang ditetapkan itu diantaranya adalah bebas rasa lapar, bebas dari sakit dan luka, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas berprilaku liar dan alami, serta bebas rasa takut dan stress. Namun, sayangnya standar dasar ini seringkali tidak diberlakukan dengan tegas. Akibatnya kesejahteraan satwa terganggu.

Bahkan seringkali, di dalam kebun binatang secara tidak sadar sebagai pengunjung kita telah melakukan ekploitasi terhadap satwa. Contohnya, tidak semua satwa terbiasa untuk berfoto dengan pengunjung, atau melakukan aneka animal show yang menjadi daya tarik kebun binatang tersebut.

Pada dasarnya, kebun binatang ada untuk menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sehingga memperoleh pengetahuan bagaimana satwa berperilaku, bukan memaksa satwa untuk melakukan kegiatan yang tidak menjadi kebiasaan aslinya di alam liar. Seringkali, hanya untuk mempersembahkan tontonan yang menarik kepada pengunjung satwa-satwa dipaksa berlatih hingga mengalami luka fisik dan stress.

Kegiatan ekploitasi semacam ini sebenarnya sudah diantisipasi dengan banyaknya pengaturan yang menjamin kesejahteraan satwa. Namun, pengaturan tersebut masih sangat lemah. Begitu banyak kebun binatang yang bahkan memiliki permasalahan manajemen dan standar dasar praktik masih beroperasi dengan bebas. Mengatasi permasalahan ini, pemerintah perlu menggandeng masyarakat untuk berperan aktif.

Namun, yang menjadi kendalanya adalah kepedulian dan kesadaraan masyarakat masih jauh dari harapan. Seringkali masyarakat melihat namun melakukan pembiaran. Sosialisasi yang kurang kepada masyarakat bisa jadi menjadi alasan pembiaran tersebut. Memang masih begitu banyak yang harus dibenahi. Salah satunya, pengaturan yang dianggap tidak bergigi itu pun harus lebih dipertegas lagi penegakannya.

Menekan angka eksploitasi bukanlah perkara yang mudah, namun dengan bahu membahu serta peka terhadap kesejahteraan satwa adalah jawaban untuk perbaikan kedepannya. Mari menolak menjadi pelaku ekploitasi satwa, sekecil apapun bentuknya!